Ngik.. Ngik.. Ngik..

Category : Simply Articles

Uuuhhhhhh… Sepertinya tidurku kali ini akan terganggu lagi. Hariku akan berulang lagi, dan aku benci mengakui ini,

“AKU BENCI DIRIKU !!!”

Setiap kudengar suara beberapa orang bercakap-cakap, biasanya berakhir dengan tali pengekang di leherku yang ditarik paksa untuk membangunkan aku dari tidur nyenyak. Aku sangat tahu pasti kemana aku akan dibawa dan bagaimana aku diperlakukan.

Beban lagi yang harus kubawa, orang dengan kayu dan cambukan lagi yang aku lihat, jalanan becek dan berlubang lagi yang harus kulalui, suara anak-anak kecil yang mengejekku karena tubuhku kecil mungil dan tidak rupawan, dan sepertinya hari ini akan berakhir dengan pegalnya keempat kakiku, bekas rotan di badanku, peluh di wajahku, ejekan yang bersemayam selalu dari anak-anak kecil itu, dan muka tertunduk saat masuk ke rumahku.

“ Aku masih muda, masih tak berotot baja seperti yang lainnya. Kenapa harus aku lagi ? “

Begitu pikirku saat kedua orang tadi mendekatiku.

Dan benar dugaanku, lagi-lagi aku menjadi korban, lagi-lagi aku menjadi alat bagi mereka, lagi-lagi keringatku akan mengucur deras. Begitu mereka melepas tali tambatku, langsung aku keraskan diriku, sebisa mungkin menarik diriku menjauhi mereka, sebisa mungkin membuat mereka terjatuh karena tidak kuat menarikku, tapi apa daya, aku masih sangat muda, tenagaku tak sebanding dengan mereka. Yang ada, semakin aku melakukan itu, semakin sakit leherku dibuatnya. Ditambah rasa kantuk yang masih melanda, aku menurut saja terhadap mereka.

Mereka membawaku kepada seorang pria yang mereka panggil “Guru”, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, sekilas kulihat wajahnya yang penuh kasih dan kebijaksanaan itu. Tapi tetap saja Yesus memegang tongkat, hanya saja tanpa cambuk.

Kulihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada barang yang harus aku bawa, tidak ada beban yang harus aku angkut, lalu untuk apa aku dibawa ke sini, ke hadapan sang “Guru” ini ??

Dia mengelus wajahku, memandangku dan tersenyum kepadaku seakan berkata “jangan kuatir”, dan dengan sedikit lompatan kecil, kini Dia sudah berada di punggungku. Dia menunggangiku, bukan beban ataupun barang, tapi orang. Baru kali ini aku merasakan sensasi ini. Aku merasa dipercaya, aku merasa dikasihi.

Sedikit berat, tetapi aku mau berjuang untuk berjalan, aku mau untuk tetap melangkah sedikit demi sedikit. Rasa sakit di kakiku menahan bobot tubuhnya tak membuatku berhenti, aku tetap melangkah, aku mau berjalan, karena aku dipercaya olehNya.

Rasanya, jalan ini asing bagiku. Tidak ada lubang di sana sini, tidak ada tanah becek yang akan mengotori kakiku, bahkan ada kain-kain berserakan di tanah, ada juga beberapa baju-baju layak pakai, mungkinkah ini akibat angin yang menerbangkan ribuan jemuran para ibu rumah tangga? Sepertinya tidak, karena ada banyak daun-daun juga di jalan ini, dan aku akan melaluinya, sungguh luar biasa.

Aku menajamkan telingaku, tidak ada kata “Bodoh”, “malas”, “pendek”,”kecil”, “kuntet” atau makian lainnya yang kudengar. Yang ada hanyalah kata yang belum pernah kudengar sebelumnya, berulang-ulang dan sangat keras. “Hosana… Hosana..” seperti itulah kata itu terdengar di telingaku, dan aku sadar, bahwa di kiri dan kananku yang tadinya kosong, kini dipenuhi tatapan mata yang melihat ke arahku diiringi tepuk tangan meriah dan kata ini diulang terus menerus. “ Hossana..hossana….hossana..”

Ada apa gerangan, sedang bermimpikah aku?? Aku merasa begitu berharga dan terharu hari ini. Aku dipercayai, aku dikasihi, aku dielu-elukan?? Oh bukan aku yang dielu-elukan, tapi yang ada di atasku, tapi akupun sudah cukup merasa berharga walau hanya seperti itu.

Hari ini, yang kukira akan berakhir dengan tragis, ternyata berakhir dengan luar biasa. Hari yang kukira akan melelahkan, ternyata menjadi menyenangkan, dan muka tertundukku, kini menjadi muka terangkat dengan air mata bahagia di kelopak mataku.

Siapakah Dia ???

Dia yang ada di atasku, Dia yang menunggangku, Dia yang menjadikanku berharga, Dia yang membuat keledai muda sepertiku dilihat banyak orang bahkan diceritakan dan dibaca oleh seluruh dunia. Dia yang dengan lembut mengelus badanku dengan tangannya, bukan dengan kayu dan rotan, Dia yang tersenyum kepadaku dan mempercayaiku, Dia yang namanya dielu-elukan, dan Dia yang tidak malu menaiki keledai muda yang bodoh dan malas ini.

Aku dengar ada yang memanggilnya Guru, ada yang menyebutnya Raja, ada yang memanggilnya Tuan, tetapi bagiku cukup memanggilnya Sahabat, karena baru kali ini aku merasa ada yang mau bersahabat denganku. Dan baru kali ini aku merasakan tangan manusia menyentuhku dan berbicara kepadaku, katanya “ Terima kasih sahabat..”

Dan andaikan kalian menjadi diriku, tidak ada tindakan lain yang bisa kita lakukan selain menatap matanya dan berkata dengan lembut “ ngik….ngik….ngik…” yang artinya “Terima kasih juga Sahabatku..”

Ps : Bukan karena keledai itu berharga makanya Yesus mau menaikinya, tetapi justru karena Yesus mau menaikinya, maka keledai itu menjadi berharga. Kita berharga dan bernilai karena Yesus telah bersedia mati di kayu salib untuk menggantikan kita, untuk menebus kita, dan untuk menjadikan kita sahabatNya. Tak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Lihatlah dirimu, pandanglah dirimu, dan sadarilah bahwa engkau begitu berharga bagiNya.

Meski tak layak diriku

Tetapi kar’na darahMu dan kar’na Kau memanggilku

Kudatang, Yesus, padaMu

(Kidung Jemaat no. 27 bait 1)

Oleh KSW_FOS Community

Pilihan Pelangi

Category : FOSters Creativity, Lifestyle

Namanya Pelangi. Ia hidup di bumi dan karenanya ia juga memiliki pilihan-pilihan seperti makhluk bumi lainnya, manusia.

Pelangi dapat dengan bebas menaruh adiknya di atas lemari, sehingga sang adik dapat berhenti mengacaukan pembuatan makalahnya. Namun Pelangi memilih untuk bermain bersama adik kecil selama lima belas menit, lalu berkutat kembali di depan komputer.

Berbohong sedikit pastilah hal yang lumrah untuk gadis seusianya, lagipula Mama tidak akan mengerti bahwa semua gadis di dunia membutuhkan itu. Tapi Pelangi memilih mengaku pada Mama bahwa ia mengambil selembar uang berwarna biru untuk membeli parfum, walaupun ia tahu bahwa pengakuan itu berarti tidak akan ada uang saku selama tiga hari.

Setelah putus, Pelangi dapat menjalin hubungan yang lebih berani, lebih menghebohkan, untuk menunjukkan pada mantannya, pada kekasih mantannya, bahwa ia adalah salah satu gadis terkenal dan dapat dengan mudah mencari pengganti. Tapi Pelangi memilih untuk menunggu, dan menanti yang terbaik untuknya.

Selalu ada kesempatan untuk mengintip “majalah kaum dewasa” milik seorang penghuni kelasnya, namun Pelangi memilih untuk menutup mata walaupun ia penasaran juga.

Pergi ke Mall pada hari Minggu bersama teman-teman yang lama tak ditemuinya pastilah amat sangat menyenangkan, tapi Pelangi tetap memilih untuk beribadah di gereja walau ia tahu, ia akan dicap sebagai “si sok rohani”.

Pelangi tak dapat memilih di keluarga mana ia akan dilahirkan, dibesarkan. Tapi ia dapat pergi dari rumah dan bila beruntung, ia akan diasuh oleh keluarga tanpa “piring terbang”. Meskipun demikian, ternyata Pelangi memilih untuk bertahan, dan tetap berlutut dalam doanya.

Ia tidak dapat menentukan, apa yang akan terjadi esok hari, untuk hal apa lagi air matanya akan tertumpah. Ia bisa mengambil sebotol obat serangga dan meminumnya dalam sepuluh detik. Tapi ia memilih untuk berharap dan percaya pada Sang Pencipta yang menciptakan hari-hari dalam hidupnya.

Begitu banyak pilihan, sangat membingungkan. Tidak semua pilihan yang dipilih membuat Pelangi senang, tenang, puas diri. Kadang ia merasa takut, khawatir, tertuduh, benarkah ini atau itu adalah pilihan yang tepat?

Meskipun pikiran dan hati Pelangi bingung, dan semakin bingung dengan semua pandangan dan pendapat berjuta orang di sekelilingnya, tapi hidup bagi Tuhan tak pernah disesalinya. Pelangi selalu memiliki pillihan. Ia bisa saja lari, sembunyi, menolak. Tapi Pelangi memilih untuk menghadapinya. Benar-benar tak ragu sedikitpun ia, bahwa hidup bagi Tuhan yang begitu mengasihi Pelangi, adalah pilihan yang paling menyenangkan untuknya. Pilihan yang kadang sulit… Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin kan?

Pelangi sudah memilih. Nah, bagaimana denganmu?

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Diremuk.. Disobek..

Category : Eventgelism, Simply Articles

Setelah kemarin kita publish liputan dari FOS Community Fellowship 14-16 Maret 2010, sekarang saatnya membagikan salah satu hal yang kita dapatkan di event kemarin di sesi paling awal. Di sesi pertama ini Ps. Ferry Felani berbicara mengenai PROSES. Proses apakah itu? Kita baca yuk tulisan dari salah satu FOSters yang telah menulis kembali khotbah PS. Ferry Felani di FCF kemarin^^

Kira-kira apa yah yang diremuk dan disobek? Apakah kerupuk? Oh tidak, apakah itu sebuah telur? Tidak juga… (gajebo mode : on), hehe.

Kali ini aku pengen banget bagiin sesuatu yang sangat memberkati aku dan bagi temen-temen yang lain juga.

Akhir-akhir ini kebanyakan kita suka yang manis-manis. Apalagi khotbah yang meninabobokan. Terus dan terus suka yang manis-manis. Bahas berkat, berkat dan berkat, kasih karunia, kasih karunia… hanya itu yang ingin kita dengar. Kadang kita nggak mau ditegur. Sehingga banyak di antara kita mengalami Diabetes Rohani. Punya luka yang nggak sembuh-sembuh. Walaupun lukanya sudah lama tetapi nggak sembuh-sembuh dan sukar untuk disembuhkan, Itulah cirri-ciri terkena penyakit Diabetes Rohani. Hanya mau yang manis-manis. Padahal yang pahit itu yang selalu menyembuhkan. Contohnya saja obat, walaupun pahit rasanya tetapi menyembuhkan. Contoh lain kalau kita ketemu lebah sering kita bilang “pahit, pahit, pahit” hehe. so, sebenarnya banyak yang pahit-pahit itu malah menyembuhkan.

Apa hubungannya dengan judul di atas? DIREMUKKAN… ketika kita mau dan siap untuk dipakai sama Tuhan, Tuhan mau meremukkan kita terlebih dahulu. Meremukkan apa yang ada dalam diri kita. Terutama Tuhan mau meremukkan keangkuhan kita. Satu saat ketika kita sudah menyerahkan dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat mungkin kita merasa kok masalah kayaknya seneng banget yah menghampiri kita? Ada sebuah kesaksian dari seorang hamba Tuhan, waktu dia baru mengalami lahir baru, keuangan keluarganya malah jadi sulit. mau membeli sesuatu saja, hamba Tuhan ini harus berdoa dulu. Padahal dulunya ketika dia masih berada pada masa manusia lama, dia mudah membeli sesuatu bahkan sering mentraktir temen-temennya. Saat masa-masa kesulitannya dia akhirnya mau menerima bantuan dari temen-temennya. Padahal dia sendiri paling nggak mau menerima bantuan dari orang lain. Tetapi dia terima karena dia tahu Tuhan lagi mau meremukkan dirinya. Remuk dari yang namanya keangkuhan.

DISOBEK… layaknya kertas kado. Sebenernya kertas kado itu diciptakan buat disobek. Buat apa lagi coba kalau nggak buat disobek? Kadang ada orang yang mau buka kertas kado itu pelan-pelan, dijaga jangan sampai sobek. Seperti itulah kadang kita dengan dosa. Sayang untuk menyobek dosa. Padahal harusnya dosa itu harus disobek seperti kertas kado.

Setelah kita mau diremuk dan disobek, kita harus menggunakan hidup sebaik-baiknya. Jangan sampai kita tidak mempergunakan waktu dan hidup dengan sebaik-baiknya. Andai saja salah satu dari kalian dikasih Blackberry dari seorang sahabat kalian, apa yang kalian lakukan? Apakah hanya dipajang di dinding, segelnya nggak dibuka sampai kapanpun dengan alasan mau menghargai dan menghormati yang memberikan blackberry itu? Atau kita hanya pakai buat telepon dan sms saja? Beh… rugi banget kali! Padahal fasilitas dari Blackberry nggak hanya bisa telepon dan sms doang, tapi bisa internet-an, radio, ada kamera, bisa BBM-an (BlackBerry Messengers) dan fasilitas lengkap lainnya. Sayang banget kan kalau kita hanya bisa menggunakan telepon dan sms saja dan nggak mau menggunakan fasilitas lainnya? Itu sama saja seperti kita yang nggak mau hidup maksimal alias hidup di bawah kapasitas rata-rata. Guys, jangan mau hidup kita di bawah kapasitas! Yuk, kita maksimalkan hidup kita untuk kemuliaanNya. Hidup harus ada tujuannya, agar kita tahu bagaimana kita memaksimalkan hidup kita.

Setelah kita selalu memaksimalkan hidup kita, jadilah jawaban bagi orang di sekelilingmu. Kadang kita sebagai orang Kristen kalau ada salah seorang temen atau sahabat kita yang curhat sama kita, kita malah makin membuat keadaan menjadi kacau bukan malah menenangkan dan memberi solusi. Kita malah membuat masalahnya tambah besar. Padahal seharusnya kita bisa menenangkan dan memberi solusi. Guys, dalam 2 Raja-Raja 6:1-7 di situ dibilang kalau nabi Elisa mengambil mata kapak seseorang yang menebang pohon yang tenggelam dengan menggunakan sebatang pohon dan timbullah mata kapak itu di permukaan air. Kenapa nabi Elisa memakai sebatang pohon untuk mencari mata kapak yang tenggelam? Kenapa nabi Elisa tidak nyebur berenang untuk mencari mata kapak itu? Jawabannya – Karena nggak semua hal dipercayakan Tuhan sama kita oleh sebab itu kita harus tetep fokus pada pelayanan kita yang udah Tuhan percayakan untuk kita kerjakan. Serta karena Tuhan mau kita dipakai lebih lagi Seperti itu juga Tuhan nggak hanya pakai pendeta atau hamba-hanba Tuhan lainnya. Dia juga mau pakai kita untuk terlibat dalam kegerakan-Nya walaupun kita nggak dikenal atau nggak di perhitungkan tetapi kita bisa membawa solusi bagi sekeliling kita seperti sebatang kayu yang digunakan oleh nabi Elisa. Apa arti sebenarnya sebatang kayu itu? Kayu berasal dari pohon yang hidup. Ketika kita mengambil sedikit dari batang pohon yang hidup itu lepas dari tubuhnya berarti itu yang disebut kayu. Kayu itu bukan batang pohon yang hidup lagi. Kayu hanyalah sebuah batang pohon yang sudah mati. Begitu juga diri kita, Tuhan mau semua kedagingan kita mati, diremukkan dan disobek. Agar kita bisa menjadi solusi atau jawaban seperti ketika nabi Elisa melemparkan batang kayu itu ke sungai untuk mencari mata kapak yang tenggelam. Memang benar hanya Tuhan yang selalu memberikan jalan keluar atas masalah kita, tapi kita tetap harus membawa solusi dan memberikan rasa aman ketika seseorang membagikan masalahnya kepada kita.

So Guys, kiranya kita mau diremukkan oleh Tuhan, mau menyobek-nyobek dosa kita, mau dibentuk dan diproses dalam memaksimalkan hidup dan jadi seperti batang kayu yang bisa menjadi solusi bagi setiap orang yang membutuhkan..

Khotbah Ps. Ferry Felani

Ditulis kembali oleh R.S

Liputan FOS Community Fellowship (FCF) 14-16 Maret 2010

1

Category : Eventgelism

Shalom FOSters! Tanggal 14-16 Maret yang lalu kita baru saja mengadakan satu buah event sederhana – FOS Community Fellowship atau biasa kita sebut FCF. Acara FCF yang ke-2 kalinya ini diadakan di Villa Liesa – Desa Tugu. Dan untuk liputannya kali ini akan ditulis oleh salah satu FOSters yang mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Mau tahu acaranya seperti apa? Baca liputan di bawah ini yah!

***

Seperti video yang diputar ulang untuk beberapa kejadian yang tak terlupakan, aku mau membagikannya untuk sahabat – sahabatku. Kalau ada yang kurang atau kelebihan harap maklum itu membuktikan aku masih manusia biasa dan bukan video. Jika ada kesamaan tempat, nama tokoh dan karakter itu merupakan unsur kesengajaan, hehehe…

Hari pertama, Minggu 14 Maret 2010


Kami sampai lebih awal dari jadwal atau waktu yang sudah diperkirakan, yaitu jam 10.30 am. Cuma ada satu kata yang terdengar ketika membuka pintu dan mulai melangkah melewati pintu rumah ini. “Bagus” menurutku itu kata yang cocok untuk menggambarkan apa yang dimiliki rumah ini. Rumah ini cukup besar memiliki 5 buah kamar yang besar-besar tapi yang bisa dipakai cuma 3 aja + kamar terbuka di tingkat dua, ada 2 kamar mandi yang cukup mewah tapi tanpa bathtub, terus ada meja makan lengkap dengan lemari, kulkas tanpa isi, wastafel dan dapur untuk memasak. Di ruang tamu yang luas ada kursi empuk, kursi goyang dan televisi untuk nonton bareng, ruang ini kami pake untuk ibadah dan tempat kumpul-kumpul. Lalu di bagian depannya ada 2 buah beranda yang luas, lengkap dengan lapangan basket, kolam ikan, saung untuk tempat duduk dan halaman yang luas banget. Hmm..rumah impian yah^^

Nah ini dia nih salah satu Tim Masaknya FCF, Hmm.. lebih cocok disebut tim masak apa tukang sayur yah? ^^

Berdoa bersama untuk menguduskan tempat dan seluruh aktifitas yang akan kita kerjakan selama FCF ini dipimpin oleh k’Ferry. Selanjutkan bagi-bagi kamar dan masak bersama. Saat itu tim masaknya adalah Aku, Dodo, k’Ria (sbg PJ), Siska dan Angel (membantu dengan sukarela) dengan menu makanan : Nasi Goreng Sipir Penjara (yang penting bikin kenyang, sejarahnya dikasih nama itu karena cape banget bikinnya, ngaduk-ngaduk tuh nasi di wajan yang besaaaaaar banget, bayangkan masak bwt 26 org, untung aja ada Dodo ‘n Angel yang bagian ngaduk), telur dadar (k’Ria ‘n Yunita bagian potong2) & kerupuk. Ibadah sesi pertama yang dipimpin oleh k’Ferry, saat itu khotbahnya tentang “Bersedia Diremukan, Disobek dan Diproses sama Tuhan” Setelah itu acara bebas dan makan puding. Dalam acara bebas ini, macam-macam kegiatan yang kita lakukan. Ada yang main musik, nyanyi, main bola, main basket, main badminton dan ada juga yang main karambol. Note : Saat ini main tenis meja belum ngetren.

Di ruang inilah tiap-tiap sesi diadakan. Sesi-sesi yang kesemuanya Simple but Powerfull :)

Sebelum masuk sesi ke-2, kami makan lagi. Menu malam ini adalah Nasi, Sop, Tempe Goreng dan Teh Manis. Sesi ke-2 adalah acara nonton bersama, film yang kita tonton adalah tentang TRANSFORMASI yang terjadi di Cali, Columbia dan Negara Uganda. Bagaimana kedua negara ini dilawat Tuhan secara luar biasa. Sobatku semua, kita perlu memiliki kesatuan hati untuk berdoa bagi bangsa kita yang tercinta ini dan berani jadi inspirasi untuk membawa suatu perubahan, supaya benar-benar Tuhan pulihkan dan terjadi sebuah perubahan besar. Kita semua rindu bangsa ini mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan. Selanjutnya setelah sesi, kami sharing di kamar, untuk sobat ceweknya, aku dipercayakan untuk memimpin. Thx Bapa aku dapat bagian dalam pekerjaan Mu ini. Tema sharing kami adalah “JAGALAH HATI” lain kali aku bahas yah di lain kesempatan.

Lagi pada fokus nonton film TRANSFORMATION nih.. *bukan Transformers loh yaa!!

Hari kedua, Senin 15 maret 2010


SaTe bareng, temanya “Tuhan Punya Tujuan yang Istimewa untuk Setiap Kita Anak-Anak-Nya”. Sebelum kita ada di dunia ini, Allah telah memiliki rancangan yang terbaik untuk kita. so hidup itu harus maksimal. Jangan hidup di bawah kapasitas yang telah Allah percayakan buat kita. Jangan hidup hanya untuk menyelesaikan siklus aja karena hidup kita ini berharga. Kejadian 1 : 26 – 28 dibaca yah^^

Menu sarapan pagi ini adalah Nasi Uduk, Telor Dadar, Tempe dan Kerupuk. Setelah makan kita main games indoor, yaitu nyanyi-nyanyi pakai gerakan yang dipimpin oleh k’Tian. Pertama kita nyanyi lagu “Satu anak Tuhan pergi sekolah minggu, Bapa Abraham, terus making melodies” Note : makin lama, makin gila, hehehe…

Naik – naik ke puncak gunung, tinggi – tinggi sekali, yup kegiatan kita selanjutnya adalah Hiking. Yuk absen, sapa yang nggak ikut? K’Ferry, k’Hotlas, k’Ocep dan k’Vivi. kenapa ayooo kok nggak ikut?? Mau doa aja katanya, yoweis. Mau kemana kita? Mari kita tanyakan PETA, pertama kita melewati jalan setapak yang dikelilingi daun teh lalu melewati tanah becek lalu menyeberangi sungai yang airnya putih, besih dan dingin lalu melewati tanah berbatu yang memiliki ranjau, lalu melewati tanah yang naik turun gitu, lalu menyeberangi sungai lagi lalu melewati jalan yang terjal dan sampailah kita di jalanan beraspal yang luas, di sana baru deh kita ketemu orang, motor dan mobil. Note : setiap tempat yang kita pijak selalu di foto, hahaha…


Setelah hiking, lapeerrrr…menu makan siang hari ini adalah Nasi, Ayam Goreng, Cah Toge dan Sambel ala Maxi. Disini tim masaknya Aku, Dodo, Maxi dan k’Ria. Promosi lagi, hehehe…Note : Setiap tim masak, tim cuci piring dan tim bersih – bersih punya jadwalnya tersendiri.

Sesi ke-3 “BE DIFFERENT” baca Yeremia 1 : 8 -10. Jadilah berbeda, mengapa? Pertama, karena kita memang berbeda. Kita bukan berasal dari dunia ini tetapi kita adalah warga kerajaan Allah yang memiliki integritas sebagai anak-anak Allah. Kedua, karena kita umat pilihan-Nya, kita adalah Israel – Israel rohani-Nya Allah. Ketiga, karena Allah menyertai kita, jelas berbeda antara orang yang mempunyai Allah dengan yang tidak. Setelah menjadi berbeda, next levelnya apa?? Pertama, mempertahankan karakter dan sikap berbeda yang kita miliki. Lebih sulit mempertahankannya sobat, ketimbang kita memulai untuk menjadi berbeda. Kedua, mengembangkan dan menularkannya kepada lingkup yang lebih luas. Ketiga, menjelaskan tujuan kepada sesama, mengapa dan untuk apa kita harus berbeda.


Dinner, menunya adalah Nasi, Sayur Bayam, Nugget, Kopi atau Susu dan Singkong Goreng. Setelah ini kita masuk ke sesi selanjutnya yaitu UNFORGETTABLE MOMENT, selalu berkesan dan ngerasain yang berbeda, padahal secara pribadi ini yang ke-3 kalinya buatku^^ setelah ini kita BARBEKYU! Wah asikkkk.. sambil makan sambil main tenis meja, nggak kerasa jam 03.00 pagi baru tidur, hehehe…

Hari terakhir, Selasa 16 Maret 2010


Waktu cepet banget berlalu, nggak kerasa sudah hari terakhir. Sebelum kita games outdoor, kita breakfast bareng, menunya adalah Bihun Goreng, Telur Dadar dan Kerupuk. Mmm….yummy. Games outdoor ini dipimpin oleh k’Ria dan Epi. Kami dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompokku punya nama LUKAS “LUcu dan tangKAS” yang beranggotakan k’Ocep, Dodo, Satria, Niki, Kim, Mbak Yu, Su dan Aku. Kami harus membuat yel-yel dulu, untuk yang ini di sensor aja yah, karena memalukan banget, hahaha…

Kaki kami diikat selang – seling dengan tali rafia. Kami harus berjalan kedepan untuk mengambil gulungan kertas yang berada di tumpukan terigu dan kami harus mengambilnya dengan mulut kami. Setelah dapat gulungan itu, kami membukanya dan mulai berlari untuk mengerjakan tugas yang sesungguhnya. Yaitu menyusun sebuah ayat alkitab dan sebuah gambar. Setelah itu kami harus berlari lagi dan wajib menghabiskan 3 butir telur dan 1 botol aqua dengan memakai sedotan yang panjang – panjang. Sulit tapi kami berhasil menjadi yang tercepat dengan kata lain kami memenangkan perlombaan ini. Penghargaan pertama yang kami dapat adalah kami berhak untuk melumuri tepung kepada kelompok yang kalah. Asik banget kan dan penghargaan kedua yang semua kelompok juga dapet adalah coklat. Makanan kesukaanku, hehehe…Untuk prakarya dimenangkan oleh Su, sobat kami yang berasal dari Seoul, Korea Selatan. Kartu ucapan unik, yang didalamnya ada cewek dengan pakaian kimono gitu.

Dengan bahan makanan yang tersisa, kami berhasil membuat menu untuk makan siang hari terakhir ini. Setelah berkutat, entah berapa lama k’Ria, k’Yaya, Mbak Yu dan Aku berada disana, sampai–sampai kita nggak ikut moment ‘Jurus Rahasia’ itu. Yang dibawakan oleh Ko Min2, silakan lihat fotonya. Ketidakberadaan kami itu membuktikan kami sedang sibuk – sibuknya memasak. Hehehe…akhirnya jadi juga Cah Kangkung, Telor Dadar dan Omeletnya.

Ini dia nih Jurus Mengatasi Persoalan hidup xD yang intinya cm mau mengingatkan kita selama masih bernapas itu berarti Tuhan belum selesai dengan hidup kita^^

Sharing yang sangat mengharukan pesan dan doa yang luar biasa dari K’Ferry mengakhiri kegiatan kami di FCF ini. Akhirnya tiba waktunya buat kami pulang kembali lagi ke rumah masing-masing. Perjalanan di mobil kami habiskan untuk wawancara dengan Su, dengerin kesaksiannya Erwin, ketawa-ketawa bareng,  foto-foto, sharing dan sebagian tidur^^

Kesimpulannya FCF kemarin sangat memberkati dan menginspirasi. Pokoknya nyesel banget deh yang kemaren enggak bisa ikut. Karena banyak sekali berkat yang bisa didapatkan ^^ Sampai jumpa di FEC (event kita selanjutnya setelah FCF) nanti ya!!

Ditulis Oleh : RCA

Pario dan Puigi, Si Tukang Ledeng

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Pshhhh…psshhhhhh…psssshhhhhh

Kota Jamur sedang dalam keadaaan darurat, suara ini terdengar dimana-mana. Dari setiap rumah penduduk terdengar bunyi “ Pshhh” dan seruan gusar pemiliknya. Suara apakah ini? Suara itu keluar dari kran air di wastafel, di kamar mandi dan dimana-mana. Suara air mengalir yang biasanya kinidigantikan oleh bunyi angin yang mengalir di saluran ledeng. King Kappa, musuh kota itu, berhasil menghancurkan sistem saluran air bersih ke Kota Jamur. Dan akibatnya penduduk kota tidak bisa mendapatkan air untuk minum, mandi dan mencuci pakaian. Dalam sekejap kota itu menjadi kota yang sangat kotor, dimana-mana orang-orang berbibir kering dan memakai baju berbau keringat yang lama tidak dicuci. Harapan kota ini hanya terletak pada Pario dan Puigi bersaudara, tukang ledeng kota itu.

“ Pario, kita harus menyelamatkan penduduk kota ini. Lihat betapa kehausan dan kotornya baju mereka…belum lagi bau asem yang membuat besi-besi berkarat.”

“ Kau benar, Puigi. Kita harus pergi ke Sumber Air dan menyambungkan pipa ledeng ke kota kita”

Dan mereka berdua pun pergi ke gunung Hore- Hore, tempat Sumber Air berada.

Di kaki gunung, mereka menemukan sebuah tangki yang terlihat indah dan mengkilap.

“Pario, mungkin ini tangki air yang kita cari. Biar kucoba membuka salurannya”

“ WUUUUUSSSSSSSSHHHHHHHHH…..”, dari saluran keluar tangki itu bertiup angin yang kencang.

“ Puigi, ini bukan tangki air tapi tangki udara. Tangki ini mungkin akan menyejukkan penduduk Kota Jamur untuk sementara, tapi tangki ini tidak akan bisa membersihkan kekotoran kota”.

Di pertengahan gunung, mereka menemukan tangki yang tampak besar dan kokoh.

“ Pario, mungkin ini tangki air yang benar. Biar kucoba membuka salurannya”

“ BLOOOPPPPPPPP..”, dari saluran keluar tangki itu keluar adukan semen kental.

“ Puigi, ini adukan semen. Kalau penduduk kota mandi memakai ini, mereka tidak akan bersih. Justru mereka akan semakin betambah berat dan tidak akan bisa melangkah ketika semen ini kering”.

Di puncak gunung, mereka menemukan tsebuah tangki yang tidak terlihat indah, tidak juga terlihat besar dan kokoh. Tangki itu terlihat biasa saja, hanya saja sepertinya tangki itu tertanam dalam dan kokoh ke gunung itu. Ada sebuah papan petunjuk yang bertuliskan “ Sumber Air Yang Tak Akan Pernah Habis”.

“ Pario, sepertinya ini bukan sumber air yang kita cari. Kelihatannya ini cuma tangki biasa yang tidak ada istimewanya. Lagipula mana mungkin airnya tidak terbatas? Pasti suatu hari nanti habis. Mari kita pergi ke gunung berikutnya.”

“ Tidak,Puigi. Bukankah di sana tertulis “ Sumber Air Yang Tak Akan Pernah Habis “? Kita percaya saja pada tulisan itu dan mari kita buka salurannya.

“ CCCUUUURRRRRRR….”, air menyemprot dengan deras dari tangki itu.

“ Tapi, Pario…mana mungkin airnya tidak pernah habis? “

“ Kita percaya dan lihat saja, Puigi. Sekarang mari kita sambungkan sumber air ini ke kota kita. Kemarikan pipa ledengmu”.

Puigi mengambil sesuatu dari sakunya dan menyerahkannya pada Pario.

“ Puigi, ini sedotan…kenapa kau memberiku sedotan? Yang kuminta itu pipa ledeng yang besar dan kuat.

“ Maafkan aku Pario, tapi pipa itu berat dan sulit dibawa. Jadi aku mengambil pipa paling kecil yang mudah dibawa.”

“ Puigi, kita bertanggung jawab untuk membawa Air ini ke kota. Kalau pipa yang kita bawa kecil, sebesar apapun sumber air disini, tetap saja waktu sampai ke kota airnya tidak akan cukup. Baiklah, aku akan memakai pipa yang kubawa”

Pario dan Puigi bekerja keras membangun jaringan ledeng dari sumber air ke kota. Ketika mereka berhasil memasang ledeng dari puncak gunung ke kota, kesulitan lain muncul. Kran ledeng utama kota berkarat dan sulit digerakkan, walaupun saluran ledeng sudah terbentuk tapi air tetap belum bisa mengalir.

“ Puigi , kita harus memutar kran air ini supaya air mengalir. Ayo kita kerahkan tenaga untuk memutarnya”.

Dengan sekuat tenaga mereka memutar kran itu, tapi kran itu tetap tidak bergerak.

“ Pario, ayo semangat. Ingat penduduk kota kita, bukankah kita menyayangi mereka? Bukankah kita tidak ingin melihat mereka kehausan dan hidup dalam kekotoran”.

“ Kau benar Puigi, mereka kelurga dan teman-teman yang kita kasihi. Kita harus berusaha demi mereka.”

Dan dengan kata-kata itu, kran air yang berkarat bergerak dan air mengalir masuk ke dalam kota. Dan setiap orang yang kehausan minum, dan setiap orang yang kotor membersihkan dirinya.

Tangki udara yang indah adalah agama yang berisi kata-kata manis dan indah, menyegarkan untuk sementara tapi tetap tidak akan membersihkan dosa.

Tangki adukan semen adalah agama yang dipenuhi dengan hukum dan aturan yang memberatkan diri kita, tapi tidak satupun dari hukum itu yang membersihkan kita dari dosa.

Tangki “ Sumber Air Yang Tak Akan Pernah Habis” adalah Tuhan kita, Yesus. Dia mungkin tidak terlihat indah atau kuat, tapi kasihNYA tertanam dalam dan tidak akan pernah goyah.

Kita adalah saluran air berkat dan kuasa, kalau kita tidak melatih diri kita dan tidak memurnikan iman kita, sebesar apapun kapasitas sumber air itu, semuanya akan percuma kalau diri kita kapasitasnya kecil.

Dan yang terakhir, semua kuasa dan berkat memang hebat, tapi tanpa kasih semuanya tidak berguna. Karena kasih adalah kran yang membuka saluran kuasa dan berkat dan mengalirkannnya pada orang-orang yang membutuhkan.

PS : Nama tokoh sebenarnya disamarkan untuk menghindari pelanggaran hak cipta ^^

Ditulis oleh : Tukang Bakmi

Cara Dia Membangun

2

Category : Simply Articles

Bayangkan jika hidup kita ini adalah sebuah rumah dengan banyak kerusakan dimana-mana. Lalu kita mengundang Sang Ahli Bangunan – Yesus untuk memperbaiki rumah kita. Awalnya kita begitu bahagia dengan apa yang Dia lakukan, Dia mulai memperbaiki banyak bagian yang rusak di dalam rumah kita, Yesus mulai membersihkan rumah kita, mulai memperbaiki ledeng yang bocor, memperbaiki atap-atap yang bolong. Semuanya berjalan dengan sangat baik.

Hingga suatu ketika Ia melakukan hal yang mengejutkan, Ia mulai merobohkan beberapa bagian tembok rumah kita, Ia mulai melepaskan bagian-bagian lantainya, Ia terlihat melakukan penghancuran dimana-mana. Dan kesemuanya itu  begitu menyakitkan. Kita tidak mengerti apa yang sedang Ia lakukan. Kita berpikir bahwa Ia sedang menghancurkan kita, padahal, apa yang sedang Yesus lakukan adalah membangun rumah kita menjadi sebuah bangunan yang mewah, Yesus melakukan berbagai penghancuran karena Yesus ingin memperluas, ingin meninggikan dan membangun sebuah istana.

Saat kita mengundang Yesus ke dalam rumah kita, kita hanya berpikir bahwa Ia akan memperbaiki kerusakan rumah kita. Kita hanya berharap menjadi sebuah rumah sederhana yang diperbaiki. Tapi ternyata bukan itu tujuan utama-Nya, Ia tidak sekedar hanya ingin memperbaiki tapi ia ingin membangun kembali sebuah rumah sederhana menjadi sebuah istana yang megah dan tinggal di dalamnya.

***

Analogi dari George Macdonald di atas mengajarkan bahwa, seringkali kita mungkin bertanya-tanya kenapa Tuhan banyak mengijinkan hal yang menyakitkan terjadi dalam hidup kita. Padahal saat kita mengundang Yesus ke dalam hidup kita, kita hanya berharap Dia akan memulihkan seluruh luka hati kita, memulihkan keadaan hidup kita, tapi ternyata Dia punya rencana yang jauh lebih besar dari itu. Yesus ingin memperbesar kapasitas hati kita, ingin mengubah hidup kita yang sederhana menjadi hidup yang luar biasa. Ia ingin tinggal di dalam hati kita, karena itulah Ia ingin hidup kita merepresentasikan Siapa yang tinggal di dalamnya. Dan seringkali hanya melalui proses-proses yang menyakitkanlah Ia dapat membangun hidup kita menjadi luar biasa.

Mungkin kita enggak selalu mengerti bagaimana cara Tuhan membangun kembali kehidupan kita. Tapi saya terlalu yakin, kalo Yesus adalah Sang Ahli Bangunan terpercaya, Arsitek Jenius yang akan membangun segala sesuatu di dalam hidup kita menjadi jauh lebih menakjubkan dari apa yang dapat kita pikirkan ^^

Ditulis Oleh LNY_FOS Community

Ayahku Frankenstein

2

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Malam gelap, halilintar bersahut-sahutan, suara tawa sinting dari seorang profesor. Bunyi rantai dan mesin-mesin yang bergemuruh diselingi kilatan-kilatan bunga api listrik. Dan di malam itu, sebuah papan besi dengan sebentuk mahluk di atasnya yang tertutup kain dinaikkan ke atas puncak bangunan. Dan ketika petir menyambar, jari-jari tangannya bergemeretak. Dan di malam itu lahirlah ayahku…

Bohong dong…saya emang ga kenal papa saya tapi pastinya sih masih manusia normal. Sebenernya, saya ga pernah kenal papa saya. Waktu saya lahir, mama saya meninggal dan saya diangkat anak oleh temennya. Dan berdasarkan cerita mama angkat saya ini, papa saya yang asli kabur waktu mama saya hamil dan mungkin sudah meninggal entah dimana. Mama angkat saya masih muda, tapi karena dia terlalu sibuk mengurus saya dan engkong saya plus ngusahain toko, akhirnya mama angkat saya ga pernah menikah. Karena itu saya ga punya sosok ayah dalam hidup saya.Engkong saya adalah satu-satunya sosok pria yang paling dominan, tapi dia tetap bukan sosok ayah.

Waktu saya bertobat di masa SMA, saya menemukan banyak pembimbing yang kemudian menjadi contoh buat saya bagaimana seharusnya seorang pria berperilaku. Pembimbing – pembimbing saya punya sifat yang berbeda – beda dan mengajarkan pengalaman hidup yang berbeda juga. Ada yang mengajarkan doa, ada yang mengajarkan kesetiaan, ada yang mendampingi waktu saya masih kecil secara rohani. Bahkan ada satu pelayan gereja senior yang berteduh dari hujan di kost saya mengajarkan bagaimana cara membaca Alkitab seperti mencari harta tersembunyi. Saya yakin dia sendiri pasti sudah lupa, tapi buat saya itu adalah sepotong dari sosok ayah yang terbentuk.

Seperti Frankenstein yang dibentuk dari potongan tubuh yang berbeda-beda, sosok ayah dan sosok pria sejati dalam hidup saya dibentuk dari potongan –potongan hidup banyak orang yang membimbing saya. Dan saya bersyukur karena hal itu, walaupun tidak sempurna tapi ayah Frankenstein ini mengajarkan banyak hal yang baik dan mengenalkan saya pada Tuhan. Tapi mereka tetap bukan sosok ayah yang saya rindukan. Dan perlu waktu cukup lama bagi saya untuk mengakui kalau saya memang membutuhkan seorang ayah.

Mama saya sering ribut dengan saudara – saudaranya dan sejak saya kecil mama saya sudah sering cerita ke saya masalahnya. Saya tahu mama saya ga bermaksud buruk, tapi hal itu membuat saya merasa ga aman dalam keluarga. Keluarga bagi saya bukanlah tempat aman, tempat berlindung dan bermanja, tapi rumah dengan banyak masalah yang harus saya tanggung di masa depan nanti. Dan entah sejak kapan saya berhenti mengandalkan keluarga dan menanggung semua masalah sendiri. Dan disinilah masalah bermula……

Yang ga saya sadari, walaupun dalam hati saya bilang ga butuh ayah, saya tetap mencari rasa aman yang seharusnya ditawarkan seorang ayah ke tempat lain. Saya mencari di gereja, tapi tentu saja saya kecewa. Pembimbing saya baik -  baik, tapi mereka juga punya masalahnya sendiri, punya keluarga sendiri dan sedekat apapun saya dengan mereka, saya tetap bukan anaknya dan mereka bukan ayah saya. Dan sikap saya sendiri ga banyak membantu. Ketika saya menemukan pembimbing yang saya hormati, saya cenderung bersikap keras dan mendebat mereka. Bukan karena saya benci, tapi karena saya ingin pamer kehebatan otak saya. Singkatnya, saya ingin dipuji tapi lewat cara yang menyebalkan ^^.

Ketika saya punya pacar ( akhirnya…diucapkan dengan penuh rasa syukur), saya mengulangi pola yang sama. Saya mencari sosok orangtua yang melindungi, memanjakan, mendorong dan seseorang yang berkata, “ Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja” di dalam diri pacar saya. Tapi, tentu saja pacar saya bukan orangtua saya dan dia ga bisa memenuhi harapan saya. Perlindungan yang saya cari bukan dalam bentuk perempuan berotot berdompet tebal tentu saja, tapi lebih ke arah seseorang yang lebih dewasa secara mental. Dan walaupun saya berusaha menghargai komitmen pacaran ga boleh putus, tapi akhirnya kita putus juga setelah 8 tahun berpacaran. Memang perkara ini bukan satu-satunya masalah yang bikin kita putus, tapi paling tidak sekitar 30% karena masalah ini.

Sampai saat ini saya lebih menyukai perempuan yang lebih tua umurnya, ga sampe beda 20 tahun lah, sekitar 2-3 tahun. Dan sebaliknya, sementara umumnya pria lebih suka “daun muda”, saya ga tertarik dengan perempuan yang lebih muda. Dan dalam hal pemimpin, ketika saya sadar kalau saya tidak bisa berharap dari orang-orang gereja, saya berbalik polaritas. Saya berhenti mengharapkan apapun dari gereja, tentu saja saya masih melakukan semua pelayanan yang menjadi tanggung jawab saya, tapi saya berhenti meminta bantuan apapun dari gereja. Dan saya mengulang pola yang sama, pada akhirnya gereja menjadi keluarga sumber masalah yang tetap harus saya tanggung. Bagi orang lain mungkin itu terlihat sebagai kemandirian, dan mungkin sebagian memang benar. Tapi sebagian lagi adalah keputusasaan pada gereja.

Saya belajar dalam pelayanan konseling, anak-anak yang kehilangan atau kekurangan kasih sayang semasa kecilnya akan terus mencari kasih sayang itu ketika mereka dewasa. Dan seperti saya, mungkin mereka memamerkan kepintaran atau kekayaan untuk mendapat kasih sayang. Dan walaupun pria yang menyukai perempuan lebih tua tidak umum, tapi cukup banyak perempuan yang tertarik pada pria yang jauh lebih tua. Kita mencarinya pada diri pacar kita, teman-teman atau kelompok kita yang pastinya akan selalu berakhir dalam kekecewaan karena, tentu saja, mereka bukan orangtua kita. Terkadang, orang-orang mencari kasih sayang ini sampai ke tahap yang ekstrim, misalnya dengan memakai seks untuk membeli kasih sayang, baik pria maupun wanita.

Saya percaya Tuhan itu ada, dan saya tahu Dia baik, tapi sampai sekarang saya masih melihat Tuhan sebagai majikan dan diri saya sebagai anjing pekerja yang terpisah dari kawanan anak domba di sekeliling Yesus. Lihat? Saya ,mengulang lagi pola yang sama…Tuhan bukan lagi menjadi tempat perlindungan tapi setumpuk tugas dan visi. Tentu saja saya melihat bagaimana Tuhan menjaga hidup saya selama bertahun-tahun. Tapi rasa tidak aman itu membuat saya meragukan kebaikan Tuhan. Dan pergumulan antara separo diri saya yang mengatakan Tuhan itu baik dan separo lagi yang mengatakan kalau Tuhan tidak bisa diandalkan terus berlanjut.

Saya sadar kalau jawaban dari masalah kasih sayang saya adalah Yesus, tapi harus diakui kalau sampai saat ini saya masih bergumul. Bagaimanapun, saya tahu suatu hari nanti, rasa tidak aman dan perlindungan yang saya impikan itu akan saya dapatkan dari Tuhan. Kenapa? Karena hanya Tuhan satu-satunya jalan yang tersisa, saya cukup mengerti untuk tidak berharap pada manusia untuk memenuhi kekurangan kasih ini. Dan seluruh masa depan saya, saya gantungkan pada harapan ini.

PS : Artikel ini adalah bagian pertama dari 3 artikel. Artikel pertama merupakan kesaksian pribadi, artikel kedua menceritakan Cinderela dan artikel ketiga membahas lebih dalam soal konseling.

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Aku Rindu..

6

Category : FOSters Creativity

Hari-hari seperti ini datang lagi, saat gemuruh menderu jantungku, saat pikiranku kalut dan hatiku ciut, sepi menjalari tiap tulang, mataku terpejam dan kemudian terbuka, aku tak dapat terlelap, tak dapat pula untuk tetap terjaga, aku rindu Kekasihku…

Maaf, maaf… Untuk kesekian kalinya aku terbenam dalam makalah dan berita yang harus kumuat dalam buletin kampus, dan karena itu aku belum sempat menjawab pesan Kekasihku, belum dapat menemui Kekasihku, kini aku rindu dan aku kalut…

Percayalah, kertas-kertas berisi berita yang membuatku menutup mata empat jam setiap harinya, tak dapat merenggut waktuku lebih lama lagi. Karena sehebat apapun berita yang kususun, tak pernah sehebat kisahku dengan Kekasihku. Aku rindu…

Penaku menari dan memercikkan tinta tentang cinta, suaraku mengalun dan membisikkan nama Kekasihku. Aku tersenyum mengingat masa-masa indah, masa-masa paling luar biasa dalam hidupku. Saat kisah kasih goyah, Kekasihku selalu meyakinkanku bahwa akulah yang tercinta, dan semua akan baik-baik saja. Betapa lembutnya Kekasihku, betapa herannya aku. Kekasihku membuatku istimewa, membuatku menjadi wanita seutuhnya, karena aku memiliki seluruh cinta Kekasihku. Bagiku, tiada yang lain, menempati posisi nomor satu dalam hatiku, satu-satunya tempat dalam pikiranku, pertama dan terakhir dalam hidupku, hanya Kekasihku, yang tercinta, yang antara aku dan Kekasihku saling memiliki, kisah cinta termegah.

Rinduku sepenuh mati, bukan separuhnya lagi.

Sungguh aku tidak perduli, apakah berita yang membuatku hanya terpejam empat jam setiap harinya, akan diwartakan atau tidak. Aku benar-benar tidak mau tahu, apakah guru besar pemimpin redaksi akan memuji atau menertawakan artikelku. Hal itu terasa sangat tidak berguna, saat waktuku tak lagi kunikmati bersama Kekasihku.

Rinduku mengiris sendi, tidak hanya tergores lagi.

Aku sangat rindu pada-Mu, Yesusku.

Ditulis oleh : ENS_FOS Community

Makan Malam Biasa dengan Sajian yang Tidak Biasa!

2

Category : inFOStainment, Simply Articles

Malam itu bukanlah malam yang biasa. Makan malam yang sungguh sangat istimewa. Bukan karena di tempat istimewa, dengan harga istimewa atau dengan kekasih yang istimewa. Hanya sebuah tempat makan murah, ala kadarnya, dengan harga yang ringan di kantong, di pinggir jalan, dengan sebutan khas  “nasi pus-pus”.

Yang membuat istimewa bukanlah nasinya, bukan juga pus-pus (walaupun banyak kucing di situ.. hehehe…) bukan juga lauk pauknya, sambelnya atau minumannya. Tapi karena di malam itu, di tempat itu, Tuhan mengijinkan aku merasakan sesuatu dan melakukan sesuatu.

Makan malam yang biasa ini menjadi tidak biasa saat datang seorang pemuda dengan perawakan yang tidak biasa. Di tangannya memegang sebuah kantong bekas bungkus permen yang di dalamnya ternyata ada beberapa uang logam. Sesaat kemudian dia sudah duduk di hadapanku, siap memesan makanan dan minuman, dengan segenggam uang logam di tangannya, yang terlebih dahulu dihitungnya. Dengan sedikit malu ia memesan sebuah nasi dengan sambal di dalamnya, dengan lauk sebuah gorengan dan air putih dingin. Hanya itu? Yah, hanya itu, dan dia makan dengan sangat lahap.

Kulihat dia menghabiskan sisa nasi dan bakwan terakhir di piringnya. Dan kembali mengeluarkan “dompetnya” kembali menghitung logam demi logam, dan kembali memesan. Sebuah nasi dengan sebuah gorengan, menu yang sama dengan harga yang sama. Dan ia kembali makan.

Aku tahu ini malam yang tidak biasa, karena sebelum duduk makan, ia berkata kepadaku,

“ Bang, Makan..”

“Oh, abangnya di belakang..” Jawabku. Mungkin dia pikir aku yang berjualan.

Dan saat logam demi logam ia keluarkan, jantungku berdegup kencang, What should I do?

Aku mengacuhkan degupan jantungku,

“Ahh, hal biasa !!!” kataku dalam hati.

Tapi saat kulihat dia mengeluarkan logam dan menghitungnya untuk kedua kalinya, aku tidak tahan lagi. Bahkan sempat kudengar orang yang makan di sebelahku berkata “Kasihan”.

Saat kudengar kata “kasihan” kedua kalinya, aku semakin tidak tahan. Aku kumpulkan segenap tenaga dan kasih untuk berdiri, mengambilkan sepotong telur dadar, kutempatkan pada piring pemuda itu, kuambil sebuah nasi lagi dan sebuah bihun goreng untuknya.

“Makan aja, gw yang bayar. Santai aja bro.” sebuah senyum kulemparkan kepadanya.

Entah darimana kekuatan dan keberanian itu datang, tiba-tiba aku sudah berada di samping pemuda tadi, dan ngobrol dengan dirinya. Dan kutahu bahwa dia ngamen di angkutan umum untuk membantu ibunya di rumah. Dia tidak dapat merasakan bangku kuliah, bahkan bangku sekolah. Dan ternyata DIA BERUMUR SAMA DENGANKU !!!

Setelah selesai makan, kutawari lagi dia, ternyata dia sudah kenyang dan terpikir olehku untuk membawakan dia makanan untuk bisa dimakan dia dan ibunya di rumah. Setelah itu dia pamit dan mengucapkan terima kasih.

Dengan tersenyum ada sebuah kalimat melintas di dalam hatiku, “Kasih lebih dari sekedar kasihan.” Dan Tuhan mengajarkan langsung hari ini, sebuah malam yang luar biasa, makan malam yang istimewa.

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” 1 Yohanes 3:18

Tapi sayangnya ada sebuah kalimat yang lupa aku ucapkan kepadanya, yang membuatku menyesal hingga saat ini.

Seandainya aku mengucapkan kata itu. Seandainya aku menatap dia penuh yakin dan berkata mengenai ini saat itu. Dan Seandainya aku berkata, “ Yesus mengasihimu.” Mungkin pemuda itu akan memiliki kesempatan untuk tau, bahwa Yesus mengasihi dirinya, sama seperti Yesus mengasihiku.

Aku harap dia bisa mendengar itu lain kali, baik melalui diriku maupun melalui orang lain.

“Yesus mengasihimu Dani !!!”

Ditulis oleh KSW