Mengampuni Orang Yang Menyakiti Kita? Enggak Adil!

3

Category : Asides

Mengampuni masalahnya bukanlah pada siapa yang menyakiti, tapi pada sakit hati itu sendiri. Yang menyakiti kita bisa siapa saja, bisa orang asing, bisa pendeta, bisa keluarga atau bahkan orangtua kita sendiri. Siapa pun yang menyakiti kita itu bukan masalahnya, masalahnya adalah apakah kita mengampuni atau tidak. Kita tidak memilah-milah siapa yang boleh diampuni dan siapa yang tidak, kalau keluarga sendiri ampuni aja tapi kalau orang asing atau bukan keluarga jangan diampuni. Siapapun yang menyakiti kita harus kita ampuni, sesusah apapun. Bukan hanya karena Tuhan meminta kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan karena Tuhan bilang kalau kita enggak ampuni orang lain maka Tuhan juga enggak akan ampuni kita.

Kita mengampuni demi diri kita sendiri. Kok bisa? Karena sakit hati dan dendam yang tidak dibereskan merusak hidup kita sendiri. Pernah sakit hati karena orang lain kan? Kalau inget orang itu atau peristiwa itu pasti bawaannya kesal dan marah. Kalau sakit hatinya ringan sih, misalnya karena orang itu ngerebut pangsit punya kita waktu makan baso, beberapa jam atau beberapa hari juga ilang. Kalau ada yang sampe dendam seumur hidup gara-gara pangsit, ya ampun…kan cuma pangsit gitu loh. Tapi kalau yang sakit hatinya bener-bener sakit, hal itu enggak akan hilang dengan begitu saja. Dan bagi sebagian orang, kekesalan dan dendam itu muncul terus setiap hari dan bikin panas kepala.

Saya ngeliat sendiri efek dari yang namanya sakit hati dalam kehidupan mama saya sendiri. Mama saya pernah sakit hati oleh saudaranya sendiri puluhan tahun yang lalu, dan mama saya menolak untuk mengampuni hal itu. Orang biasanya mikir,”Ah nanti seiring waktu juga sakit hati sih ilang sendiri” tapi kenyataannya enggak seperti itu. Kalau denger cerita mama saya kayanya tambah lama justru ceritanya tambah dramatis dan dendamnya tambah panas. Tiap kali mama saya inget orang itu, pasti dia marah lagi. Yang enggak mama saya sadari adalah pelan-pelan mama saya berubah jadi orang yang mengasihani diri sendiri dan bawaannya stress terus. Saya bukan lagi ngejelekin mama sendiri nih, tapi saya pengen bagiin apa yang bisa dipelajari dari hidup mama saya.

Mending kalau stress cuma di pikiran, tapi mana ada stress yang enggak bawa pengaruh ke badan? Karena stress, mama saya jadi sering sakit maag, belom lagi mama saya punya penyakit diabetes dan akhirnya tahun kemarin mama saya meninggal. Saya enggak tahu seberapa besar pengaruh stress terhadap kesehatan mama saya walaupun saya pikir pasti ada pengaruhnya. Yang bikin saya sedih adalah karena hidup mama saya enggak bahagia sampe akhir hidupnya. Mama saya enggak bahagia karena selama bertahun-tahun dia enggak bisa ngelepasin masa lalu dan sakit hatinya. Saya bukannya enggak pernah minta mama saya mengampuni dan melupakan, sering malah. Tapi mama saya menolak karena dia enggak mampu melupakan, tapi alasan yang utama adalah dia enggak mau melakukan hal itu karena menurutnya enggak adil kalau dia melepaskan orang itu begitu saja.

Di mata saya, yang enggak adil adalah kenyataan bahwa orang itu menyakiti mama saya berpuluh-puluh tahun yang lalu, orangnya sendiri juga enggak peduli dan menjalani hidupnya sendiri, tapi mama saya membiarkan sakit hati terhadap orang itu merusaknya terus selama hidupnya. Memang enggak adil kalau seseorang tiba-tiba menampar kita, tapi lebih enggak adil lagi kalau sesudah orang itu menampar kita, kita terus-terusan memegang pipi dan menangis dan menolak melanjutkan hidup. Tentu saja saya juga pernah sakit hati, tapi saya enggak mau mengulang hidup yang sama dengan mama saya. Betul seseorang pernah menampar saya, tapi saya menolak untuk membiarkan kelakuan orang itu terus merusak hidup saya selanjutnya.

Memberi pengampunan melepaskan kita dari kerusakan lebih lanjut. Mengampuni orang yang bersalah pada kita itu bukan cuma sekedar kata-kata indah dan ideal, itu adalah teknik survival. Mengampuni bukanlah masalah mampu atau enggak mampu, kalau masalah kemampuan enggak akan ada yang mampu mengampuni. Mengampuni adalah masalah mau atau tidak mau. Kalau kita bilang enggak mau, ya peganglah terus sakit hati itu dan biarkan itu bikin kita stress. Kalau kita bilang mau, Roh Kudus yang selanjutnya akan memampukan kita mengampuni. Masalah mau atau enggak mau enggak ada hubungannya dengan kehebatan seseorang atau kerohanian seseorang, itu adalah masalah pilihan.

Sekalipun yang menyakiti kita pendeta, pertanyaannya tetap sama, ”Apakah kita akan membiarkan orang itu terus bikin kita stress karena kita enggak mau mengampuni ataukah kita melepaskan pengampunan?” Bisa saja jika memilih menolak mengampuni karena merasa itu enggak adil, tapi resikonya adalah hidup yang terus terikat masa lalu, dan menurut saya itu lebih enggak adil. Jangan meremehkan ikatan masa lalu, itu membentuk masa depan kita tanpa sering kita sadari. Anak yang dibesarkan oleh orangtua yang sering memukuli anak-anaknya seringkali bertumbuh jadi ayah yang juga ringan tangan ke anak-anaknya. Anak-anak dari keluarga bercerai seringkali juga mengalami perceraian waktu mereka dewasa. Dan korban pelecehan seksual terkadang menjadi pelaku. Seorang teman yang pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil dan merasa dirinya enggak berharga lagi akhirnya terlibat seks bebas waktu dewasa. Menolak mengampuni suatu dosa membuat kita terikat dengan dosa itu dan memaksa kita terus hidup bersama dosa itu.

Ditulis oleh Tukang Bakmi untuk majalah Gfresh

P-E-R-S-A-H-A-B-A-T-A-N

5

Category : inFOStainment

P- Pengaruhi orang-orang di sekitar kita terus menerus dengan kasih Allah sampai menghasilkan perubahan hidup, sebaliknya begitu juga, kita harus mau dipengaruhi oleh nilai-nilai yang baik dari orang-orang di sekitar kita supaya kita juga mengalami perubahan hidup itu.

E- Extra-mile, “jika sahabatmu memintamu berjalan bersamanya sejauh satu kilometer, berjalanlah bersamanya sejauh dua kilometer…” Jika sahabatmu memintamu memberikan waktumu untuknya, berikan juga hati dan telingamu untuk mendengarkannya. Ini salah satu prinsip yang membuat sebuah hubungan menjadi sangat bermakna, sebuah hubungan yang berkorban, melakukan sesuatu yang “lebih” dari apa yang kebanyakan orang lakukan.

R- Rencana Tuhan harus tergenapi sempurna bagi orang-orang yang kita kasihi. Kalau ada kerinduan yang sebesar ini bagi sahabat kita, tindakan yang bisa kita lakukan adalah mendampingi sahabat kita dengan konsisten sampai rencana Tuhan digenapi dalam hidupnya. Tanyakan kabarnya di saat-saat ia menghadapi kesulitan, tawarkan bantuan bagi dia, doakan lewat telepon atau beri waktu untuk mengunjungi sahabat kita, karena adakalanya sahabat kita kelelahan menghadapi masalahnya sendiri.

S- Sukacita akan selalu ada dalam hubungan yang sifatnya saling membangun. Walaupun kadang ada masalah di antara kamu dan sahabatmu, tapi semua itu pasti menghasilkan sukacita pada akhirnya dan bukan perpecahan. Tujuan dari adanya masalah dalam sebuah hubungan adalah untuk mengajarkan kepada kita tentang bagaimana menghadapi orang-orang yang kita kasihi dalam jangka waktu panjang. Sukacita selalu membuat sebuah hubungan menjadi hidup dan bersemangat.

A- Arahkan hubungan itu kepada hal-hal yang semakin besar. Ada tanggung jawab yang semakin besar dalam setiap hubungan, maka itu kapasitas kita dalam menghadapi orang-orang di sekitar kita juga harus semakin besar. Kedekatan kita harus semakin terjaga, komunikasi ditingkatkan, buat project-project yang melatih tanggung jawab kita untuk memelihara suatu hubungan, misalkan setiap minggu minimal tanyakan kabar satu kali, doakan minimal satu orang sahabat setiap hari, mengunjungi minimal satu orang sahabat sebulan sekali, lalu tingkatkan kapasitasmu dalam membangun hubungan itu.

H- Hargai waktumu bersama orang-orang yang kamu kasihi. Jangan tenggelam ke dalam suatu kesibukan yang berlebihan sehingga merusak hubunganmu dengan orangtua, pacar, sahabat, apalagi Tuhan. Relasi lebih penting daripada kesibukan semata. Relasi yang dekat itu sifatnya mengisi, sedangkan kesibukan itu sifatnya mengambil, contohnya relasi dengan Tuhan itu lebih penting daripada sibuk pelayanan.

A- Ampuni, doakan, dan motivasi orang-orang yang kita kasihi ketika mereka berbuat suatu kesalahan. “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia ini bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:17). Perkataan ini berlaku juga buat kita sebagai anak-anak Tuhan. Gimana kita bisa membawa pertobatan buat orang-orang di sekitar kita kalo perkataan kita isinya adalah kata-kata penghakiman? Bahasa kita adalah bahasa kasih, yang di dalamnya ada pengampunan dan penerimaan yang tulus bagi sesama kita.

B- Bagikan hidupmu dan buka hatimu. Saat Tuhan mengutus sahabatmu untuk menolongmu ketika mengalami kesulitan, jangan menutup diri. Memang dalam beberapa hal, apa yang kita alami mungkin aja terasa memalukan. Atau kita merasa walaupun kita ceritakan masalah kita ke siapapun, tetep aja nggak bisa bantu. Cobalah dulu untuk membuka hati bagi mereka, sahabat-sahabat rohani dan orang-orang yang terdekat dengan kita seperti orangtua seringkali menjadi alat Tuhan yang efektif untuk menyampaikan isi hati-Nya di saat kita menghadapi suatu masalah dan tidak bisa mendengar suara-Nya dengan jelas. Keterbukaan yang tepat selalu menjadi awal dari sebuah pemulihan.

A- Akui kesalahan dan berani meminta maaf duluan saat hubunganmu dengan sahabatmu sedang diwarnai konflik. Kita belajar untuk mengampuni, itu nggak mudah. Sebaliknya, meminta maaf duluan juga pasti nggak mudah. Nah, saat kita mengerti kalo orang lain aja punya kekurangan, kita juga harus berani mengakui kekurangan kita dan meminta maaf. Dengan kita mengakui kelemahan kita duluan, kita sedang membangun kekuatan yang akan mengatasi kelemahan-kelemahan itu. Orang yang kuat justru adalah orang yang menyadari kelemahannya, karena dengan begitu kita mengerti di sisi lemah apa kita harus memperbaiki diri, sehingga kita memiliki karakter dan kepribadian yang semakin memberkati baik bagi diri sendiri maupun bagi orang-orang yang kita kasihi.

T- Tuhan hadir dalam setiap hubungan yang kita bangun di dalam Dia. Kalo persahabatan kita mempunyai visi untuk kepentingan Allah, pasti Dia juga yang menjaga persahabatan kita itu. Kalo pacaran dibangun dalam Tuhan, Tuhan juga yang menjaga hubungan itu. Tentukan dasar setiap hubungan yang kamu bangun, di atas apa kamu membangunnya, akan sekuat itulah nanti hubungan itu.

A- Alami pengalaman-pengalaman yang baru. Jadilah kreatif dalam hubunganmu, Belajarlah dengan giat untuk membangun suatu hubungan sama giatnya dengan saat kamu belajar untuk ujian Fisika atau Akuntansi. Sebuah hubungan yang diuji dengan waktu bisa saja mengalami kebosanan atau titik jenuh. Inilah musuh utama sebuah hubungan: titik jenuh. Sebab itu mintalah hikmat dari Tuhan supaya kamu bisa menjadi lebih kreatif dalam membangun hubungan.

N- Nyatakan kepada dunia apa yang telah kamu alami dari hubungan persahabatanmu itu. Biarlah dunia diberkati oleh kesaksian atas persahabatan yang dialami oleh anak-anak Tuhan. Buktikan bahwa kita memiliki Tuhan Yesus yang adalah sahabat sejati, yang memiliki kasih terbesar sebagai Seorang Sahabat (Yoh 15:13). Saat kita, anak-anak Tuhan, membangun sebuah hubungan, itu akan menjadi gambaran bagaimana Allah membangun hubungan dengan kita manusia. Sebab itu miliki nilai-nilai yang Tuhan Yesus tunjukkan sebagai Sahabat: Pengorbanan, Kasih, Penerimaan, Kemurahan Hati, Ketegasan yang membangun, Kesetiaan, Memiliki Visi yang jelas, dan banyak hal lainnya yang akan kita temukan jika kita mengenal Dia.