Tuhan Yang Seperti Itu

Category : Simply Articles

Saat saya menyaksikan tayangan yang memperlihatkan bagaimana indahnya pemandangan luar angkasa dari teleskop Hubble, saya terperangah.. Dan seketika itupun saya tersenyum :)

Saya tersenyum karena mengingat siapa yang berada di balik indah dan megahnya desain angkasa itu..

Ya.. Saya mengingat Tuhan.. Tuhan yang menciptakan semua benda-benda langit itu, yang mengatur lintasan planet, bulan, menata asteroid, memberi jarak jutaan tahun cahaya pada tiap-tiap galaksi, dan memberi detail lainnya pada luas angkasa yang tak terbatas itu..

Saya mengingat Dia..
Tuhan yang seperti itu luar biasa dahsyat kekuasaan-Nya, pengetahuan-Nya, megah-Nya, mau merendahkan diri, mengambil rupa seorang hamba, lahir melalui perawan Maria, dibaringkan pada sebuah palungan, berada pada tempat yang hina…

Untuk apa?

Untuk mengerjakan sebuah karya yang jauh melebihi karya-Nya di seluruh jagat raya angkasa – Karya Kasih-Nya bagi umat manusia..

Ia memilih lahir di tempat yang terlalu sederhana dan pada akhirnya menyelesaikan tugas – disalibkan demi menebus dosa manusia…

Hanya Tuhan yang seperti itu mengasihi kita sanggup membuat semua lutut bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Raja segala raja yang patut disembah :)

Yesaya 9:5 “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

By : LNY

=========================================================

Kami segenap FOS Community Team mengucapkan Selamat Hari Natal 2009^^
Semoga natal tahun ini akan selalu mengingatkan kita betapa karya Tuhan dalam hidup kita terlalu luar biasa untuk diabaikan..
Tuhan Yesus Memberkati :)

merry christmas

Cerpen – Hatimu, Ibu..

Category : FOSters Creativity

Untuk semua Mama, selamat “Hari Mama”. Pelbagai wejangan yang kami (benar, kami semua) terima, membuat kami semakin dewasa. Walaupun sedikit banyak kami membuat hari-hari Mama menjadi sepuluh kali lebih berat, Mama asyik2 saja tuh. Mama bukan Mama yang sempurna, tapi pasti yang terbaik yang kami miliki *Sejuta sayang dari kami untuk semua Mama*

Ibu, kita hidup dalam dunia patriarki, dimana kaum Adam lebih tinggi dari kaum Hawa. Lebih tinggi dari derajat, hak, dari cita-cita hidup. Apakah derajat? Hanya manipulasi yang mengatasnamakan kemanusiaan dalam hal tinggi dan rendah hidup manusia. Bahkan hak terdengar sebagai gema tanpa getaran, tak ada dampak, tak ada keseimbangan.

Mengapa tidak apa bila Ibu mencuci pakaian di rumah tetangga untuk makan hari ini, dan haram bila Ayah melakukan hal yang sama? Mengapa Ibu berkeringat dan Ayah tidur-tiduran di depan TV? Mengapa cap merah tangan Ayah boleh tergambar dalam pipi Ibu sedangkan Ibu hanya boleh diam, mengeluarkan air mata diam-diam?

Kita ini laksana pemain cadangan dalam sebuah pertandingan sepakbola, yang setelah berpeluh dan berlatih habis-habisan bahkan tak pernah menjejak rumput dalam satupun pertandingan. Kita ini bak karyawan yang duduk paling belakang dalam sebuah rapat yang kurang penting (karena bila rapat penting, jangan harap kita diundang) yang setelah lembur berminggu-minggu dan kantong mata lebam, bengkak, tak kunjung disebut namanya.

Ibu memasak. Ibu memperbaiki atap. Ibu mencuci di rumah tetangga. Ibu di dapur, di kamar, di kebun, di atap, Ibu dimana-mana. Ibu tidak makan, tidak apa-apa. Ayah belum disiapkan makan, ini bahaya.

Tak pernah Dinda sesalkan Ibu adalah seorang perempuan. Dinda hanya hancur, hanya tak berdaya. Apakah revolusioner yang menyerukan pembebasan? Kita ini masih terkungkung dalam sebuah tembok batako yang bernama keluarga, yang beratap kekhawatiran tentang apa yang akan kita makan. Kita kaum feodal, dipimpin oleh para bangsawan. Sistem tirani, jangan pernah sebut demokrasi!

Oalah Ibu, hentikan cintamu! Ayah tak akan pulang, hari ini, esok, lusa. Mengapa Ibu masih bersimpuh dan menyebut “suamiku” sambil meringis? Pikiran Dinda bias. Katakan pada Dinda dengan pelan dan lambat-lambat agar Dinda mengerti, kenapa Dinda harus menyapanya dengan kata “Ayah”? Ooh tidak Ibu, Dinda tidak membencinya, karena bahkan Dinda tidak mengenalnya.

Sekali lagi Ibu, tolong hentikan cintamu. Lutut Ibu sudah lecet dan harus segera diobati. Hati Ibu patah dan harus segera dilem. Dinda sudah mencoba untuk waktu yang cukup lama menyebut “Ayah” sambil bersimpuh, namun pintu tak kunjung terbuka dan menampakkan bayangnya. Mengapa Ibu, hatimu sekeras baja? Pikirmu seteguh tanduk rusa? Imanmu, ahh bagaimana Dinda menggambarkannya? Apakah Ayah akan pulang Ibu? Ahh, Dinda jadi berharap lagi…

***

mum_2Dinda, Ayah dan Ibu adalah satu, jadi bagaimana Ibu dapat berhenti lalu bersantai sambil minum kopi sedangkan separuh dari Ibu sedang mencari-cari jalan pulang? Ayah bukannya tak mau pulang, Ayah hanya sedikit lupa jalan pulang. Ibu tak boleh tertidur, karena saat Ayah pulang nanti, Ibu harus sudah ada di pintu untuk menyambutnya masuk. Ibu dan Ayah akan sangat senang bila Dinda mau bersama-sama menyambut Ayah di pintu. Kami adalah satu, kami sudah berjanji. Oh iya,  soal mencuci itu tidak jadi soal, bagaimana ya Dinda, habis Ibu senang melakukannya. Ahh Ibu jadi berdebar-debar, siapkan dirimu sayang, Ayah segera pulang.

Gadis Korek Api

1

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

little match girlDesember sudah datang dan suasana natal sudah mulai terasa di mana – mana. Di suatu kota, orang – orang berlalu lalang dengan membawa banyak belanjaan. Toko – toko penuh dengan cahaya lampu dan hiasan natal. Di pojokan jalan, tampak seorang gadis kecil sedang menawarkan barang dagangannya ke orang-orang yang lewat, walaupun sepertinya tidak banyak yang peduli pada tawarannya. Apa yang dijualnya? Ternyata yang dijualnya adalah korek api. Tidak banyak orang yang mempedulikan apalagi membeli barang dagangannya.

Seorang bapak-bapak tua dengan pakaian yang bagus menghampirinya dan berkata,

“ Hai gadis kecil, untuk apa kau menjual korek api? Itu barang yang tidak berguna. Kau lihat lampu neon yang kubeli ini? Ini barang teknologi tinggi yang jauh lebih berguna daripada korek api yang kau jual. Dan aku punya cukup uang untuk membeli teknologi ini, dan teknologi yang kubeli ini membuat rumahku terang dan aman. Tinggalkan saja korek api tu dan ikutlah ke rumahku dan kita bisa mengagumi hasil karya manusia yang membuat rumahku terang dan aman ini”.

Tapi gadis kecil itu tersenyum dan menolak dengan sopan.

Seorang pemuda yang berpakaian perlente dan sibuk berbicara di telepon genggamnya datang menghampirinya.

“ Hai gadis kecil, kenapa kau berdiri kedinginan di malam seperti ini menjual produk yang tidak menguntungkan?  Produk yang kau jual itu tidak menarik bagi masyarakat sekarang, di masa lalu mungkin itu laris tapi tidak di masa kini. Kalau tujuanmu ingin mendapat keuntungan, kenapa kau tidak mengikutiku saja? Aku akan memberikan produk yang lebih baik, yang lebih sesuai untuk selera masyarakat sekarang untuk kau jual. Dan aku yakin kau akan mendapat keuntungan yang banyak. Bagaimana? “

Tapi gadis kecil itu juga menolak dan tersenyum.

Seorang remaja yang berpakaian modis datang menghampirinya dengan muka heran.

“ Jaman sekarang masih ada yang jualan korek api? Kau ini benar-benar ketinggalan jaman. Sekarang bukan jamannya lagi anak muda berjualan korek api, ini jaman modern. Sama sekali ga keren jualan korek api itu. Kenapa kau tidak ikut denganku? Aku akan mengajarimu bagaimana seharusnya seorang anak muda hidup di jaman modern ini. Aku jamin pasti akan lebih menarik daripada berjualan korek api.”

Tapi, lagi-lagi gadis kecil itu tersenyum dan menolak.

Dan ketiga orang itu pu semuanya pergi dan gadisk kecil itu tetap berjualan.

Dan pada malam itu, terjadilah pemadaman listrik PLN ( yang sepertinya semakin sering mendekati akhir jaman ini ^^ ).

Dan lampu yang semula terang mendadak padam. Rumah yang terang dan aman mendadak menjadi gelap dan dingin.

Di usianya yang semakin tua ternyata tetap tidak membuat mata bapak tua itu menjadi lebih tajam, bahkan sebaliknya. Kegelapan membuatnya tidak dapat berjalan kemana-mana.

Teman bisnis yang berbicara dengannya di telepon juga tidak dapat membantunya menunjukkan arah.

Dan teman-teman sepermainannya sama-sama kebingungan dalam gelap, dan seperti orang buta menuntun orang buta, mereka semakin jauh tersesat.

Dan saat itu, tampak satu nyala api kecil di kejauhan. Ketiga orang yang tersesat ini melihat dan menghampiri terang itu yang ternyata gadis kecil tadi yang menyalakan korek api yang dipegangnya.

“ Kenapa kau masih berjualan di sini?”, tanya mereka.

“ Kami pikir kau sudah menyerah dan pulang, kenapa kau masih bertahan menjual korek api di tengah kegelapan seperti ini?”

“ Karena Terang paling dibutuhkan di dalam gelap”, jawab gadis kecil itu.

match__“ Aku tahu tidak banyak orang yang mencari Terang ketika kedaan tampak cerah dan aman. Karena itu, yang kulakukan adalah mempromosikan daganganku, supaya ketika gelap datang, orang-orang tahu kemana mereka harus mencari Terang. Dan sebagai penjual Terang, aku harus siap ketika orang-orang datang da meminta Terang yang kupunya.”

“ Tapi, orang-orang tidak mempedulikan dan mengejekmu. Apa kau tidak merasa sedih?”

“ Tidak apa. Aku tahu resiko pekerjaanku sebagai penjual Terang, seperti rumah sakit yang dijauhi kala sehat dan didatangi ketika sakit, aku tahu kalau orang hanya mencariku ketika gelap datang.”

“ Dan sekarang gelap telah datang, dan kami melihat nyala Api yang kau nyalakan”

“Jadi, sekarang bawalah Korek Api ini dan bawalah Terang ke rumah dan keluargamu, ke tempat kerja dan rekan bisnismu, kepada teman-temanmu supaya tidak ada lagi orang yang tersesat dalam gelap dan terhilang ke dalam gang sempit kotor dimana pencuri siap untuk merampas segala miliknya”

PS: Cerita gadis korek api ini sebenarnya berasal dari cerita anak-anak karangan Hans Christian Andersen yang kemudian saya modifikasi. Kalau mau baca cerita aslinya, ini link di wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/The_Little_Match_Girl.

Selamat Natal dan Tahun Baru buat semua.

Tukang Bakmi

Klarifikasi dan Permohonan Maaf

8

Category : inFOStainment

Shalom FOSters.. Di penghujung tahun ini kami ingin menyampaikan sebuah klarifikasi dan permohonan maaf. Di bulan May tahun 2009 kami pernah membuat sebuah artikel kesaksian yang berjudul Dewa Klasik Alexander – Ketika Kasih Karunia Menjadi Lebih Berharga. Ternyata kami mengetahui bahwa sahabat kami Dewa Klasik telah menarik kesaksiannya seperti yang dikutip pada blog Julita Manik – A Sorry Letter from Dewa Klasik

******

From: DEwa Klasik
Date: Fri, 13 Nov 2009 06:43:20

Saya ingin mengklarifikasi email yang beredar mengenai kesaksian saya. Ada banyak hal yang tidak benar. Dan itu bukan kesalahan siapa pun. Tapi kesalahan saya sendiri. Dengan ini saya sangat menyesal atas kesalahan yang telah saya buat dan saya bertobat dari kesalahan yang telah saya lakukan. Saya tau, hal ini akan mengecewakan banyak orang yang mengenal saya. Saya hanya bisa mengatakan maaf dan berikan saya kesempatan untuk memulai hidup baru untuk memperbaiki kesalahan yang saya buat. Saya minta maaf buat pihak yang merasa dirugikan atas kesaksian saya tersebut.

Saya berharap ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Saya berjanji hal ini tidak akan terulang lagi. Saya menyadari dengan kata maaf tidak cukup karena ada harga yang harus saya bayar dengan kesalahan yang sudah saya lakukan. Sekarang saya menanggung konsukensi dari apa yang telah saya buat. Namun saya bersyukur karena Tuhan masih memberikan kasih karunia kepada saya untuk memperbaiki semua ini. Saat ini saya ada dalam pengawasan dan mentoring oleh seorang hamba Tuhan. Saya berharap saya bisa bangkit kembali dan memulai kembali dari nol pelayanan yang telah saya tinggalkan untuk kurun waktu tertentu.

with love,

Dewa Klasik Alexander

******

Kami pun telah menarik kesaksian tersebut dari website dan notes Facebook FOS Community. Mungkin banyak yang merasa kecewa dengan hal ini tapi buat kami ini adalah sebuah pelajaran supaya kita bisa melihat jauh ke dalam lubuk hati kita masing-masing. Apakah kita benar-benar mengenal Tuhan Yesus secara pribadi atau kita hanya menggantungkan iman kita kepada kesaksian orang lain. Saat kita memiliki fokus hanya kepada Yesus, iman kita tidak akan mudah berguncang, berapa banyak pun pemimpin rohani yang jatuh kita akan tetap berdiri teguh karena kita mengenal Yesus dan selalu menjadikan Dia satu-satunya sumber pengharapan.

Dan untuk sahabat kami, Dewa Klasik. Bukan kali pertama seseorang mengecewakan sesamanya dan Tuhan. Bahkan di Alkitab terdapat banyak tokoh-tokoh yang terjatuh dalam dosa dan kesalahannya tetap dituliskan. Namun kisah hidup mereka tidak berhenti ketika mereka jatuh, mereka tidak lari dari konsekuensi dan menyerah, mereka bangkit dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang jauh luar biasa sehingga orang-orang dapat berkata “Dulu ia adalah seorang pezinah/penakut/pembunuh tapi kini ia membuktikan bahwa ia bertobat dengan sungguh-sungguh dan mengerjakan hal-hal yang luar biasa bagi kemuliaan Tuhan.”

Karena itulah kami akan  mendukung Dewa untuk tetap kuat menanggung konsekuensi dari kesalahannya dan menaruh pengharapan sebagai sahabat bahwa ia akan bangkit serta menunjukkan kesungguhan dari pertobatannya dan suatu saat mengerjakan hal-hal yang lebih dahsyat bagi kemuliaan nama Tuhan.

Untuk semua pembaca setia artikel-artikel dari FOS Community, kami dari tim redaksi memohon maaf atas artikel tersebut dan ke depannya kami akan berusaha untuk lebih berhati-hati dan teliti dalam membuat sebuah artikel kesaksian.

Buat semua FOSters, semoga klarifikasi ini tidak akan membuat semangat natal kita memudar :)

Jesus Loves U all..

FOS Community

Cerpen : Lengkung Sempurna

1

Category : FOSters Creativity

Rena kecil bersandar pada kursi kesayangannya. Matanya yang bulat bercahaya memandang rintik-rintik hujan yang turun dengan rapi dari langit. Rambutnya bak tirai hitam kemilau tertimpa sinar lampu, beberapa helai rambut terurai pada pipinya yang lembut dan merah jambu. Bibir tipisnya melantunkan lagu yang dikarangnya sendiri. Dua ibu jari tangan yang dimilikinya, hanya dua dari sepuluh yang seharusnya, bergerak-gerak seirama seturut alunan lagu yang dinyanyikannya.

Matanya terbelalak kagum saat seberkas warna pelan-pelan muncul di langit. Melengkung sempurna dengan kemilau jingga, hijau, merah jambu dan biru. Rena kecil menempelkan wajahnya pada kaca jendela, ingin melihat lebih jelas rupanya. Rena kecil berusaha turun dari kursi kesayangannya, tapi ia tidak punya jemari kaki, juga telapak kaki. Beruntung sang Ibu datang tepat waktu dan membawa Rena kecil menuju beranda untuk melihat lengkung sempurna di langit.

window rainbow

“Ibu, siapa yang menggambar langit dengan crayon?” Rena kecil bertanya pada Ibunya.

“Oh, Seorang yang sangat luar biasa”. Ibunya menjawab sambil membelai rambutnya bak tirai hitam kemilau yang tertimpa sinar lampu.

“Benarkah?”

“Tentu sayang”.

“Mengapa Dia menggambar di langit? Rena punya buku gambar yang bagus”.

“Mengapa? Agar semua orang dapat melihat keindahannya, Rena sayang”.

“Rena senang melihatnya”.

“Ya, Ibu juga”.

“Oh, Rena ingat sekarang. Pasti yang menggambar itu adalah Tuhan yang seringkali Ibu ceritakan. Benar kan Bu?”

“Benar, Rena anak pintar”.

“Rena tidak bisa menggambar seindah itu, tapi Tuhan bisa. Pasti ada yang membuat-Nya senang. Rena bisa gambar bagus kalau Rena sedang senang”.

Ibunya tersenyum dan menjawab, “Ya sayang, ada hal besar yang terjadi di Sorga dan membuat-Nya senang. Tahukah Rena apa yang membuat-Nya senang?”

Rena kecil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Karena ada seorang anak cantik yang sedang melihat ke langit dan senang melihat gambar-Nya”.

“Benarkah Ibu?”

“Tentu sayang, dan apakah Rena tahu yang lebih indah dari warna-warna di atas sana?”

Rena kecil kembali menggeleng kuat-kuat.

“Oh, adakah yang lebih indah lagi Ibu?”

“Tentu Rena sayang, yang jauh lebih indah dari warna-warna itu, adalah Rena sendiri”.

Rena kecil terbelalak heran.

“Benarkah Ibu? Rena lebih indah?”

Ibu mengangguk, tersenyum dan berkata, “Tuhan menggambar warna-warna itu untuk Rena, untuk anak tercantik yang sangat disayangi-Nya”.

Rena kecil kembali memandang warna-warna di langit, senyumnya mengembang, lebih indah, jauh lebih indah dari warna-warna di langit sana.

Rena kecil kini sudah besar. Tumpukan diagram dan kertas-kertas penuh garis mengisi hari-harinya. Rena tidur larut, Rena bangun pukul tiga pagi, Rena tenggelam dalam diagram dan kertas-kertas penuh garis. Rena besar bersandar pada kursi kesayangannya, menarik napas sepanjang yang ia mampu. Hujan yang rapi turun dari langit, membawa warna-warna yang membentuk lengkungan dari ujung ke ujung langit yang lain. Rena besar meletakkan penanya dan memandang ke langit. Beberapa kali ia melihat warna-warna di angkasa, tapi semua lengkungan warna tak lagi terasa istimewa pada masa-masanya belakangan. Ia rindu, sangat rindu, memandang warna-warna itu dari mata seorang gadis kecil, memberi waktu yang tulus untuk warna-warna di langit. Ia ingin, sangat ingin, melihat warna-warna menakjubkan dari hati gadis kecil, tak ada kesombongan, hanya kekaguman.

Mutiara menitik dari mata Rena yang bulat bercahaya. Rena rindu hari-harinya yang teduh, Rena rindu Ibu. Seperti bunga mawar dengan tetesan embun, Rena tersenyum dan berkata, “Ibu, suatu hari nanti kita akan menikmati kembali warna-warna di langit, bukan hanya kita berdua Bu, tapi kita bertiga. Rena, Ibu, dan Tuhan”.

Rena besar terlelap dalam sejuknya hari setelah rintik-rintik hujan yang rapi.  Lengkung sempurna di langit turun ke bumi, dan menetap dalam senyum Rena.

E.N.S

Pohon Terang.. Pohon Terang.. Sungguh Indah Rupamu..

Category : Simply Articles

Wah nggak terasa yah udah masuk ke bulan natal, pohon natal sudah dipasang, lagu-lagu natal sudah mulai didendangkan, beberapa hadiah natal untuk someone special juga sudah mulai dibeli, dan yang nggak kalah seru, rapat natal juga sudah mulai digelar untuk melakukan perayaan natal di gereja, persekutuan atau komunitas masing-masing. Wah serunya natal kali ini.

Ngobrol-ngobrol, siapa yang pernah denger Judul di atas tuh? Aku ingat sekali waktu kita kecil seringkali menyebut pohon cemara buatan yang dipajang di rumah pada saat natal adalah pohon terang, kenapa terang? karena ada lampu-lampu kerlap-kerlip yang dipasang melilit pohon itu sehingga saat dinyalakan lampunya terlihat sangat menarik. Kadang ada beberapa lampu yang disertai musik pengiring supaya lebih menarik.

Pernah suatu ketika, saat membantu mama memasang pohon terang itu, ternyata saat dicoba dinyalakan lampunya, tidak semua lampu menyala, bahkan lebih banyak yang mati daripada yang nyala, dan tidak ada kerlap-kerlip yang terlihat, sehingga tidak indah lagi. Dan alhasil, keesokan harinya, aku disuruh mama menjelajah ke berbagai toko buku rohani di manapun, untuk mencari lampu yang baru, supaya pohonnya kembali terang dan indah dipandang. Dan setelah diganti dengan yang baru, pohon itu kembali menjadi indah dipandang, menyejukan hati, memberikan arti dan membuat suasana rumah lebih indah pada waktu malam.

Sedemikian penting arti lampu natal di sebuah pohon, sampai-sampai kita rela menjelajah satu per satu toko buku, mencoba semua jenis lampu yang ada di sana, untuk membuat indah pohon yang hanya berwarna hijau atau putih itu. Terang itu menarik lho, makanya nama pohon natal itu adalah pohon terang, bukannya pohon gelap.

Kalo terang begitu penting bagi sebuah benda mati, sebuah pohon, yang seringkali kita lambangkan untuk natal, atau kita pasang di rumah kita saat natal, pastinya terang juga luar biasa penting bagi kita, bagi hidup kita, anak-anak Allah. Jangan lupa terang itu menarik lho. Terang itu membuat suasanan menjadi “lebih hidup’. Terang membuat orang tertarik.

Seberapa terangkah cahaya Kristus memancar dari kehidupan kita sehingga banyak orang yang tertarik untuk melihat dan mengenal pribadi yang pernah menjadi manusia, pernah menjadi bayi yang lahir di palungan itu, untuk menebus dosa kita semua?

Seberapa kerlap-kerlipkah diri kita, karakter kita, hidup kita, sehingga saat ada seseorang yang sedang berada dalam kegelapan, langsung melihat dan menuju ke arah, darimana cahaya itu berasal ? Trus gimana caranya menunjukan terang itu ??

I want tell you about this, terang itu tidak kita tunjukan secara sengaja, tetapi memancar keluar dari hal-hal yang kita lakukan sehari-hari, dari hal yang paling sederhana, contohnya tersenyum dengan orang yang mungkin tanpa sengaja memandang kita, kenal atau tidak kenal.

Menunjukan semangat kerja atau belajar kita di kantor/sekolah/kampus, atau juga berani berkata tidak untuk mencontek atau memberi contekan, atau membuat suasana di sekitar menjadi lebih ceria dengan kehadiran kita, atau mengucapkan selamat pagi, siang, atau sore terhadap tukang parkir di sekolah/kampus kita, satpam, Office Boy/Girl di kantor, kepada pengamen yang secara tidak sengaja kita temui, kepada rekan kerja, kepada bos yang nyebelin, kepada temen yang mukanya paling jutek sedunia, atau kepada siapapun.

Ingat guys, terang akan membuat seseorang tertarik, jadi nggak perlu yang namanya iklan, promosi, atau musim diskon untuk yang namanya terang. Dan bukan kita yang memancarkan terang itu, tetapi Yesus yang ada dalam kita, so it all about Jesus not us. Selama kawat-kawat tipis yang ada dalam sebuah lampu itu masih terhubung satu sama lain, maka saat dialiri listrik akan nyalalah lampu itu, sama juga dengan kita, saat kita tetap dan terus terhubung sama Tuhan, rajin saat teduh, memiliki hubungan yang dekat dan intim dengan Dia, maka saat Tuhan mengijinkan kita bertemu dengan orang-orang di sekitar kita, saat itulah terang itu akan terpancar.

Pohon terang… pohon terang sungguh indah rupamu

Gimana kalo kita gubah sedikit liriknya, kayaknya akan lebih bermakna untuk moment natal ini,

Hidup terang… Hidup terang… Sungguh indah kasihNya

Jangan cuma pohon aja yang terang di natal kali ini, tapi jadilah “pohon-pohon” siap untuk terang terus bagi sekeliling kita. Okeh..

>> “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16) <<

By : KSW

Menjadi Sahabat Terbaik

Category : Asides

Seorang sahabat yang akan bertumbuh menjadi sahabat terbaik adalah mereka yang membuka dirinya terhadap sahabatnya. Saat-saat kesukaran ia tidak mengurung diri atau menjauh dari sahabat-sahabatnya. Justru ia mencari pemulihan dari Bapa melalui orang-orang di dekatnya, membiarkan dirinya diinspirasi dan disentuh oleh dampak dari sahabat-sahabatnya, dan meneruskan pemulihan itu bagi mereka yang membutuhkan.

Amsal 17:17. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

17:17. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Saat persahabatan dimulai dalam sebuah Unforgettable Moment

3

Category : Eventgelism

Momen apakah yang paling berharga di dunia ini? Saat melihat foto-foto Friendship Evangelism Camp 27-29 November 2009 kemarin (yang juga udah di-upload di facebook), aku menyadari kalo ternyata tuh yang diabadikan selalu momen-momen berharga yang nggak terlupakan yah…

Kenapa kita mengabadikan suatu momen? Karena di kemudian hari pasti kita ingin punya kenangan yang nggak terlupakan dengan momen itu. Kita selalu punya foto-foto kelahiran, foto wisuda, foto retreat, foto baptisan, foto bareng keluarga, foto bareng sahabat, dan foto yang mengabadikan momen-momen bahagia lainnya. Kita nggak pernah tuh nyimpen foto waktu kita lagi ngambek, atau foto kita lagi berantem sama sahabat, atau foto-foto yang berisi momen-momen menyedihkan lainnya.

Yah guys, kita selalu ingin mengingat saat-saat berharga. Waktu kita bertobat dan lain sebagainya. Kita nggak pernah ingin mengingat masa-masa terburuk dalam kehidupan kita. Saat aku melihat betapa banyaknya foto Friendship Evangelism Camp kemarin, aku percaya itu bukan karena ada panitia yang kurang kerjaan sehingga foto-foto terus, atau bukan karena terlalu banyak orang narsis yang ikut camp ini (hehe, bercanda…), tapi karena begitu banyak momen berharga yang ingin kita ingat dari camp ini.

Saat hari pertama kita telah merasakan bagaimana atmosfer persahabatan dibangun, lalu pemulihan hati Bapa, saat-saat fellowship dengan sahabat-sahabat baru. Kita tertawa dan menangis bersama di FEC, kita lewati suka dan duka bersama, kita tenggelam dalam hadirat Tuhan, kita ambil komitmen sama-sama, dan kita juga diutus untuk menjadi Friendship Evangelist, sahabat-sahabat yang terbaik di dalam Tuhan. Sahabat, semua itu telah kita lalui bersama, dan pastinya kita ingin FEC nggak hanya untuk sekedar berlalu. Apa yang telah kita alami di sana, sangat berdampak di dalam hati setiap kita yang hadir, dan nggak terlupakan sampai hari ini.

Banyak peserta yang nggak tahu kalo panitia sangat berjuang keras agar camp ini bisa jadi dilaksanakan. Tiga minggu sebelum acara, peserta baru 10 orang, itupun panitia semua. Terjawab saat seminggu sebelum acara, peserta telah jadi 80 orang lebih. Karena banyak yang cancel, akhirnya jadilah 70 orang peserta yang ikut. Hari ketika berangkat, panitia masih kekurangan dana 13 juta. Kami nggak tahu dari mana akan dapat segitu banyak. Bahkan sampai hari kedua dan ketiga, dana yang diharapkan nggak kunjung tiba. Dalam kondisi seperti itupun, kami merasakan tuntunan tangan Tuhan yang dahsyat. Kami harus tetap bisa tersenyum dengan tulus, tetap memberikan yang terbaik bagi semua peserta, menjaga atmosfer rohani supaya nggak nge-down, dan semua bagian acara dapat berlangsung dengan sangat indah. Singkat cerita, hari ketiga setelah selesai outbound, tepat sebelum pulang, ada donatur yang Tuhan pakai untuk transfer dana sesuai kebutuhan kami. Wow! Tuhan itu emang baik banget. FEC yang tadinya udah hampir mustahil jadi dilaksanakan, ternyata benar-benar menjadi unforgettable moment di hati setiap orang yang ikut.

Pastinya kita ingat kalo masih banyak sahabat kita yang kurang diperhatikan di luar sana, temen-temen kita yang merasa di-reject atau di-ignore oleh lingkungannya, mereka yang butuh uluran tangan yang menolong saat mereka lemah, guys, di situlah kita harus masuk ke dalam hidup mereka, dan menjadi jawaban. Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan menjadi sahabat-sahabat terbaik bagi orang-orang di sekitar kita. Biarlah Injil diberitakan bagi generasi kita, pertama-tama bagi orang-orang yang terdekat dengan kita, yaitu keluarga dan sahabat-sahabat kita. Ingat selalu akan momen-momen yang berharga ini. Sahabat, dunia tidak akan pernah sama lagi dengan kehadiran kita yang membawa kabar baik. Setelah camp ini, yuk kita ingat dan lakukan setiap komitmen yang udah kita buat. Ingatlah bahwa dunia ini butuh lebih dari sekedar diinjili dengan khotbah, tapi dunia ini membutuhkan sahabat-sahabat yang rela memberikan hidupnya agar kita menyatakan Tuhan Yesus, Sahabat yang sejati.

Persahabatan yang udah kita mulai di FEC dengan sahabat-sahabat baru kita, pertahankan itu dengan sungguh, karena suatu saat nanti ada saatnya dimana kita tidak akan bisa berdiri sendiri lagi, dan saat itu terjadi, yang akan berdiri bagi kita adalah sahabat-sahabat terdekat dan orang-orang yang kita kasihi di sekitar kita. Biarlah bukan hanya sekedar foto yang mengabadikan persahabatan kita, namun persahabatan kita menjadi hal yang abadi dalam hati setiap orang yang disentuh kasih Allah melalui kehadiran kita bagi sahabat kita setiap waktu dan dalam setiap kesukaran, itulah yang membuktikan pada dunia bahwa persahabatan kita abadi di dalam Tuhan.

fec2009

“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku…” (Yoh 15:13-14a)

See u guys at the next Unforgettable Moment… Saat itu tiba, biarlah lebih banyak lagi sahabat kita dimenangkan dalam kasih Tuhan, kasih Sang Sahabat Sejati, Kasih yang terbesar. Amin.

_Y.K.T_