Tekhnik Membelah Roti

Category : Asides, Pojok Tukang Bakmi

Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam? Mudah. Jatuhkan sehelai rambut ke atas mata pisau, jika rambut terpotong dengan sendirinya berarti pisau itu cukup tajam. Kalau tidak terpotong? Asah lagi sampai tajam. Kalau sudah, kita potong roti itu jadi 2.

Masalahnya, supaya adil berarti ke dua bagian yang terpotong harus sama beratnya kan? Kelebihan atau kekurangan 0.0000000000001 gram saja berarti sudah tidak adil kan?

Dan supaya adil, pastinya kedua bagian roti harus sama enaknya. Kan enggak adil kalau satu bagian sedikit hangus atau bantat sementara bagian lainnya matang sempurna. Dan pastinya jumlah coklat di dalam masing-masing bagian juga harus sama banyak dan enaknya kan?

Itu baru masalah fisik roti, belum orang yang akan menerima roti itu sendiri. Kalau salah satunya anak kecil sedangkan yang lainnya orang dewasa, bagaimana supaya adil membaginya? Apakah adil membagi roti jadi 2 bagian sama besar? Ataukah harusnya yang lebih tua mendapat bagian lebih banyak? Atau harusnya yang anak kecil karena badannya lebih kecil? Tapi bukankah orang dewasa badannya lebih besar yang berarti butuh lebih banyak energi sementara anak kecil dengan sedikit roti pun mungkin sudah kenyang? Atau justru anak kecil harus lebih banyak karena dalam masa pertumbuhan dan butuh lebih banyak makanan?

Bagaimana kalau penerima roti itu pria dan wanita? Haruskah pria lebih banyak karena wanita makan lebih sedikit? Sayang kan kalau sisa rotinya dibuang? Belum lagi kalau yang perempuan sedang diet. Atau karena emansipasi keduanya harus dapat bagian yang sama besar? Sekalipun mungkin sebagian akan dibuang?

Dan bagaimana pula kalau salah satu pihak tidak terlalu suka roti? Apakah yang suka roti harus mendapat bagian lebih banyak? Tapi kan suka atau tidak suka roti, kedua pihak tetap harus mendapat bagian yang adil kan? Tapi adilkah kalau pihak yang menginginkan harus melihat barang yang diinginkannya dibuang oleh orang yang tidak suka?

Menyiapkan roti – sudah!

Menyiapkan pisau pusaka – sudah!

Membagi 2 dengan adil – ??? Apa yang disebut adil itu?

Tuhan yang mendatangkan bencana alam yang menimpa orang baik dan orang jahat.

Tuhan yang menyediakan matahari yang menumbuhkan makanan bagi orang jahat dan orang baik.

Tuhan yang membuat anak – anak terlahir sehat tapi juga terlahir cacat.

Tuhan yang membuat neraka bagi orang-orang yang menolakNYA.

Tapi Tuhan yang sama juga mengorbankan diri buat orang-orang berdosa itu supaya mereka bisa tinggal di surga.

Tuhan yang mendatangkan air bah dan Tuhan yang merancang bahtera.

Tuhan yang membebaskan Israel dan mendatangkan tulah Mesir

Tuhan yang bertaruh dengan iblis dan menghajar Ayub.

Tuhan yang membimbing Mother Theresa dan Tuhan yang membiarkan phedofil menjual foto korban mereka di internet.

Apakah Tuhan adil?

Tapi ketika kita menemui kesulitan dalam konsep keadilan bahkan ketika kita ingin memotong roti, bagaimana kita bisa menilai keadilan Tuhan?

Ketika kita kesulitan mengatur keluarga kita sendiri, bagaimana kita bisa memerintah Tuhan mengenai bagaimana mengatur dunia?

Karena Tuhan adalah Tuhan dan Ayub adalah manusia.

Dan supaya Ayub mengerti itu, Tuhan menghabiskan 4 pasal (Ayub 38-41) untuk mengomeli Ayub dari dalam badai, Dan sekali lagi Tuhan menyatakan dirinya adalah Allah yang membentuk bumi ini dan Ayub yang mungkin saat itu gemetar menyadari kalau dirinya yang belum pernah turun ke dasar laut mencoba menghakimi Pencipta laut itu sendiri.

Ketika Ayub membawa pertanyaan mengenai penderitaan dan ketidakadilan, Tuhan tidak mengambil papan tulis atau memutar slide pertemuannya dengan iblis. Tuhan adalah Tuhan, Dia tidak perlu menjelaskan soal perbuatanNYA. Dia tidak berhutang kepada kita dan tidak punya kewajiban untuk menjelaskan. Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil, semuanya kepunyaan Dia.

Tuhan tidak perlu menjelaskan diriNYA, bumi ini sendiri adalah bukti keTuhananNYA. Jangankan menciptakan bumi, kita bahkan belum sanggup mengebor sampai ke inti bumi atau mengendalikan pergerakan lempeng benua. Tapi, seperti Ayub, bahkan mungkin lebih kasar darinya, kita menyebut Dia bodoh dan tidak kompeten. Dan dengan membawa roti yang berantakan terpotong-potong, kita menghadap Tuhan dan berkotbah mengenai keadilan.

Ayub melakukan hal itu, dan seandainya saya Tuhan, saya akan lemparkan dia ke ujung semesta karena berani mempertanyakan keputusan Pencipta Alam Semesta. Tapi, saya bukan Tuhan dan Tuhan jelas bukan saya. Dan karena itu Tuhan mengampuni Ayub, dan karena itu Tuhan menjelaskan dirinya lewat Yesus, dan karena itu Tuhan mati di kayu salib.

Karena Tuhan adalah Tuhan

Ayub 11:7-9 Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit–apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati–apa yang dapat kauketahui? Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera.

Ditulis oleh Tukang Bakmi untuk BASH

Cerpen : (Mungkin) Aku Tidak Bisa..

2

Category : FOSters Creativity

Tak lama kemudian tangisnya pecah dan ia berlari dengan mata terpejam. Karena matanya terpejam dan kakinya terus berlari, ia tersandung. Ia tersandung dan yang lain tertawa kian keras. Ia tersandung maka ia menangis kian keras. Aku diam, tak tertawa, tak menangis. Kusaksikan Tasya di teriakkan “monster kelinci” karena kedua gigi depannya lebih besar dari gigi yang lain, dan karena tubuhnya lebih besar bahkan dari anak laki-laki. Itu terjadi tiap hari sampai Tasya pindah rumah. Tak ada lagi teman bermain “ibu-ibu-an”. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku masih kecil, masih tujuh tahun.

Aku bukan satu-satunya yang tahu di dunia ini. Tapi semua orang hanya diam. Saat gambar tangan kepala sekolah menempel jelas pada pipi Michael, kami hanya menarik napas tertahan. “Bukan Michael yang pakai uang tabungan kelas kami selama satu tahun, Bapak Kepala Sekolah. Bukan!! Yang pakai Pak Joni wali kelas kami!!”, aku ingin berteriak begitu, tapi aku tidak bisa. Karena aku murid SMP dan dia guru.

Masih merah dan basah. Rupanya ia begitu kesal dan marah hingga ia mencakar-cakar lengannya tanpa sadar bahwa itu sakit. Katanya ia sayang ibunya dan ibunya sayang padanya. Hanya saja saat itu ibunya mabuk dan untuk kesekian kalinya ibunya menyeretnya untuk tidur di halaman, tanpa bantal. Tiga minggu kemudian seorang yang lain menunjukkan luka di nadi tangannya. Ia bilang ia hampir mengiris uratnya, tapi tidak jadi karena ia takut, sangat takut. Ia juga bilang beberapa hari belakangan ia tidur dengan pisau dapur di bawah bantalnya, kalau-kalau Ayahnya mengamuk lagi, maka keputusannya sudah bulat untuk mengiris uratnya. Tiga kesamaan dari mereka adalah: mereka berdua perempuan, mereka berdua sahabat baikku, dan kami sembilan belas tahun. Aku hancur, karena aku tak bisa melakukan apa pun, aku tak bisa mencampuri masalah keluarga orang lain.

Ku lihat tangannya masuk ke tas pengunjung toko itu. Sebuah dompet ungu dengan hiasan bunga mawar berpindah dengan cepatnya ke dalam jaket kulitnya. Aku tak bisa mencegahnya. Karena dia laki-laki dan aku perempuan.

Bibirnya gemetar dan napasnya tersengal. Ia bilang ia ingin bercerai karena suaminya seringkali memukulnya. Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Ini antara anaknya dan suaminya.

Cucuku menjerit. Cucuku sakit, kanker. Jarum suntik menusuki tubuhnya, senantiasa. Ia masih sembilan tahun, ia perempuan, dan ia cucu yang paling ku sayang. Biarkan tubuhku yang hancur, tapi jangan cucuku! Aku yang renta tak bisa berbuat apa-apa. Aku bukan Tuhan.

Disini aku terbaring. Setiap kali aku menarik napas, aku serasa mengangkat seember cucian. Mataku tak dapat melihat dengan jelas, hanya terdengar desah napas suamiku yang duduk di kananku. Sepi sekali disini, dan aku dapat mencium aroma bunga pemakaman.

Tanpa sadar, pikiranku melayang bebas ke masa lalu. Seandainya, waktu itu aku dapat berlari mengejar Tasya, dan mengatakan kalau aku lebih suka bermain ibu-ibuan dengannya dibanding bermain dengan anak-anak yang selalu mengejeknya. Seandainya aku melakukannya, mungkin, hanya kemungkinan, Tasya tidak akan pindah dan aku tidak akan menangis.

Seandainya aku mengatakan Pak Joni yang memakai uang kelas, mungkin Michael tidak akan dipermalukan, dan hatiku tidak akan retak melihat laki-laki pertama yang kusayangi difitnah seperti itu.

Kalau saja aku memberikan waktu sedikit lebih banyak, seandainya aku lebih sering mengunjungi mereka, seandainya aku lebih memilih berbicara dengan mereka dibanding mengerjakan artikel yang saat itu kupersiapkan untuk kukirim ke koran, mungkin kedua sahabatku tidak melukai tubuh mereka dan mencoba untuk mati.

Aku rindu sahabatku, anakku, cucuku, bahkan orang-orang yang tidak kukenal. Air mata mereka jatuh ke bahuku, dan aku tak dapat berkata apa pun, tidak melakukan apa pun. Kini aku kesepian, dan dalam waktu dekat suamiku juga akan kesepian. Dalam diam, aku menangis dan merasa hancur. Apa yang dapat kulakukan untuk suamiku? Tidak ada, karena aku hampir mati.

Seringkali kita memutuskan “aku tidak bisa. Tidak bisa karena aku masih muda, karena aku perempuan, aku terbatas, aku tidak kaya”, dan daftar panjang lainnya. Kini pikir kembali, benarkah demikian? Sebelum terlambat , pikirlah! Yang berlalu tidak akan kembali, dan yang terlambat akan sangat sulit diobati. Penyesalan akan sesuatu yang tidak kita lakukan akan terasa berkali lipat lebih menyakitkan dibandingkan bila kita melakukan hal yang kita yakini, walaupun hal itu tidak diingat orang, walaupun hal itu terasa tak berharga. Nah, sudahkah kita mengambil keputusan?

Pengkhotbah 6:12 “Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia?”

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Jadilah Tenang

1

Category : Asides

Hari ini, pas lagi membaca sebuah buku, ada sebuah cerita yang menarik bagiku, agak sedih sih, tapi kita bisa belajar sesuatu dari kisah ini.

Seorang janda miskin bernama Siu lan memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun yang bernama Lie Mei. Kemiskinan memaksanya membuat kue dan menjajakannya untuk biaya hidup mereka berdua. Tidak seperti anak pada umumnya, hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.

Pada suatu malam di musim dingin, tepatnya musim salju, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Siu Lan berpesan kepada Lie Mei, anaknya, untuk menunggu di rumah karena akan membeli keranjang baru.

Saat pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di tumah. Siu Lan menjadi marah. Putrinya benar-benar tidak tahu diri. Sudah Hidup susah, masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah sesuai pesannya.

Dengan kesal Siu Lan menyusun kue-kuenya ke keranjang barunya, dan pergi menjajakan kue di tengah badai salju. Yah mau bagaimana lagi, mereka harus mendapatkan uang untuk makan.

Namun sebagai hukuman, pintu rumah di kunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang dari menjajakan kue, Siu Lan menemukan putrinya tergeletak di depan pintu, membeku dan sudah tidak bernapas lagi. Jeritan Siu lan membelah kebekuan salju. Ia menangis meraung-raung, namun tetap Lie Mei tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membawa anaknya masuk untuk menghangatkannya.

Siu Lan mengguncang-guncangkan tubuh Lie Mei, namun tidak ada gerakan. Dan tiba-tiba sebuah bungkusan kecil terjatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan membukanya, ada sepotong biskuit kecil dibungkus dengan kertas yang ada tulisannya. Itu adalah tulisan Lie Mei dalam kertas usang, dan saat Siu Lan membacanya, dia hanya terdiam penuh penyesalan, karena itulah tulisan terakhir yang dia baca dari anaknya.

“ Hi..hi… mama pasti lupa. Ini hari istimewa bagi mama. Aku membelikan biscuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup membeli biscuit yang besar. Hi..hi… Mama, selamat ulang tahun….”

Sahabat mungkin terharu bahkan menitikan air mata saat membaca kisah itu. Ini adalah kisah nyata yang terjadi pada tahun 2007, di tulis lagi oleh pak Xavier Quentin Pranata dalam bukunya Laugh is beautiful.

Menyesal, oww…pasti. Seandainya menjadi Lie Mei, aku yakin pastinya penyesalan yang luar biasa sekali, dan mungkin akan bersifat permanen bahkan seumur hidup. Semuanya itu diawali karena pikiran negatif dan emosi yang begitu besar, sehingga mengambil kesimpulan dan langkah yang salah. Akibatnya adalah kehilangan yang paling berharga dalam hidupnya, bahkan setelah itu kehilangan kehidupan karena ada berton-ton penyesalan yang telah menanti.

Secepat dan setepat apapun langkah yang kita ambil, jika berdasarkan emosi sesaat dan negative thinking, percaya deh nggak bakalan bener. Pasti ada-ada aja masalah yang akan ditimbulkan, dan selalu berujung penyesalan. Nggak ada hasilnya dan cenderung merugikan.

“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” 1 Petrus 4:7

Ketenangan adalah kunci, sama saat kita sedang berenang, bukan hanya kemampuan berenang dan pernapasan yang harus kita kuasai, tetapi ketenangan dalam air. Karena dalam ketenangan itu kita dapat bergerak dan bernafas secara teratur. Begitu juga dalam menjalani hari-hari ini, ketenangan adalah kunci, untuk kita bisa melihat, merasakan, berfikir dan melangkah dengan tepat dan teratur. Kalo emosi kan jadinya suara Tuhan nggak kedengaran, tertutup sama ego kita dan justru malah kita dengerin suara iblis. Karena saat kita menguasai diri dan menjadi tenang, saat itulah Tuhan akan berbicara dan memberikan jawaban atas semua masalah dalam hidup kita.

“Jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa…”

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Yang Meringankan Segalanya

Category : Asides

Kejadian 29:20
“Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.”

Wah, karena cintanya yang begitu besar kepada Rahel sampai-sampai Yakub yang disuruh bekerja tanpa gaji selama tujuh tahun itu menganggapnya seperti beberapa hari saja! Ternyata dari semenjak dahulu kala, cinta merupakan kekuatan terbesar yang bisa membuat seseorang melakukan sesuatu yang sulit menjadi terasa mudah.

Seperti itulah seharusnya kita mentaati Firman Tuhan.. Mungkin memang kadangkala kita merasa sangat sulit untuk melakukan hal yang benar. Tapi jika kita mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh segala sesuatu menjadi begitu mudah. Saat kita pelayanan di Gereja kita tidak lagi berpikir itu sebuah beban/ kewajiban, saat kita melakukan hal yang jujur dalam pekerjaan kita, kita tidak lagi merasa tertekan, saat kita harus melakukan yang berbeda dengan teman-teman sekolah/kuliah kita yang lain (tidak mencontek misalnya) kita tidak lagi merasa kuatir atau takut, saat apapun yang berat yang harus kita lakukan untuk kemuliaan Nama Tuhan semua terasa begitu ringan.. Karena apa? Karena cinta… Karena kasih yang kita miliki bagi Dia…

Itulah yang sesungguhnya Bapa kita inginkan, kita melakukan segalanya bagi Dia atas dasar Kasih…

Saat ini, jika engkau memiliki kesulitan untuk merasakan cintamu pada-Nya, jujurlah dalam hatimu dan minta Tuhan Yesus mengajarimu untuk mengenal-Nya dan pada akhirnya bisa jatuh cinta kepada-Nya.. Karena Dia sesungguhnya adalah Bapa yang sangat rindu untuk dekat dengan kita semua..

Seperti Yakub yang mengganggap bekerja tujuh tahun itu seperti beberapa hari saja karena cintanya pada Rahel, seperti itulah seharusnya perasaan kita ketika mentaati Firman-Nya – Melakukan semuanya atas dasar cinta dan itulah yang meringankan segalanya :)

Mengampuni Orang Yang Menyakiti Kita? Enggak Adil!

3

Category : Asides

Mengampuni masalahnya bukanlah pada siapa yang menyakiti, tapi pada sakit hati itu sendiri. Yang menyakiti kita bisa siapa saja, bisa orang asing, bisa pendeta, bisa keluarga atau bahkan orangtua kita sendiri. Siapa pun yang menyakiti kita itu bukan masalahnya, masalahnya adalah apakah kita mengampuni atau tidak. Kita tidak memilah-milah siapa yang boleh diampuni dan siapa yang tidak, kalau keluarga sendiri ampuni aja tapi kalau orang asing atau bukan keluarga jangan diampuni. Siapapun yang menyakiti kita harus kita ampuni, sesusah apapun. Bukan hanya karena Tuhan meminta kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan karena Tuhan bilang kalau kita enggak ampuni orang lain maka Tuhan juga enggak akan ampuni kita.

Kita mengampuni demi diri kita sendiri. Kok bisa? Karena sakit hati dan dendam yang tidak dibereskan merusak hidup kita sendiri. Pernah sakit hati karena orang lain kan? Kalau inget orang itu atau peristiwa itu pasti bawaannya kesal dan marah. Kalau sakit hatinya ringan sih, misalnya karena orang itu ngerebut pangsit punya kita waktu makan baso, beberapa jam atau beberapa hari juga ilang. Kalau ada yang sampe dendam seumur hidup gara-gara pangsit, ya ampun…kan cuma pangsit gitu loh. Tapi kalau yang sakit hatinya bener-bener sakit, hal itu enggak akan hilang dengan begitu saja. Dan bagi sebagian orang, kekesalan dan dendam itu muncul terus setiap hari dan bikin panas kepala.

Saya ngeliat sendiri efek dari yang namanya sakit hati dalam kehidupan mama saya sendiri. Mama saya pernah sakit hati oleh saudaranya sendiri puluhan tahun yang lalu, dan mama saya menolak untuk mengampuni hal itu. Orang biasanya mikir,”Ah nanti seiring waktu juga sakit hati sih ilang sendiri” tapi kenyataannya enggak seperti itu. Kalau denger cerita mama saya kayanya tambah lama justru ceritanya tambah dramatis dan dendamnya tambah panas. Tiap kali mama saya inget orang itu, pasti dia marah lagi. Yang enggak mama saya sadari adalah pelan-pelan mama saya berubah jadi orang yang mengasihani diri sendiri dan bawaannya stress terus. Saya bukan lagi ngejelekin mama sendiri nih, tapi saya pengen bagiin apa yang bisa dipelajari dari hidup mama saya.

Mending kalau stress cuma di pikiran, tapi mana ada stress yang enggak bawa pengaruh ke badan? Karena stress, mama saya jadi sering sakit maag, belom lagi mama saya punya penyakit diabetes dan akhirnya tahun kemarin mama saya meninggal. Saya enggak tahu seberapa besar pengaruh stress terhadap kesehatan mama saya walaupun saya pikir pasti ada pengaruhnya. Yang bikin saya sedih adalah karena hidup mama saya enggak bahagia sampe akhir hidupnya. Mama saya enggak bahagia karena selama bertahun-tahun dia enggak bisa ngelepasin masa lalu dan sakit hatinya. Saya bukannya enggak pernah minta mama saya mengampuni dan melupakan, sering malah. Tapi mama saya menolak karena dia enggak mampu melupakan, tapi alasan yang utama adalah dia enggak mau melakukan hal itu karena menurutnya enggak adil kalau dia melepaskan orang itu begitu saja.

Di mata saya, yang enggak adil adalah kenyataan bahwa orang itu menyakiti mama saya berpuluh-puluh tahun yang lalu, orangnya sendiri juga enggak peduli dan menjalani hidupnya sendiri, tapi mama saya membiarkan sakit hati terhadap orang itu merusaknya terus selama hidupnya. Memang enggak adil kalau seseorang tiba-tiba menampar kita, tapi lebih enggak adil lagi kalau sesudah orang itu menampar kita, kita terus-terusan memegang pipi dan menangis dan menolak melanjutkan hidup. Tentu saja saya juga pernah sakit hati, tapi saya enggak mau mengulang hidup yang sama dengan mama saya. Betul seseorang pernah menampar saya, tapi saya menolak untuk membiarkan kelakuan orang itu terus merusak hidup saya selanjutnya.

Memberi pengampunan melepaskan kita dari kerusakan lebih lanjut. Mengampuni orang yang bersalah pada kita itu bukan cuma sekedar kata-kata indah dan ideal, itu adalah teknik survival. Mengampuni bukanlah masalah mampu atau enggak mampu, kalau masalah kemampuan enggak akan ada yang mampu mengampuni. Mengampuni adalah masalah mau atau tidak mau. Kalau kita bilang enggak mau, ya peganglah terus sakit hati itu dan biarkan itu bikin kita stress. Kalau kita bilang mau, Roh Kudus yang selanjutnya akan memampukan kita mengampuni. Masalah mau atau enggak mau enggak ada hubungannya dengan kehebatan seseorang atau kerohanian seseorang, itu adalah masalah pilihan.

Sekalipun yang menyakiti kita pendeta, pertanyaannya tetap sama, ”Apakah kita akan membiarkan orang itu terus bikin kita stress karena kita enggak mau mengampuni ataukah kita melepaskan pengampunan?” Bisa saja jika memilih menolak mengampuni karena merasa itu enggak adil, tapi resikonya adalah hidup yang terus terikat masa lalu, dan menurut saya itu lebih enggak adil. Jangan meremehkan ikatan masa lalu, itu membentuk masa depan kita tanpa sering kita sadari. Anak yang dibesarkan oleh orangtua yang sering memukuli anak-anaknya seringkali bertumbuh jadi ayah yang juga ringan tangan ke anak-anaknya. Anak-anak dari keluarga bercerai seringkali juga mengalami perceraian waktu mereka dewasa. Dan korban pelecehan seksual terkadang menjadi pelaku. Seorang teman yang pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil dan merasa dirinya enggak berharga lagi akhirnya terlibat seks bebas waktu dewasa. Menolak mengampuni suatu dosa membuat kita terikat dengan dosa itu dan memaksa kita terus hidup bersama dosa itu.

Ditulis oleh Tukang Bakmi untuk majalah Gfresh

P-E-R-S-A-H-A-B-A-T-A-N

5

Category : inFOStainment

P- Pengaruhi orang-orang di sekitar kita terus menerus dengan kasih Allah sampai menghasilkan perubahan hidup, sebaliknya begitu juga, kita harus mau dipengaruhi oleh nilai-nilai yang baik dari orang-orang di sekitar kita supaya kita juga mengalami perubahan hidup itu.

E- Extra-mile, “jika sahabatmu memintamu berjalan bersamanya sejauh satu kilometer, berjalanlah bersamanya sejauh dua kilometer…” Jika sahabatmu memintamu memberikan waktumu untuknya, berikan juga hati dan telingamu untuk mendengarkannya. Ini salah satu prinsip yang membuat sebuah hubungan menjadi sangat bermakna, sebuah hubungan yang berkorban, melakukan sesuatu yang “lebih” dari apa yang kebanyakan orang lakukan.

R- Rencana Tuhan harus tergenapi sempurna bagi orang-orang yang kita kasihi. Kalau ada kerinduan yang sebesar ini bagi sahabat kita, tindakan yang bisa kita lakukan adalah mendampingi sahabat kita dengan konsisten sampai rencana Tuhan digenapi dalam hidupnya. Tanyakan kabarnya di saat-saat ia menghadapi kesulitan, tawarkan bantuan bagi dia, doakan lewat telepon atau beri waktu untuk mengunjungi sahabat kita, karena adakalanya sahabat kita kelelahan menghadapi masalahnya sendiri.

S- Sukacita akan selalu ada dalam hubungan yang sifatnya saling membangun. Walaupun kadang ada masalah di antara kamu dan sahabatmu, tapi semua itu pasti menghasilkan sukacita pada akhirnya dan bukan perpecahan. Tujuan dari adanya masalah dalam sebuah hubungan adalah untuk mengajarkan kepada kita tentang bagaimana menghadapi orang-orang yang kita kasihi dalam jangka waktu panjang. Sukacita selalu membuat sebuah hubungan menjadi hidup dan bersemangat.

A- Arahkan hubungan itu kepada hal-hal yang semakin besar. Ada tanggung jawab yang semakin besar dalam setiap hubungan, maka itu kapasitas kita dalam menghadapi orang-orang di sekitar kita juga harus semakin besar. Kedekatan kita harus semakin terjaga, komunikasi ditingkatkan, buat project-project yang melatih tanggung jawab kita untuk memelihara suatu hubungan, misalkan setiap minggu minimal tanyakan kabar satu kali, doakan minimal satu orang sahabat setiap hari, mengunjungi minimal satu orang sahabat sebulan sekali, lalu tingkatkan kapasitasmu dalam membangun hubungan itu.

H- Hargai waktumu bersama orang-orang yang kamu kasihi. Jangan tenggelam ke dalam suatu kesibukan yang berlebihan sehingga merusak hubunganmu dengan orangtua, pacar, sahabat, apalagi Tuhan. Relasi lebih penting daripada kesibukan semata. Relasi yang dekat itu sifatnya mengisi, sedangkan kesibukan itu sifatnya mengambil, contohnya relasi dengan Tuhan itu lebih penting daripada sibuk pelayanan.

A- Ampuni, doakan, dan motivasi orang-orang yang kita kasihi ketika mereka berbuat suatu kesalahan. “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia ini bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:17). Perkataan ini berlaku juga buat kita sebagai anak-anak Tuhan. Gimana kita bisa membawa pertobatan buat orang-orang di sekitar kita kalo perkataan kita isinya adalah kata-kata penghakiman? Bahasa kita adalah bahasa kasih, yang di dalamnya ada pengampunan dan penerimaan yang tulus bagi sesama kita.

B- Bagikan hidupmu dan buka hatimu. Saat Tuhan mengutus sahabatmu untuk menolongmu ketika mengalami kesulitan, jangan menutup diri. Memang dalam beberapa hal, apa yang kita alami mungkin aja terasa memalukan. Atau kita merasa walaupun kita ceritakan masalah kita ke siapapun, tetep aja nggak bisa bantu. Cobalah dulu untuk membuka hati bagi mereka, sahabat-sahabat rohani dan orang-orang yang terdekat dengan kita seperti orangtua seringkali menjadi alat Tuhan yang efektif untuk menyampaikan isi hati-Nya di saat kita menghadapi suatu masalah dan tidak bisa mendengar suara-Nya dengan jelas. Keterbukaan yang tepat selalu menjadi awal dari sebuah pemulihan.

A- Akui kesalahan dan berani meminta maaf duluan saat hubunganmu dengan sahabatmu sedang diwarnai konflik. Kita belajar untuk mengampuni, itu nggak mudah. Sebaliknya, meminta maaf duluan juga pasti nggak mudah. Nah, saat kita mengerti kalo orang lain aja punya kekurangan, kita juga harus berani mengakui kekurangan kita dan meminta maaf. Dengan kita mengakui kelemahan kita duluan, kita sedang membangun kekuatan yang akan mengatasi kelemahan-kelemahan itu. Orang yang kuat justru adalah orang yang menyadari kelemahannya, karena dengan begitu kita mengerti di sisi lemah apa kita harus memperbaiki diri, sehingga kita memiliki karakter dan kepribadian yang semakin memberkati baik bagi diri sendiri maupun bagi orang-orang yang kita kasihi.

T- Tuhan hadir dalam setiap hubungan yang kita bangun di dalam Dia. Kalo persahabatan kita mempunyai visi untuk kepentingan Allah, pasti Dia juga yang menjaga persahabatan kita itu. Kalo pacaran dibangun dalam Tuhan, Tuhan juga yang menjaga hubungan itu. Tentukan dasar setiap hubungan yang kamu bangun, di atas apa kamu membangunnya, akan sekuat itulah nanti hubungan itu.

A- Alami pengalaman-pengalaman yang baru. Jadilah kreatif dalam hubunganmu, Belajarlah dengan giat untuk membangun suatu hubungan sama giatnya dengan saat kamu belajar untuk ujian Fisika atau Akuntansi. Sebuah hubungan yang diuji dengan waktu bisa saja mengalami kebosanan atau titik jenuh. Inilah musuh utama sebuah hubungan: titik jenuh. Sebab itu mintalah hikmat dari Tuhan supaya kamu bisa menjadi lebih kreatif dalam membangun hubungan.

N- Nyatakan kepada dunia apa yang telah kamu alami dari hubungan persahabatanmu itu. Biarlah dunia diberkati oleh kesaksian atas persahabatan yang dialami oleh anak-anak Tuhan. Buktikan bahwa kita memiliki Tuhan Yesus yang adalah sahabat sejati, yang memiliki kasih terbesar sebagai Seorang Sahabat (Yoh 15:13). Saat kita, anak-anak Tuhan, membangun sebuah hubungan, itu akan menjadi gambaran bagaimana Allah membangun hubungan dengan kita manusia. Sebab itu miliki nilai-nilai yang Tuhan Yesus tunjukkan sebagai Sahabat: Pengorbanan, Kasih, Penerimaan, Kemurahan Hati, Ketegasan yang membangun, Kesetiaan, Memiliki Visi yang jelas, dan banyak hal lainnya yang akan kita temukan jika kita mengenal Dia.

Istana Kaca

Category : Pojok Tukang Bakmi

Di suatu negeri yang jauh, tapi mungkin juga tidak terlalu jauh, mungkin juga dekat, atau bahkan mungkin kita tinggal di negeri tersebut, hiduplah seorang petani sederhana.  Petani ini adalah seorang yang sangat biasa, bukan petani yang terkenal atau luar biasa, orang biasa seperti teman-teman kita atau keluarga kita atau bahkan seperti diri kita sendiri. Hanya saja, petani ini sangat sering mengomel tentang kehidupannya. Dia selalu berkata,

“ Sendainya aku ini seorang raja yang memerintah negeri ini, pasti hidupku akan luar biasa. Aku akan terkenal, semua orang mengenalku dan aku bisa memerintahkan bawahanku untuk melakukan apa saja”

“ Menjadi raja pasti sangat menyenangkan, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Cukup hanya mengeluarkan kata perintah dan semua orang akan menjalankan. Sungguh suatu kehidupan yang sangat mudah”

Petani ini sering sekali mengomel soal mudahnya hidup seorang raja kepada keluarga, teman-temannya atau bahkan orang asing yang baru dia temui di tengah jalan pun dipaksanya untuk mendengar omelannya. Sampai suatu saat omelannya sampai ke telinga raja. Raja yang mendengar hal ini pun mendatangi petani itu ke rumahnya.

Petani yang melihat kedatangan raja di rumahnya tentu saja terkejut. Tapi dia lebih terkejut lagi ketika tahu kalau kedatangan raja ke rumahnya justru untuk mengangkatnya menjadi raja, dengan satu syarat. Syaratnya adalah petani itu harus tinggal di istana raja. Tentu saja petani itu langsung setuju dengan syarat semudah itu. Lagipula bukankah seorang raja memang harus tinggal di istana? Dengan segera dia dan seluruh keluarganya berkemas – kemas untuk pindah ke istana raja.

Keesokan harinya, raja sendiri mengantar petani ini ke kota untuk menempati istananya. Sepanjang jalan petani ini sibuk membayangkan kemegahan rumah barunya. Dan harapannya memang menjadi kenyataan, beberapa kilometer dari kota dia sudah bisa melihat bangunan besar yang berdiri megah dan tampak bersinar mengkilap di bawah sinar matahari. Semakin dekat dia ke istana barunya, semakin kagum petani ini dibuatnya. Ternyata istana yang akan ditempatinya seluruhnya terbuat dari kaca yang dibentuk dengan indah dan sangat bersih mengkilap. Belum pernah dia melihat bangunan seindah, sebersih dan begitu bersinar seperti istana ini. Dengan gembira dia berulangkali mengucapkan terimakasih pada raja. Raja hanya tersenyum dan berkata kalau petani ini membutuhkannya, dia akan ada di rumah petani itu yang dulu.

Sesuai keinginannya, kehidupan sebagai seorang raja memang menyenangkan. Petani ini bisa memerintah semua orang di kerajaannya dengan mudah. Petani ini hidup bermalas-malasan sepanjang hari dan hanya memrintah orang-orang di sekitarnya. Sampai suatu hari dia menyadari kalau kerajaannya tampak sepi, tidak terlihat ada orang yang berlalu lalang di jalan dan semua toko tutup. Dengan heran dia bertanya kepada menterinya apa yang terjadi. Menterinya berkata,

“ Yang mulia, mereka semua sedang tidur dan bersantai di rumah.”

“ Apa? Mereka tidur? Lalu bagaimana dengan pekerjaan mereka? Bagaimana mungkin mereka semua melalaikan pekerjaan mereka? Kenapa mereka bisa semalas itu?”, petani ini berteriak dengan marah.

“ Tapi yang mulia, rakyat hanya melihat kehidupan yang mulia selama ini. Mereka rakyat yang sederhana dan patuh, ketika mereka melihat gaya hidup yang mulia, mereka pun berpikir kalau hidup seperti itulah yang benar dan seharusnya. Tolong jangan hukum kami yang mulia, kami hanya mengikutimu”, jawab menterinya sambil berlutut.

Dan petani itu pun tersadar kalau istananya memang terbuat dari kaca yang berarti semua orang bisa melihat ke dalam istana dan mengamati bagaimana kehidupannya. Dan dengan perasaan sedikit menyesal, esok harinya dia mulai menjalankan tugas-tugasnya sebagai raja dan tidak lagi memerintah orang-orang. Walaupun begitu, petani ini masih menyukai kehidupannya sebagai seorang raja.

Suatu hari, petani ini memperhatikan kalau setiap orang yang melewati istananya selalu berhenti, menunjuk-nunjuk dan saling berbisik-bisisk dengan pejalan lain. Petani ini, yang sekarang sudah belajar dari pengalamannya, langsung memanggil menterinya dan menanyakan apa yang terjadi.

“ Oh, mereka semua membicarakan betapa kotornya istana ini dan betapa joroknya yang mulia sebagai seorang raja”, jawab menterinya.

“ Istanaku kotor? Dimananya yang kotor? Sepengetahuanku istana ini sangat bersih”,

“ Memang betul yang mulia, yang kotor hanya satu jendela saja.”

“ Hanya satu jendela? Kalau begitu kenapa semua orang mempermasalahkan hal itu dan mengataiku sebagai raja yang jorok?”

“ Yang mulia, istana ini terbuat dari kaca yang mengkilap. Bahkan kotoran sedikit saja pun akan langsung terlihat dan semua orang akan langsung memperhatikannya “

Dan petani ini pun tersadar kalau istananya memang terbuat dari kaca yang memang terlihat sangat indah dan mengkilap, tapi sebaliknya kotoran sedikit apa pun yang menempel akan langsung terlihat jelas. Dan esoknya, petani ini beserta semua pegawainya bekerjasama memebersihkan istana. Kali ini, petani ini mulai terganggu dan mulai tidak menyukai istana dan kehidupannya sebagai raja.

Selain harus selalu terlihat rajin, dia juga masih harus selalu menjaga kebersihan setiap jengkal istananya. Semua ini menguras tenaganya dan tanpa disadarinya pekerjaannya semakin terbengkalai dan semakin lama kerajaanya semakin kacau. Rakyat mulai tidak puas pada raja yang baru ini dan protes mulai terdengar dimana-mana. Kemarahan rakyat ini makin lama makin panas sampai suatu hari seorang penduduk yang sangat marah melemparkan batu ke istana kaca sang raja. Dan petani ini melihat dengan ketakutan ketika batu itu dengan mudahnya menghancurkan pintu kaca istananya. Satu batu diikuti batu-batu yang lain dan dalam sekejap istananya yang megah hancur berserakan dimana-mana. Kali ini petani ini tidak tahan lagi dan segera lari meninggalkan istananya untuk mencari raja di rumahnya yang dulu.

Ketika sampai di rumahnya yang dulu, petani ini melihat raja sedang menanami ladangnya dengan muka bahagia. Petani ini dengan segera menghampirinya dan memohon sang raja untuk kembali ke kota dan membereskan semua kekacauan. Raja menatapnya dan bertanya,

“ Kenapa? Bukankah engkau sudah mendapatkan keinginanmu? Kenapa sekarang kau ingin bertukar tempat kembali denganku? Apakah kau tidak menyukai istanamu?”

“ Tidak, aku tidak mau lagi jadi raja dan tinggal di istana kaca. Istana itu memang indah tapi aku tidak mau lagi tinggal di dalamnya. Setiap hari aku harus berhati-hati karena semua orang memperhatikan hidupku. Dan setiap hari juga aku harus mengamati istanaku supaya tidak ada satupun kotoran menempel yang akan membuatku ditunjuk orang lain. Dan bahkan setelah semua yang kulakukan, ketika rakyat tidak puas dan melempari istanaku, dengan mudah istana itu hancur. Aku tidak mau lagi menjadi raja dan tinggal disana.”

“ Tapi, kau tidak bisa menjadi raja tanpa tinggal di istana kaca. Itu adalah syarat semua raja! Menjadi pemimpin berarti membagi hidupmu dengan semua rakyatmu, hidupmu bukan lagi milikmu sendiri. Karena itu seorang pemimpin harus tinggal di istana kaca supaya semua orang bisa melihat kehidupannya dan belajar darinya. Apakah kehidupan itu baik atau buruk akan mempengaruhi semua orang yang dipimpinnya.”

“ Tinggal di istana kaca berarti semua orang akan memperhatikanmu. Sedikit saja kotoran menempel di istanamu, semua orang akan langsung membicarakan hal itu seolah-olah istanamu adalah tempat terjorok di muka bumi. Dan, istana kaca, sama seperti bahan penyusunnya, walaupun terlihat indah mengkilap tapi sangat rapuh. “

“ Suatu kerajaan berdiri karena kepercayaan rakyatnya, tapi ketika rakyat kehilangan kepercayaannya maka batu ketidakpercayaan sangat mudah menghancurkan istana kaca yang megah.”

“ Raja, kembalilah ke kota dan ambillah lagi kedudukanmu. Aku tidak pantas menjadi raja. Aku ingin menjadi raja karena membayangkan betapa enaknya menjadi terkenal, memerintah orang-orang dan punya berbagai hak istimewa. Aku tidak pernah memikirkan tanggung jawab sebagai seorang raja. Aku tidak pantas menjadi raja”

“ Kau sudah mengerti sekarang? Hanya orang-orang yang mengetahui beratnya tanggung jawab menjadi raja dan bersedia memikul tanggung jawab itu seumur hidupnya yang bisa menjadi raja yang baik. Untuk saat ini, kembalilah menjadi petani. Suatu saaat nanti jika kau bisa merasa bahagia melakukan pekerjaan kecil di sudut kerajaan ini, jika kau sudah siap untuk menerima tanggung jawab seorang raja, aku akan memanggilmu kembali untuk menjadi penerusku.”

Ditulis oleh : Tukang Bakmi

Kadangkala kita melihat kedudukan sebagai pemimpin rohani adalah sebuah kedudukan yang sangat menyenangkan, begitu berkilau karena bisa menjadi pusat perhatian. Tapi ternyata tanggung jawab sebagai pemimpin rohani dalam sebuah pelayanan begitu berat. Hidup dan integritasnya harus kuat supaya dapat menjadi teladan bagi orang lain. Karena kejatuhan sebuah pelayanan berawal dari kejatuhan pemimpinnya.

FOS Community

Sepuluh Pertanyaan di Dua Ribu Sepuluh

Category : FOSters Creativity

Satu. Kalau musim kemarau lagi-lagi lebih panjang dari musim hujan, bagaimana Pak Joni dan keluarganya menghadapi hari-hari yang panas tanpa air di rumahnya?

Dua. Ketika Nenek di ujung jalan terbatuk-batuk di depan rumahnya, akankah orang-orang diam saja sambil berpura-pura tak mendengar (walaupun batuknya memecah cakrawala) dan mereka lewat begitu saja seperti yang selalu terjadi?

Tiga. Mungkinkah orang-orang akan sembuh dari kebutaan mereka dan melihat dengan jelas bahwa tempat sampah begitu besar dan kosongnya sehingga mereka tak perlu lagi membuang sampah di selokan?

Empat. Setelah anak-anak itu pingsan dan muntah-muntah, apakah kepala sekolah di sekolah dasar persimpangan empat akan berhenti menghukum anak didik mereka, padahal anak-anak itu cuma terlambat dua menit?

Lima. Sedemikian menariknyakah berbisik-bisik di ujung jalan sampai para ibu lupa memandikan bayinya?

Enam. Mungkinkah bapak-bapak di pos ronda akan berhenti main kartu dan menonton televisi bersama anak-anak dan isteri mereka?

Tujuh. Apakah Tika lebih suka mencubiti adiknya sampai biru keunguan ketimbang bermain barbie?

Delapan. Karena anak kelima ibu itu sakit dan mereka tak punya rumah, mungkinkah pemilik rumah akan bersabar dan mengijinkan ibu yang sudah janda dan memiliki enam anak itu untuk tinggal walau hanya sebentar?

Sembilan. Apakah kasih akan punah dan menjadi legenda seperti halnya Dinosaurus?

Sepuluh. Apakah yang BISA AKU LAKUKAN untuk mereka?

Ditulis oleh : ENS

Between Commitment and Change

Category : Simply Articles

Wah, sudah tahun baru nih yah….

Met Tahun baru semuanya, maaf yah kalau terlambat ngucapinnnya, seharusnyakan dari kemarin-kemarin, yah daripada tidak sama sekali…hehehhe…

Ada beberapa hal yang akrab dalam tahun baru, suara terompet, bakar-bakaran, ibadah tutup tahun, begadang, sampai petasan yang nan indah. Di tahun baru, seringkali kita membuat sebuah perefleksian kecil baik itu sendiri maupun bersama keluarga, flashback tahun 2009 dan membuat resolusi untuk 2010. Biasanya ada beberapa hal yang kita harapkan, inginkan, komitmenkan bahkan ada yang kita komitmenkan kembali (perpanjang kontrak komitmen..hehehhhe). Dan nggak jarang juga ada pemulihan yang terjadi di awal tahun 2010.

Guys, aku mau sharing sedikit, ada sebuah kebiasaan yang selalu aku lakukan setiap menjelang tahun baru, aku biasanya membuat semacam refleksi pribadi di kamarku sendiri. Dan tahun lalu ada hal unik yang aku lakukan, yaitu aku menuliskan beberapa poin komitmenku dan harapanku kepada Tuhan di komputer, dan tadinya ingin di cetak lalu ditempelkan di sebuah sudut kamarku sebagai pengingat.

Dan pada saat refleksi kemarin, memasuki tahun 2010, aku teringat akan file itu, lalu aku mencari dan akhirnya mendapatkan sebuah resolusi dan perjanjian yang sengaja aku tulis dengan Tuhan setahun yang lalu. Aku jadi teringat saat-saat aku menuliskan hal itu, jadi di tulisan itu terdapat 4 poin yang akan aku komitmenkan dan 4 poin yang aku harapkan dan doakan. Sama-sama 4 poin, tapi saat aku melihat poin demi poin yang aku tuliskan sendiri itu, aku hanya bisa terdiam sedih dan bertanya dalam hati, karena ada beberapa komitment yang gagal aku tuntaskan hingga akhir tahun, sedangkan saat aku melihat harapan dan doa yang aku panjatkan, semuanya telah Tuhan jawab dengan cara yang ajaib. Padahal sama-sama 4 poin, tapi ternyata justru lebih banyak komitmen yang gagal aku lakukan. Disitulah aku kembali diingatkan dengan sebuah ayat yang berbunyi seperti ini :

“ Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.” (2 Timotius 2:13)

Padahal yang membuat komitmen adalah aku sendiri, tetapi aku sendiri yang seringkali menyangkalnya, seringkali mengingkarinya, seringkali mengkompromikannya, dan ngga jarang seringkali sengaja melupakannya.

Entah beberapa banyak hal yang telah kita komitmenkan, semangat pada awalnya, tapi jarang yang tetap setia hingga akhirnya, padahal sekali lagi, kita sendiri yang membuat komitmen itu, dan kita sendiri yang melanggarnya. Apa lebih baik nggak usah buat komitmen atau bikin janji dengan Tuhan yah, daripada setiap kali bikin janji atau komitmen kita juga yang mengingkarinya?

Wah jangan sampai berpikiran seperti itu yah, karena aku percaya saat kita membuat sebuah komitmen, itu adalah awal dimana akan terjadi perubahan. Ada semacam pengakuan dan keinginan untuk berubah saat kita mengucapkan sebuah komitmen, dan pastinya hal itu dilandasi karena kita melihat betapa besarNya kasih Allah di dalam hidup kita. Tetapi ingat, bahwa perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan. Aku sangat suka kata-kata ini.

“Perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan”

Komitmen adalah awal dimana perubahan akan terjadi, awal dimana pemulihan akan dinyatakan, awal dimana hal-hal yang baru akan kita terima, tetapi ingat bukan hanya sampai disitu. Aku pernah bilang kepada salah seorang sahabatku, bahwa yang namanya perubahan, pemulihan bahkan sukacita bukan hanya sebuah mukjizat, tetapi semua itu adalah pilihan. Dimana saat kita memilih untuk pulih, maka pemulihan itu akan segera datang kepada kita, saat kita memilih untuk bersukacita bahkan di saat yang paling sedih sekalipun, saat itulah sukacita itu datang kepada kita. It’s all about choice. Dan begitu juga dalam komitmen, bukan hanya pilihan untuk membuat komitmen atau tidak, tetapi pilihan untuk menjalankannya hingga menjadi sebuah perubahan atau tidak.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal yang baru, dan tidak ada kata terlambat untuk mewujudkan komitmen kita. Komitmen bukan hanya berbicara mengenai tahun baru, tetapi bicara mengenai hari-hari yang kita jalani di tahun yang baru ini, akankah Dia mendapati kita tetap setia hingga akhir, sama seperti Tuhan yang akan selalu setia kepada kita.

JanjiNya selalu dapat kita pegang dan Dia pasti melakukan tepat pada waktunya. Lalu bagaimana dengan janji kita kepada Dia, akankah dapat Dia pegang dan kita lakukan senantiasa ??

Kuberjuang sampai akhirnya, Kau dapati aku tetap setia.

Ditulis oleh KSW