Siapa yang jahat? Ayo ngaku!

3

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Pernahkah kita berkenalan dengan seseorang dan kita bilang ke teman kita sambil berbisik-bisik ,” Sepertinya dia bukan orang baik- baik”. Atau mungkin kita bilang sebaliknya ,” Sepertinya dia orang baik”. Apa yang menjadi dasar buat kita menilai seseorang baik atau jahat? Bagi sebagian orang, mungkin itu intuisi, perasaan tidak enak yang muncul sewaktu berkenalan dengan seseorang. Mungkin juga bentuk muka dan penampilan orang itu misalnya, alis miring ke atas, bertato jangkar di tangan kanan, bertato naga di punggung, berkacamata hitam dan membawa pedang kayu? Atau mungkin garis keturunannya? Apa sebenarnya yang membedakan orang jahat dan orang baik? Kenapa kita menyebut seseorang baik seperti malaikat dan jahat seperti iblis?

Lombroso berpendapat bentuk muka seseoranglah yang menunjukkan seseorang jahat atau baik. Tepatnya namanya Cesare Lombroso, seorang mantan dokter bedah tentara di kota Pesare di Itali bagian utara. Lombroso berpendapat bahwa seorang kriminal bisa langsung dikenali dari bentuk mukanya. Kriminal cenderung mempunyai rahang yang lebar,tulang pipi yang tinggi, tangan yang panjang ( bukan, bukan perumpaman tapi memang ukuran tangannya panjang) dan kuping yang besar. Teorinya cukup terkenal di abad 19 walaupun pada akhirnya ditinggalkan karena, tentu saja, tidak ada data ilmiah yang menjadi dasarnya.

Lombroso bukan orang pertama yang mengemukakan teori ini. Di abad sebelumnya, abad 18, seorang dokter dari Vienna bernama Franz Joseph Gall percaya bahwa sifat seseorang ditunjukkan oleh bentuk tengkorak kepalanya.
Mungkin garis keturunan kalau begitu? Kalau ayahnya kriminal ya anaknya kriminal juga? Kalau iya, berarti mungkin saya kriminal juga dan memang saya pernah dituduh seperti itu. Pertama kali saya berkunjung ke rumah pacar saya, saya ngobrol-ngobrol dengan neneknya. Saya sendiri lupa bagaimana awalnya, yang pasti neneknya kemudian bilang kalau anak angkat itu biasanya bukan orang baik – baik. Waktu itu saya cuma tersenyum dan tidak ngomong apa – apa. Kenapa? Karena saya sendiri anak angkat. Mama saya meninggal waktu melahirkan saya dan papa saya kabur waktu mama saya mengandung. Dan walaupun saya rasa saya bukan orang suci, tapi kecuali melanggar lampu merah, rasanya saya ga pernah bikin perbuatan kriminal

Saya menemukan fakta yang menarik dari 2 buku mengenai soal orang baik dan jahat ini. Yang pertama buku “ Evil” karangan Roy F. Baumeister dan buku “ People Of The Lie” karangan M. Scott Peck. Menurut Baumeister, orang-orang yang melakukan perbuatan jahat tidak pernah merasa dirinya jahat. Mereka punya banyak cara untuk menjelaskan perbuatan mereka.

Yang pertama adalah mengecilkan perbuatan mereka. “ Ah, saya cuma mukul beberapa kali kok, dianya aja yang cengeng. Dipukul dikit aja langsung pingsan”. Bahkan pembunuh berantai yang diwawancara pun meremehkan perbuatan mereka seolah-olah itu tidak seberapa.

Yang kedua adalah, saya tidak punya pilihan dan saya terpaksa melakukannya. Itulah yang dikatakan prajurit – prajurit Jerman yang membunuh orang – orang Yahudi di masa Perang Dunia 2. Mereka mengakui bahwa mereka menembak para penduduk Yahudi tapi kemudian melemparkan kesalahan itu dan berkata, “ Kami diperintahkan untuk itu. Kami terpaksa melakukannya”.

Alasan yang ketiga, kejahatan itu dilakukan untuk kebaikan korbannya. Ketika terjadi kerusuhan etnis di Rwanda, orang-orang dewasa membunuh anak-anak kecil dengan alasan mereka lebih baik mati karena anak yatim piatu tidak akan bisa bertahan di masa perang. Pemilik budak di Amerika mengatakan kalau mereka melakukan kebaikan untuk para budak karena mereka membawa Injil bagi para budak itu.

Sebenarnya masih banyak alasan lain, tapi intinya tetap sama. Sangat jarang ada penjahat yang mengakui kesalahannya dengan terus terang. Kebanyakan dari mereka menghindari untuk mengakui kesalahan mereka dengan berbagai cara dan karenanya menolak untuk bertanggung jawab atas perbuatan jahat yang mereka lakukan. Untuk alasan yang tidak diketahui, manusia mempunyai kecenderungan untuk menolak mengakui diri mereka sebagai orang jahat sekalipun mereka jelas – jelas melakukan kesalahan. Bahkan sampai batas yang bisa membuat orang tidak bisa berkata-kata. Seorang pemerkosa yang diwawancara mengatakan kalau korbannya beruntung diperkosa olehnya karena nama mereka jadi masuk ke koran dan terkenal. Dan ini bukan sekedar menolak mengaku salah karena takut dihukum, tapi alasan-alasan itu dipakai untuk membenarkan diri dan menghilangkan rasa bersalah.

M. Scott Peck bahkan menemukan kasus yang lebih menarik. Sepasang orangtua datang kepadanya untuk meminta pertolongan bagi anak mereka yang bermasalah di sekolah. Setelah diwawancara, ternyata anak ini tidak menyukai sekolahnya dan dia ingin masuk ke jurusan yang lain. Tapi orangtuanya menolak untuk mendengarkan dia dan tetap memaksanya masuk ke sekolah itu. Ketika sepasang orangtua ini mendengar laporan itu, mereka tersenyum dengan sopan dan berkata kalau sekolah itu sekolah yang terbaik. Yang menarik disini bukan saja mereka tidak mengaku salah tapi mereka bahkan tidak mengakui kalau mereka bisa membuat kesalahan. Mereka merasa kalau mereka sudah melakukan yang terbaik untuk anak mereka dan kalau ada masalah pastilah masalahnya bukan di mereka tapi di anak itu sendiri atau di teman dan guru anak itu. Sama sekali tidak terlintas di pikiran mereka kalau mereka juga bisa salah mengambil keputusan.

Buat saya kedua buku ini menarik karena walaupun pengarangnya dua orang yang berbeda dan meneliti orang-orang yang berbeda tapi ternyata hasilnya sama. Orang-orang yang melakukan kejahatan tidak mau mengakui kejahatan mereka. Dan mereka mencari berbagai macam pembenaran untuk perbuatan mereka, dan sedihnya seringkali agama yang menjadi alasan. Paling tidak itulah yang dilakukan tentara perang Salib. Prajurit Kristen yang tertangkap musuh seringkali dibebaskan setelah bersumpah untuk tidak berperang lagi. Tapi ketika mereka kembali ke kelompok mereka, mereka menyadari kalau kelompok mereka kalah dan mereka harus berperang lagi. Tapi mereka juga sudah bersumpah, jadi bagaimana? Jalan keluarnya? Keluarlah peraturan bahwa melanggar sumpah yang diberikan pada orang bukan Kristen bukanlah dosa.

Lalu bagaimana dengan orang suci? Saya pernah membaca satu paradoks mengenai orang suci, “ Orang suci adalah orang yang paling menyadari dosa-dosanya”. Dan setelah saya membaca mengenai orang jahat, saya pikir paradoks ini memang benar. Daud tentu saja bisa diam-diam saja soal perkaranya dengan Batsyeba, bahkan sekalipun nabi Natan menulis hal itu, Daud bisa saja menghapuskannya. Tapi nyatanya cerita Daud tetap bisa kita baca sekarang ini yang berarti Daud mengakui kesalahannya dan tidak berusaha menyembunyikannya. Begitu juga dengan Petrus, hanya Petrus dan Tuhan saja yang tahu soal ayam jago kan? Tapi nyatanya kitab Injil menulis cerita pengkhianatan Petrus. Dan Agustinus, bapa gereja di abad pertama, di masa tuanya menulis bukunya yang paling terkenal, “ Confession” yang menceritakan dosa-dosanya di masa lalu.

Dan saya pikir itulah yang membedakan orang baik dan orang jahat. Orang baik bukanlah orang yang sedikit berbuat salah dan orang jahat banyak berbuat salah. Kita semua sudah berdosa, tidak ada seorangpun yang tidak berdosa. Bedanya hanya sebagian menolak mengakui kesalahan mereka dan hidup dengan pembenaran diri sendiri, sebagian lagi mengakui kesalahan mereka dan mencari pengampunan.

Tentu saja mengakui bahwa kita bersalah saja tidak cukup. Rasa bersalah tanpa pengampunan hanya akan menjadikan seseorang putus asa, sama seperti Yudas. Yudas bunuh diri bukan karena Tuhan tidak mengampuni, tapi karena Yudas tidak mencari pengampunan seperti Petrus memohon ampun. Kita semua berbuat salah, tapi hanya yang mengakui dan meminta ampun akan dikuduskan.

Terakhir, ini sebenarnya pertanyaan pribadi dan ga perlu dipikirin jungkir balik. Saya selalu bertanya-tanya kenapa sesudah Adam dan hawa makan buah, Tuhan tidak langsung menghukum mereka? Tentunya waktu mereka memetik buah itu pun Tuhan langsung tahu kan? Tapi Tuhan tidak langsung muncul, Adam dan Hawa bahkan masih sempat membuat cawat dari pohon ara. Bahkan waktu Tuhan datang pun Tuhan tidak terburu – buru, Tuhan “ berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk’. Bahkan sepertinya Tuhan berpura-pura tidak tahu dan tidak langsung menuduh Adam dan hawa.

Saya bertanya-tanya, seandainya waktu itu Adam langsung mengaku salah dan memohon ampun daripada melemparkan kesalahan pada Hawa “ Perempuan yang kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’. Seandainya waktu itu Adam meminta ampun, akankah Tuhan mengampuni? Akankah kita dibuang dari firdaus?

Satu hal yang pasti, kita tidak banyak berubah dari jaman Adam. Kita tetap mempunyai kecenderungan untuk menolak mengakui kesalahan dan melemparkan tanggung jawab. Kita berusaha mencapai Tuhan dengan menunjukkan diri kita sebagai orang baik. Padahal yang diinginkan Tuhan sama seperti yang diinginkan Yusuf. Ketika saudara-saudaranya mengakui dosa mereka, Yusuf langsung memeluk dan mengampuni mereka dan memebawa mereka hidup di dalam kerajaannya, jauh dari penderitaan dan kelaparan.

Orang jahat mencari pembenaran, tapi orang suci mencari pengampunan.

Ditulis oleh Tukang Bakmi

Untuk yang Lebih dari Permata

Category : FOSters Creativity

Kasihan kau, Via. Kau begitu tergila-gila pada seorang pria yang tidak akan pernah kau miliki. Pria itu berhidung mancung, selalu dengan kemeja yang licin. Tingginya tak lebih dari 170 cm, dagunya runcing dan itu membuat ketampanannya semakin kuat. Sebagian rambutnya berwarna hitam dan sebagian berwarna putih. Matanya ramah dengan kerutan di sekelilingnya. Bila pria itu tersenyum, kerutan di sekitar bibirnya akan tertarik. Pria itu humoris dan cerdas. Ia bijak dan berwibawa. Karena ia seorang Pendeta yang sudah berkeluarga, maka kau tidak akan pernah memilikinya.

Kasihan kau, Via. Hatimu tertancap pada seorang pria yang tak mungkin kau raih. Pria itu bermata tajam, dan mata itu memancarkan kecerdasan dan wibawa tiada tara. Kacamata tanpa bingkai membuat pesonanya semakin menjadi-jadi. Suaranya merdu dan senyumnya luar biasa dengan lesung pipinya. Tingginya tak lebih dari 170 cm dan ia berkulit coklat. Setiap kali pria itu berbicara dengan buku di tangannya, kau akan tahan diam dengan fokus yang sulit dipercaya selama dua jam pelajaran, sesuatu yang tidak biasa untuk gadis tujuh belas tahun seperti mu. Hampir tiap malam kau membaca buku yang selalu dipegang pria itu saat mengajar di kelas, dan karenanya kau hampir hapal isi buku tersebut.

Via, malang benar kau. Berpikir kalau ini tidak wajar dan kau merasa sedih. “Kenapa bukan pemain basket, atau seorang anggota OSIS yang aku sukai?” demikian kau terus berpikir dan makin lama kau makin terpuruk saja. Kau merasa berbeda, merasa aneh, karena pria dalam hatimu adalah pria yang sudah berkeluarga dan pria dengan selisih usia dua puluh tahun.

Setelah sedih yang berkepanjangan, kau sadar bahwa… Bahwa sudah lama sekali kau berangan-angan “seandainya, ya seandainya, Ayahku seperti dia”. Ah Via, air matamu mengalir lagi, saat kau sadar bahwa… Bahwa kau menginginkan sosok Ayah berhidung mancung dengan senyum ramah. Atau Ayah dengan mata tajam nan cerdas dan penuh wibawa. Kini kau tidak lagi merasa aneh, tapi kau hancur. Kenyataan, perasaan, dan keinginan membuat kau semakin sedih. Kau memiliki Ayah yang luar biasa tampan, itu pendapat semua orang. Tapi bahkan ketampanan tak akan pernah menyembuhkan luka pada punggungmu, luka yang terbentuk dari ikat pinggang Ayah. Tidak pula luka pada hatimu, yang kian lama kian sakit. Ah Via, kasihan benar kau…

Akan menjadi orang tua seperti apa kita nanti? Mungkin hal itu masih jauh dari pikiran dan angan-angan, masih sepuluh, delapan, atau lima tahun lagi saat kita berkeluarga. Akankah  yang lebih dari permata, yang kita nantikan dalam kehidupan keluarga kita kelak, yakni anak-anak kita, mengalami kepahitan yang anak-anak lain rasakan atau  yang pernah atau sedang kita alami? Bukan hal yang terlalu dini bagi kita untuk belajar menjadi seorang yang penuh kasih dan menjadi peduli. Walau masih sepuluh, delapan, atau lima tahun lagi,  untuk yang lebih dari permata dalam kehidupan berkeluarga kita kelak, yakni anak-anak pilihan-Nya, anak-anak yang lebih dari permata bagi Tuhan dan yang begitu dikasihi-Nya melebihi apapun.

Ditulis Oleh_ENS FOS Community

Tensoplast di Jari Tuhan

Category : Simply Articles

Aku melihat banyak pintu – pintu di depanku

Pintu – pintu yang menarik dan bersinar

Pintu – pintu yang menjanjikan banyak hal indah di baliknya.

Dan aku melihat banyak orang berdiri di sampingku

Dan aku melihat mereka berjalan menuju tiap – tiap pintu

Dan mereka masuk melewati pintu itu menuju masa depan di baliknya

Aku berdiri termenung di depan pintu – pintu itu

Dimanakah pintu yang harus kulewati?

Dan apakah ada pintu yang terbuka untukku?

Lihatlah, ada pintu yang setengah terbuka

Tapi…pintu itu terlalu bagus..sangat bagus

Pintu itu terlalu bagus bagi orang sepertiku

Mungkin pintu itu terbuka untuk orang lain

Mataku mencari pintu lain…yang lebih sederhana

Mungkin pintu yang terletak di pojok…

Mungkin pintu yang ukurannya paling kecil…

Mungkin pintu kayu polos tanpa hiasan…

Aku berjalan dari ujung ke ujung mencari pintu milikku

Tapi, setiap aku melewati pintu itu, aku selalu bertanya – tanya

Apa yang ada di baliknya?

Bolehkah pintu itu menjadi milikku?

“ Cukup!!!”

“ Pintu yang setengah terbuka itu menggangguku!!”

“ Pintu itu membuatku memimpikan banyak hal yang bukan milikku!!”

“ Lebih baik kututup pintu itu dan berhenti memimpikannya!!”

Kubanting pintu itu sampai menutup…BRAKKKKK……..aduh……

Hmmm…apakah aku mendengar suara orang mengaduh???

Hmmm….mungkin hanya perasaanku???

Dan aku duduk di depan pintu – pintu itu, menunggu pintu milikku terbuka

Dan lihatlah, Yesus datang menghampiriku

Dia memegang tanganku dan menarikku berdiri

Aku terheran –heran ketika melihat tanganNYA

Mengapa ? Karena kulihat ada tensoplast di jari tangannya

Tensoplast bermotif garis – garis kulit zebra

“Tuhan, mengapa jariMU terluka? Siapa yang melukaiMU ?”

“ Oh, jariKU tadi terjepit pintu..”

“ Terjepit pintu? Kenapa itu bisa terjadi Tuhan?”

“ Sebenarnya AKU sedang menunggu seseorang di balik salah satu pintu ini. AKU membukakan sedikit pintu itu untuknya supaya dia tahu AKU menunggu di baliknya. Tapi, dia tidak juga membuka pintu itu. “

“Tadinya akan KUbuka pintu itu lebih lebar tapi waktu AKU memegang pintu itu, tiba – tiba pintu itu terbanting menutup dengan keras. Dan karena itulah AKU memakai tensoplast ini.”

“ Dan karena orang itu tidak datang menemuiKU, AKU datang menjemputnya untuk bersama-sama melewati pintu itu ke masa depan yang KUjanjikan”

PS : Mungkin kita merasa masa depan kita suram dan Tuhan tidak akan memberikan masa depan yang berkemenangan. Mungkin kita merasa visi yang Tuhan berikan terlalu bagus untuk kita. Jangan tutup pintu itu karena merasa kita tidak layak untuk melewatinya atau karena kita merasa pintu itu bukan untuk kita. Karena Tuhanlah yang membuka dan menutup pintu, bukan kita..

Ditulis oleh Tukang Bakmi

Lagi Patah Hati?

4

Category : Asides

Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya ‘patah hati’ entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin karena melihat orang yang secara diam-diam kita sayang tiba-tiba jadian sama orang lain.. Duuuh.. rasanya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata..

Nah.. biasanya lagi, kalo yang namanya lagi patah hati, kita jadi enggak semangat buat ngapa-ngapain.. Makan males, belajar males, kerja males, mandi males (waduh?) dan yang paling gawatnya lagi sampai-sampai ke gereja juga jadi males! Ini dia nih FOSters yang kadang-kadang mungkin kita enggak sadari.. Sewaktu kita lagi patah hati karena masalah cinta, beberapa dari kita malah jadi cenderung menjauh dari Tuhan, jangankan baca Alkitab, doa aja juga males, kita mungkin lebih memilih menghabiskan waktu kita buat curhat sama sahabat-sahabat kita dibanding ‘curhat’ sama Tuhan…

FOSters, kalian tahu enggak, kalo kita punya Allah yang bukan cuman punya kasih tapi Dia adalah Kasih itu sendiri.. GOD is Love.. Dan kasih yang Dia miliki bukan sembarang kasih, tapi kasih yang sempurna.. Kita mungkin mikirnya kalo masalah lain sih Tuhan mungkin mengerti tapi kalo masalah hati dan masalah anak muda seperti ini, apa Tuhan mau peduli juga? Apa Tuhan tahu yah rasanya saat aku bilang “Tuhan aku sayang sama seseorang tapi orang itu enggak bales rasa sayang aku, dan sekarang hati aku rasanya sedih banget..”

FOSters 2000 tahun yang lalu Dia datang menyatakan kasih-Nya pada umat-Nya, dan apa yang terjadi? banyak yang menolak-Nya, mengkhianati-Nya, bahkan hingga saat ini.. Kalau kalian pikir bahwa Tuhan enggak tahu rasanya ditolak, kalian harus berpikir ulang. Apa yang kita rasakan saat sedang patah hati karena cinta, ENGGAK ADA APA-APANYA dibanding apa yang pernah Ia rasakan..

Dan karena Ia tahu rasanya, Ia juga peduli dengan keadaan hati kita.. Tuhan sanggup memulihkan hati kita karena Dia memiliki Kasih yang sempurna yang dapat memenuhi hati kita. Dan saat hati kita dipenuhi oleh Kasih Allah (Kasih Agape) Percaya deh, kita enggak lagi tergantung oleh perasaan kita yang sering berubah karena cinta. Dengan kasih Allah kita bisa mengasihi orang lain dengan lebih tulus dan enggak peduli LAGI PATAH HATI atau enggak. kita akan selalu semangat menjalani hidup^^. Karena kita tahu Allah selalu berada di dekat kita dan Kasih yang dari Allah cukup untuk membuat kita selalu bersukacita :)

Mazmur 34:19 “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

So Be Blessed FOSters! Love Your Lord and Live Your Life Graciously^^

Ditulis oleh : LNY_FOS Community

Karena Allah adalah Kasih dan Kita adalah AnakNya

2

Category : Simply Articles

Suatu saat aku diajak mampir sama papa untuk beli makanan burung. Di tempat itu, banyak sekali burung-burung yang dikurung dalam sangkar. Dan beberapa dari burung itu aktif berloncatan, ke kiri, ke kanan, ke atas, dan ke bawah, sembari mengepak-ngepakan sayap mereka.

Tiba-tiba terpikirkan suatu hal, seandainya burung itu dikurung dalam sangkar begitu lama, bahkan mungkin semasa hidupnya, kira-kira saat dilepaskan dari sangkar ke alam liar, apakah mereka dapat terbang dengan baik dan leluasa ?? Apakah sayap-sayap mereka masih bisa berfungsi dengan baik yah ??

Hayooo dijawab atuh, kira-kira bisa nggak yah ??

Jawabannya adalah BISA, karena aku melihat dengan mataku sendiri, burung yang telah lama dikurung dalam sangkar, saat dilepaskan, dia terbang, walaupun butuh beberapa menit untuk melatih sayapnya.

Burung itu bisa terbang, karena memang pada hakikatnya burung itu makhluk yang diciptakan untuk terbang (tentu saja selain burung penguin dan burung unta yah..hehehe). Burung memang diciptakan Tuhan untuk menghiasi langit dengan keindahan bulu dan sayapnya. Entah seberapa lama burung itu dikurung dalam sangkar, yang bahkan kecil sekalipun, yang mengkungkung kebebasannya untuk dapat terbang, pada saatnya dia dilepaskan atau melepaskan diri dari sangkar itu, dia pasti akan terbang juga. Itulah gunanya sayap pada burung.

Fosters, pernah terpikirkan nggak di benak kamu, apakah pembunuh sadis yang melakukan mutilasi pada setiap korbannya bisa menangis saat ada seseorang yang mengasihi dia, atau bahkan bisakah seorang mafia bayaran bengis dan terkenal kejam menunjukan kasihnya kepada nenek renta untuk menyebrang jalan ?

Aku percaya bahwa kasih adalah hakikat kita, sama seperti burung yang memilik sayap untuk bisa terbang, Tuhan memberikan kita hati untuk bisa mengasihi. Allah adalah kasih, dan karena kita segambar dan serupa dengan Dia, maka harusnya kita juga mewarisi kasih itu. Kasih itu bersifat kekal dan itulah hakikat kita.

Kadang permasalahan hidup yang berat, berada dalam keluarga yang sama sekali tidak menunjukan kehangatan kasih keluarga, berada di lingkungan kerja yang saling sikut dan bos yang galak, jauh dari orang tua, jauh dari rumah, jauh dari sahabat-sahabat yang mengasihi dan kita kasihi, dan belum menemukan pasangan hidup yang dari Tuhan, membuat kita tidak bisa “mengepak-ngepakkan” sayap kasih kita. Semua itu mengekang kita, membuat hati kita beku, membuat kasih seakan-akan jauh dari hidup kita, dan nggak jarang membuat kita frustasi bahkan beberapa orang rela mengakhiri hidupnya hanya karena tidak ada yang mengasihinya atau karena cintanya ditolak sang pujaan hati. Belenggu-belenggu dan “sangkar” itu acapkali membuat kita lupa bagaimana mengasihi dan mengerti apa kasih itu. Kasih menjadi dingin, hati menjadi mati rasa dan hidup menjadi sangat tidak nyaman. Tidak ada yang betah di dalam “sangkar”, bahkan burungpun ingin bebas dari sangkar.

Tapi jangan lupa, kalo kasih itu bersifat kekal di hidup kita, karena kasih adalah hakikat kita, Love is a life. Have a love to get a life, and have a life to give a love. Selama masih ada hati, kita masih sangat mungkin untuk mengasihi. Akan ada saatnya pintu “sangkar” itu dibuka, dan kita bisa dengan bebas “mengepak-ngepakan” hati kita untuk kembali merasakan kasih itu. Bahkan saat kita di dalam “sangkar” itupun toh kita masih bisa melatih “mengepak-ngepakkan” sayap kasih kita.

Seberat apapun masalah mengurung hati kita, sebesar apapun “teralis-teralis” kehidupan berusaha mematikan kasih kita, jangan sampai kasih kita menjadi dingin. Bukalah hatimu selebar-lebarnya di dalam sempitnya “sangkar” yang ditempatkan untuk kita. Karena dibalik masalah yang menghimpit dan cukup sempit itu ada kasih yang senantiasa ada untuk kita, Kasih yang besar dan tak terhingga.

Kita ada karena kasihNya. Dan kita ada untuk mengasihi Dia dan sesama kita, tidak peduli “sangkar” apa yang coba mengurung kita. Karena kasih adalah hakikat, dan kasih itu melampaui segala sesuatu.

Selama burung masih memiliki sayap, dia masih dapat terbang walaupun terkurung sedemikian lama. Selama kita masih memiliki hati dan memiliki Yesus yang akan mengasihi kita selama-lamanya, selama itulah kasih itu akan dan harus terpancar dalam hidup kita.

Karena Allah adalah kasih, dan kita adalah anakNya.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. “ (1 Yohanes 4:7-8)

Ditulis oleh KSW_FOS Community

Istana Kaca yang Dibangun Kembali

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Beberapa tahun sudah berlalu sejak peristiwa runtuhnya istana kaca dan raja terdahulu sudah kembali ke tahtanya dan meredakan kekacauan. Dan sang raja yang gagal, kembali ke kehidupannya semula sebagai petani. Jika dulu dia selalu mengomel tentang hidupnya, petani ini sekarang perlahan-lahan mulai mensyukuri hidupnya dan berbahagia mengolah ladang kecil di pojok kerajaan.

Sampai tiba harinya raja datang kembali ke rumahnya. Kali ini petani tidak kaget lagi, dia justru takut dan cemas karena dia tahu apa tujuan raja datang ke rumahnya. Dan ketakutannya memang menjadi kenyataan karena raja memintanya untuk bertukar tempat dengannya lagi. Berbeda dengan dulu dimana petani langsung menyambar kesempatan ini tanpa pikir panjang, kali ini petani justru enggan untuk menyetujui pertukaran ini.

“ Aku sudah puas dengan kehidupanku sekarang. Memang tak banyak yang bisa kulakukan tapi hidupku tenang dan damai. Kenapa aku harus mengambil kehidupan sebagai seorang raja?”

“ Karena kau tidak ditakdirkan untuk hal yang biasa-biasa saja tapi ada takdir besar yang menunggumu. Tentu saja menjadi petani pun hal yang baik, tapi kau mempunyai potensi yang melebihi hal itu dan akan sangat menyedihkan kalau kau menyia-nyiakan potensi itu”, jawab raja.

“ Haruskah aku kembali ke kerajaanmu? Tidak bisakah aku pergi ke kerajaan lain? Mungkin penduduk di kerajaan lain tidak akan mengetahui kegagalanku dan mungkin mereka akan menerimaku dengan baik?”

“ Kau bisa saja pergi ke kerajaan lain dan memulai pemerintahan baru disana, tapi itu tidak berarti kerajaanmu akan aman. Lagipula peristiwa runtuhnya menara kaca itu menjadi berita hangat dimana-mana. Kau tidak akan pernah tahu apakah berita itu sampai ke kerajaan lain atau tidak. Dan mungkin suatu hari nanti berita kegagalanmu akan membuat mereka menghancurkan lagi istana kaca yang kau diami disana”

“ Tapi jika aku kembali ke kerajaanmu, bagaimana aku bisa memerintah? Pendudukmu sudah mngetahui kegagalanku dan mereka akan menolakku. Apa gunanya aku menjadi raja kalau mereka menolakku?”, tanya petani itu.

“ Kalau kau mau, aku bisa menggunakan otoritasku sebagai raja untuk membuat mereka mematuhimu sebagai penggantiku. Tapi, kau harus tahu, mereka akan mematuhimu bukan karena otoritasmu tapi otoritasku. Mereka akan mematuhimu bukan karena mereka menghormatimu tapi karena kedudukanmu sebagai raja yang kuwariskan”

“ Bagaimana aku bisa meminta mereka untuk menghormatiku?”, tanya petani itu lagi.

“ Kau tidak bisa meminta mereka untuk menghormatimu. Orang terhormat tidak perlu meminta ntuk dihormati orang lain. Kalau dia memang orang terhormat, tanpa diminta pun orang akan menghormatinya. Orang yang meminta dihormati bukan orang terhormat, melainkan orang yang gila hormat”

“ Tapi, bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau tanpa kepercayaan rakyat tidak akan ada negara? Jangankan menghormatiku, mereka bahkan melemparkan batu ketidakpercayaan padaku. Bagainana aku bisa meminta mereka mempercayaiku?”

“ Betul, mereka tidak percaya lagi padamu. Reruntuhan istana kaca itu adalah bukti yang sangat nyata atas ketidakpercayaan mereka. Kau harus mengerti, kepercayaan bukanlah sesuatu yang diminta dan diberikan. Kepercayaan adalah sesuatu yang harus kau usahakan. Kau tidak meminta seseorang mempercayaimu, kau berusaha menunjukkan kalau kau bisa dipercaya.”

“ Tapi, bagaimana aku bisa membuat mereka mempercayaiku? Apa yang harus kulakukan untuk membuat mereka mempercayaiku lagi?’

“ Kali ini aku tak bisa membantumu, itu sesuatu yang harus kau pikirkan sendiri. Tapi akan kuberi beberapa petunjuk, mengakui kesalahanmu dan meminta maaf adalah langkah awal yang benar. Kegagalanmu akan menyertaimu sepanjang hidupmu dan orang akan selalu membicarakan hal itu. Menutupi hal itu dan berharap orang melupakan sama saja dengan menyiapkan tumpukan batu siap lempar di depan istana kaca yang akan kau bangun”.

“ Dan kau harus melakukan sesuatu yang berharga yang melebihi semua kegagalanmu. Seberapa besar kegagalanmu, sebesar itu jugalah kau harus menanggungnya dan melakukan hal yang melebihi kegagalan itu. Sampai suatu hari nanti orang bisa berkata tentang dirimu bukan lagi “ dia orang gagal” melainkan “ Dulu dia orang gagal, tapi sekarang…..”. Kegagalanmu di masa lalu tak akan pernah hilang, tapi bukan berarti masa kini dan masa depanmu hilang”

Petani itu merenungkan hal itu. Dia tahu kalau dia bisa memilih untuk hidup tenang di pertaniannya atau pergi ke kerajaan lain. Tapi dia juga tahu kalau itu hanya mengubur kegagalannya dan menjauhi takdirnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan sekarang tapi dia juga tahu kesusahan yang akan menimpanya.

Esok harinya, sementara raja tidur di pondoknya, petani ini pergi ke kota untuk melakukan apa yang harus dia lakukan.Tentu saja penduduk kota mengenali bekas raja mereka yang gagal ini dan mereka mengolok-oloknya, beberapa bahkan mencoba mengusirnya pergi. Tapi petani ini tetap pergi ke tempat dia harus pergi, yaitu ke reruntuhan istana kacanya. Istana kacanya yang dulu megah sekarang hanya tersisa puing-puing.

Tanpa mempedulikan penduduk kota yang mengejeknya, petani ini mengambil puing-puing kaca satu demi satu dan merekatkannya kembali. Berhari-hari dia melakukan hal itu, merekatkan pecahan kaca dan membangunnya kembali. Seringkali bangunan yang baru dibangunnya itu kembali harus hancur karena ada penduduk kota yang melempar batu ketidakpercayaan, tapi petani ini mengambil kembali serpihan kaca yang hancur dan merekatkannya.

Sampai tiba harinya dimana kehormatan dipulihkan dan kepercayaan dinyatakan adalah hari dimana istana kaca kembali berdiri. Dan raja sejati memenuhi takdirnya.

Ditulis oleh Tukang Bakmi