Jendela kamarku bergetar saat aku membanting pintu kamar dengan rasa kesal yang tak tertahankan lagi. Bantal mickey mouse kupakai sebagai peredam tangisku. Sebenarnya aku dapat menangis sepuasnya, sekerasnya, sampai aku mual, berguling dari satu pojok ke pojok yang lain dalam kamar ini. Tapi aku sudah terbiasa menangis dalam diam, bahkan saat tak ada seorang pun dalam rumah ini. Aku terbiasa sendiri, itu menjadi bagian hidupku.
Setelah minum empat gelas air putih, aku merasa lebih baik. Namun, rasa kesal dalam hatiku tak juga hilang. Meyna, teman yang dahulu kuanggap bak malaikat , lagi-lagi membuatku muak! Saat pulang kuliah tadi, Meyna meminta Andrew untuk mengantarnya pulang. Dan Andrew dengan muka malu-malu, mengiyakannya. Segera saja kutarik tangan Meyna, dan meminta penjelasannya di pojok tempat parkir. Tentang fotonya dan Andrew dalam dompet pinknya, tentang sms dari Andrew, tentang kebenaran gosip yang beredar kalau dia dan Andrew sudah jadian, bahkan Meyna sendiri yang menyatakan cinta! Lututku lemas saat Meyna dengan senyum di bibir mungilnya mengatakan padaku bahwa itu semua benar. Dia juga bilang bahwa ia menyesal. Menyesal karena Andrew memilihnya, menyukainya, bukan memilihku yang telah memendam rasa pada Andrew selama dua tahun ini!
Semua kesalahan dan kelicikan Meyna, tiba-tiba saja berdesing dalam otakku. Dia menumpahkan vanila latte di rok biru kesayanganku, menjiplak karya ilmiahku, mematahkan pensil mickey mouse milikku. Ingin sekali aku meninggalkannya sendiri di hutan Kalimantan, dan tertawa terbahak-bahak saat dia berteriak-teriak karena takut ulat-ulat pohon dan takut dicakar singa. → Continue



