Cinderela Ditangkep Pulisi !!

1

Category : Pojok Tukang Bakmi

Berita Headline Hari Ini : Cinderela Ditangkap Polisi Karena Menyiksa Anaknya. Cinderela terbukti bersalah dan harus mendekam di penjara selama 10 tahun. Suaminya mengatakan kalau kondisi kejiwaan Cinderela memang labil. Ibu tirinya mengatakan kalau Cinderela memang anak bermasalah sejak kecil.

Kenapa ini bisa terjadi? Untuk mengetahui kenapa tragedi ini bisa terjadi, kita harus melihat kembali masa kecil Cinderela.

Cinderela kehilangan ibunya saat dia kecil, dan ayahnya yang sering bepergian memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita lain supaya ada yang mengurus anaknya. Ibu tirinya membawa 2 anak hasil pernikahannya terdahulu. Pada awalnya Cinderela senang karena mendapatkan keluarga baru dan dalam hatinya dia bertekad untuk menyenangkan hati ibu tirinya. Tapi, seperti yang kita semua tahu, ibu tiri Cinderela tidak menyayanginya dan memperlakukannya seperti pembantu.

Cinderela berusaha keras untuk bekerja keras dan menerima semua pukulan ibunya dengan harapan ibunya akan menyayanginya, tapi itu tidak pernah terjadi.

“Ibu, kenapa kau tidak menyayangiku? Apakah kau tidak menginginkanku?“

“Tidak! Keluarga ini akan jauh lebih baik kalau kau tidak ada. Kau hanya pengganggu yang tidak dibutuhkan. Kau harus bersyukur karena aku masih mau repot-repot menerimamu di rumah ini,” Jawab ibu tirinya.

Cinderela yang malang, dia baru saja menyadari kalau dirinya tidak diinginkan dan tidak dibutuhkan.

Sementara saudara-saudara tirinya menghabiskan masa remaja mereka seperti layaknya gadis normal, Cinderela menghabiskan waktunya mengurusi cucian kotor dan mengelap debu. Cinderela sudah terbiasa dengan pekerjaan kotor, tapi yang membuatnya sedih adalah ketika teman-teman sekolah saudara tirinya datang berkunjung ke rumahnya. Cinderela mengerti arti pandangan mata teman-teman pria saudaranya yang meremehkan atau mengasihani. Dia rindu untuk berbicara dengan mereka, saling berpandangan dengan tidak sengaja, surat dan hadiah kecil yang dikirimkan lewat orang ketiga. Tapi, Cinderela sadar kalau dirinya tidak layak.

Cinderela yang malang, cinta pertamanya terbang sangat rendah dan tenggelam menghilang seiring rasa percaya dirinya.

Hari yang dinantikan seluruh kerajaan tiba, hari dimana pangeran akan memilih calon istrinya dan semua wanita di kerajaan diundang ke pesta dansa. Ibu dan saudara-saudara tirinya tidak perlu repot melarang Cinderela ke pesta, Cinderela sendiri menolak untuk pergi. Dia takut pada pandangan mata orang – orang di pesta, mata yang menyayangkan kenapa baju pesta yang bagus harus dipakai oleh orang sepertinya, mulut yang mencibir kehadirannya di pesta. Tidak, Cinderela tahu tempatnya bukan disana.

Cinderela yang malang, tidak pernah ada yang mengatakan kalau dia sangat layak untuk mengenakan baju pesta. Tidak ada yang mengatakan kepadanya, kalau Cinderela mau, dia bisa membuat pangeran bertekuk lutut dan memasangkan sepatunya. Tidak ada yang memberitahunya.

Hari pesta berlalu dan pangeran sudah menemukan calon istrinya di pesta dansa dan tidak ada tentara kerajaan yang berkeliling kota mencari pemilik sepatu kaca. Tapi, Cinderela juga akan menikah, tidak dengan pangeran tentu saja tapi dengan pemuda di ujung jalan. Pemuda itu terkenal sedikit berandalan dan tidak setia, tapi Cinderela tidak keberatan. Dia justru bersyukur karena masih ada orang yang mau menikahinya. Baginya pemuda itu sudah cukup baik baginya, yang penting ada yang mau menerimanya dan dia tidak sendirian lagi.

Cinderela yang malang, dia sendirian sejak kecil dan tidak ada peri yang duduk bersamanya, mengatakan kalau dia berharga dan dia punya masa depan yang cerah. Saat ini, Cinderela menerima siapapun yang mau duduk bersamanya, siapapun.

Seperti yang diduga, suaminya bukan suami yang baik. Tapi Cinderela bersabar dan berharap, mungkin suatu saat nanti suaminya akan lebih dewasa, mungkin kehadiran seorang anak akan membuat suaminya lebih bertanggung jawab. Cinderela tahu kalau suaminya sering selingkuh di luar, tapi selama suaminya tetap pulang ke rumah Cinderela sudah bersyukur.

Dan sekarang dia mengelus perutnya, merasakan kehadiran nyawa baru yang bertumbuh.

“Aku akan menjadi ibu yang baik bagimu, lebih baik dari ibu tiriku. Aku akan menyayangimu dan tak akan memukulmu. Aku tak akan pernah menjadi orang seperti ibu tiriku.”

Cinderela yang malang, dia membuat janji yang tak akan bisa ditepatinya.

Ketika anaknya lahir, Cinderela tersenyum bahagia dan merasa mimpinya akan segera terwujud. Sementara suaminya berdiri di pojok di balik bayangan pintu kamar sambil menggigiti kuku ibu jarinya. Ketakutan akan beban tanggung jawab baru dan berakhirnya kehidupan yang bebas membuatnya takut. Dan dalam ketakutannya dia membuat keputusan, keputusan yang akan menghancurkan mimpi istrinya. Ketika Cinderela diijinkan pulang dari rumah sakit, dia mendapati rumahnya sepi. Lemari baju yang kosong separuh, tabungan yang dipecahkan dengan kasar dan gosip miring dari tetangganya memberitahunya kalau suaminya melarikan diri dengan perempuan lain. Dan dunianya runtuh dalam sekejap.

Tapi kali ini Cinderela tidak menyalahkan dirinya. Kemarahan yang selama ini terpendam sejak masa kecilnya yang selama ini menghancurkan dirinya dari dalam kali ini menuntut untuk dikeluarkan. Cinderela tidak tahu bagaimana caranya mencintai, selama ini tidak ada yang mencintainya. Tapi Cinderela tahu bagaimana menyalurkan kebencian dan amarah. Bertahun – tahun ibu dan saudara tirinya menyalurkan amarah dan kebencian mereka pada dirinya

Dan Cinderela melihat anaknya, anak yang semula diharapkan menjadi pemersatu dirinya dan suaminya. Anak yang menjadi dasar impiannya , tapi anak ini juga yang menjadi penghancur impiannya. Seandainya anak ini tidak pernah ada, anak ini anak yang tidak dibutuhkan, anak yang tidak berharga. Dan seperti dirinya dulu, anak yang tidak berharga harus dipukul. Dan perlahan tangannya terulur……………

***

Kita semua bertumbuh dengan menjadikan orang – orang terdekat kita sebagai cermin. Apa yang mereka katakan mengenai diri kita menjadi bagaimana cara kita memandang diri kita. Ketika mereka mengatakan diri kita jelek, kita menganggap diri kita jelek dan sebaliknya. Cinderela – cinderela dalam kehidupan nyata tidak punya banyak peluang untuk memakai sepatu kaca, tidak ada  Ibu Peri yang mengatakan kalau mereka baik dan berharga layaknya seorang putri.

Masa kecil kta sangat mempengaruhi kehidupan kita karena itu adalah masa dimana kita mulai membangun kepribadian dan identitas diri kita. Dan kita mendengarkan orangtua, teman-teman dan orang – orang terdekat kita untuk membangun identitas diri kita.  Sayangnya, tidak semua anak mempunyai orangtua yang baik. Sebagian dari kita tumbuh dengan masalah – masalah emosional dan kepribadian yang sulit. Bukan berarti kita menyalahkan orangtua kita atas masalah- masalah kita, orangtua pun merupakan produk bentukan dari generasi sebelum mereka. Menyalahkan ibu tiri dan saudara yang kejam tidak akan membuat Cinderela menjadi putri. Tapi mendengarkan perkataan “Ibu Peri” menjadikannya seorang putri. Dan kita mempunyai seorang “ Ibu Peri” yang menganggap kita begitu berharga dan menjadikan kita anak-anakNYA. Yesus yang menganggap kita begitu berharga hingga rela disalib. Dan seperti Cinderela, kita punya pilihan untuk mendengarkan “Ibu Peri” dan pergi ke pesta atau mendengarkan “ibu tiri” dan kembali ke dapur yang gelap.

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau..”

Yes 43:4a

PS : Artikel ini merupakan bagian ke-2 dari 3 artikel mengenai konseling. Artikel pertama berjudul Ayahku Frankenstein

Ditulis oleh Tukang Bakmi

“Ciitttttttttttttttttttttt………….”

Category : Simply Articles

“ciitttttttttttttttttttttt………….”

Hampir saja aku menabrak mobil yang ada di depanku, yang tiba-tiba berhenti. Rasanya ingin langsung segera turun dan memarahi pengendara mobil itu. Kalau saja tidak ada sebuah bisikan di telinga, mungkin hampir-hampir aku memarahi pak sopir itu.

“Salah kamu loh….”

Bisikan yang lembut tapi benar-benar menyadarkan diriku. Yah memang kesalahanku sehingga terjadi pengereman mendadak itu. Alasan sesungguhnya bukan karena mobil yang sembarangan berhenti di tengah jalan, tetapi karena AKU MELENG. Yah meleng, tidak fokus ke depan, tidak fokus ke jalanan saat sedang menyetir, karena ada sesuatu yang mengalihkan pandanganku, ada sesuatu yang menarik perhatianku di tepi jalan, dan hampir saja berakibat fatal.

FOKUS !!! itu adalah hal yang sangat penting di jalan raya, mengingat bahwa kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal di jalanan. Fokus liat ke depan, sesekali melihat spion, sesekali membunyikan klakson dan sesekali menginjak rem. Fokus, fokus dan fokus…

Para pengendara motor yang sudah sering mengendarai motornya pasti sangat tahu hal ini, bahwa susah sekali untuk bisa fokus, tetap memandang ke jalanan meskipun mata berair, meskipun hati menolak dan meskipun jalanan terlihat selalu sama. Apalagi kalau jalanan itu sudah dilewati berjuta-juta kali. Dan yang lebih susah untuk fokus adalah kalau ada kejadian yang luar biasa yang sedang atau telah terjadi, contohnya ada yang berantem karena senggolan motor, atau ada kecelakaan, atau ada topeng monyet sedang beraksi, atau ada seorang malaikat tak bersayap sedang berjalan di pinggir jalan (hehehehhe..). Yang jelas sungguh sangat susah menetapkan diri untuk tetap fokus.

Fokus dalam Tuhan apalagi, sungguh susah, sungguh berat, makanya nggak heran banyak para anak-anak Tuhan berulangkali jatuh ke dalam dosa yang sama, dan bukan hanya anak-anak Tuhan saja, bahkan para hamba Tuhan-pun ada yang jatuh. Bukan untuk sekali dua kali, dan bukan hanya seorang- dua orang, tapi BANYAK !!!

Dari sekian banyak alasan yang mungkin dibuat, mungkin bisa ditarik sebuah kesimpulan yaitu TIDAK FOKUS. Jadi dapet istilah “meleng rohani” deh. Karena tanpa kita sadar nih, ternyata kehidupan kita di dalam Tuhan itu bisa diibaratkan saat sedang naik motor di jalanan raya. Butuh mata yang tetap memandang ke depan dan sesekali memandang ke spion, butuh tangan yang selalu siaga di stir dan selalu sigap untuk menekan rem, butuh kaki yang selalu siap untuk melakukan pengereman mendadak atau jika perlu turun untuk menjaga keseimbangan, dan butuh pikiran yang jernih. Tujuannya cuma satu, supaya kita selamat ke tempat yang kita tuju, bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menyelamatkan orang lain juga.

Saat pandangan kita teralihkan, saat pikiran kita menjadi buyar, dan saat kita nggak lagi siaga dan waspada, jadilah kita mendapati diri kita terkapar di jalan raya karena menbarak sesuatu atau seseorang. Dan akibatnya, bukan hanya kita yang cidera, tetapi ada yang turut merasakannya juga. Dan bisa menyebabkan kematian juga loh, bahaya banget deh.

Tempat yang kita tuju adalah kekekalan bersama Yesus, dan saat kita lahir baru adalah saat pertama kali kita bersiap untuk mengendarai motor di jalan raya. Perlengkapanpun sudah terpasang rapi, mulai dari helm, sarung tangan, penutup hidung, jaket kulit bahkan mungkin sepatu boot dan jangan lupa sudah memiliki kelengkapan surat-surat motor dan SIM donk..Nah setelah siap dengan semuanya itu, siaplah kita untuk berkendara di jalan raya. Tapi ingat bahwa “arena” sesungguhnya dari kesiapan itu adalah di jalan raya. Dan saat itulah kita dituntut untuk fokus. Arena sesungguhnya adalah kehidupan kita, godaan akan selalu ada untuk mengalihkan fokus kita. Apapun itu, seandainya sedetik saja kita memandangnya, berbahaya. Fatal akibatnya.

Kadang bukan halangan besar yang ada di hadapan kita yang membuat kita celaka, justru hal-hal sederhana yang tanpa sengaja ada di sekitar kita yang seringkali mengalihkan pandangan kita. Dan hal-hal sederhana ini yang dipakai oleh iblis sebagai musuh utama kita untuk menjatuhkan dan menjauhkan kita dari fokus kita kepada Tuhan. Berapa banyak pria sejati milik Tuhan yang jatuh ke dalam dosa pornografi karena tidak sengaja melihat/mengintip gambar-gambar yang tidak layak dilihat. Berapa banyak wanita bijaksana milik Tuhan jatuh ke dalam dosa karena tidak sengaja mendengar gossip spektakuler mengenai seseorang atau sesuatu. Banyak celah-celah kecil yang mampu menghembuskan angin yang mampu mengalihkan fokus kita. Dan dengan sadar atau tanpa sadar, kita kembali digiring ke dosa-dosa lama yang sebenarnya sudah bisa kita tinggalkan. Inilah letak kelemahannya, saat kita nggak fokus akan satu hal, maka saat itulah kita sedang fokus dengan hal yang lain.

Jadi apa donk yang harus kita lakukan supaya nggak jatuh lagi ke dalam dosa yang sama ??

FOKUS adalah jawabannya. Seorang sahabat pernah berkata kepadaku, kunci untuk bebas dari dosa-dosa yang seringkali membelenggu adalah FOKUS, bukan fokus kepada dosanya tetapi fokus kepada kasih karuniaNya yang diberikan kepada kita. Bukan hanya fokus kepada salib, mahkota duri atau paku-paku tajam saja tetapi fokus kepada Siapa yang ada di salib itu. Saat fokus kepada dosanya, maka yang ada kita hanya akan semakin terpuruk dan merasa tidak layak dihadapan Allah, tetapi saat kita fokus kepada kasih karunia itu, maka kita akan mampu dan dimampukan untuk bangkit dan meminta untuk dibangkitkan.

Buatlah diri kita selalu memandang kepada Dia, yang telah mengorbankan diriNya yang mulia supaya kita dijadikan mulia.

Dan jangan sungkan untuk bangkit dari kejatuhanmu, ajukan sebuah doa sederhana, dan jangan pernah “meleng” lagi. Ingat bahwa godaan semenarik apapun harusnya nggak membuat kita tertarik karena kita telah melihat Yesus yang sangat menarik, kuncinya adalah FOKUS kepada kasihNya, FOKUS kepada diriNya !!

Hidupmu sungguh berharga di mataNya…

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;” (Matius 6:22)


Be blessed..
Ditulis oleh KSW_FOS Community

Cabe atau Garam?

Category : Simply Articles

“Jadilah garam dunia”

Itu adalah salah satu pesan Yesus kepada kita semua yang sering kita dengar, sering dikhotbahkan, atau mungkin sering menjadi inspirasi berbagai tulisan. Tujuannya adalah supaya kita menjadi teladan dan memberikan “rasa” dimanapun kita ditempatkan.

Istilah “bagai sayur tanpa garam” membuat fungsi garam terlihat sangat penting. Walaupun harganya terbilang cukup terjangkau atau bahkan ada beberapa yang murah, tetap saja dianggap penting untuk menciptakan atau memperkuat rasa. Begitu pentingnya garam, sampai-sampai seorang ibu akan rela berlari ke toko terdekat untuk membeli garam pada saat dia sedang asyik memasak jikalau garamnya habis.

Rasanya sih memang asin, tapi kalau sudah dipadu dengan berbagai bumbu racikan dan isi yang ada di dalamnya, maka bisa menjadi makanan mewah ala hotel berbintang 5 atau makanan sederhana yang dibuat dengan cinta kasih oleh seorang ibu. Bahkan ada juga lho yang suka “gadoin” garam sebagai camilan di saat iseng,hehehehhhe…

Nah sekarang coba bayangkan seandainya seorang ibu berinisiatif untuk menggantikan kedudukan garam sebagai penyedap dan penguat rasa dengan ulekan cabe rawit plus cabe merah nan pedas. Sekadar untuk berinprovisasi, maka garam itu diganti dengan ulekan cabe yang sangat merah merona, dimasukan ke dalam panci sesuai selera (kebetulan selera ibu ini doyan pedas..). Sayur tanpa garam, dan ekstra ulekan cabe rawit plus cabe merah nan pedas, apa jadinya yah ? Aku yakin suami beserta anak-anaknya akan segera bergegas untuk pergi ke restoran terdekat tanpa bersuara, hehehhehe…

Dimana-mana kita semua udah tau pastinya bedanya rasa garam sama cabe rawit, sipp…betul sekali, kalau garam kan asin, tapi kalau cabe rawit pedesnya bukan main. Malahan bisa bikin kita meringis sambil nangis dan sama sekali nggak bikin manis muka kita..hehhehehe… Makanya nggak heran, saat berhadapan dengan makanan ekstra pedas, seringkali kita mengelus-elus perut sambil bilang “Dalam Nama Tuhan Yesus..”

Mungkin inilah alasan kenapa Tuhan Yesus tidak menyuruh kita menjadi “cabe dunia” tetapi menjadi “garam dunia”. Bukannya untuk “memedaskan” dunia tapi untuk “menggarami” dunia.

“Kok bukannya menjadi garam malah menjadi cabe rawit yang bikin sakit perut yah ?”

Pertanyaan ini terlontar saat aku sedang YM-an dengan salah satu penulis (yang mungkin anda kenal) yang suka “berjualan bakmi di pinggiran jalan” (hehehhe..). Beliau menceritakan mengenai kisah, atau bisa dibilang kesaksian, mengenai seorang yang mendapat siksaan sejak kecil oleh orang-orang yang mengakui dirinya “Kristen”, sampai-sampai dia tidak mau menjadi seorang Kristen dan trauma dengan kekristenan.

Jadi teringat juga dengan cerita Mahatma Gandhi, orang paling berpengaruh di India dan dikalangan penganut hindu di sana, yang kecewa dengan perlakuan orang-orang yang mengaku “Kristen” tetapi sama sekali nggak mencerminkan sikap seperti kristus. Pada akhirnya Mahatma Gandhi kagum kepada Kristus, tetapi kecewa kepada orang-orang Kristen.

Friends, apakah hidup kita lebih pantas disebut sebagai garam atau cabe rawit. Apakah dengan keberadaan kita justru “menyedapkan” lingkungan sekitar kita, atau malah membuat lingkungan kita jadi meringis karena “kepedesan” ?

Berbicara mengenai dampak, itu juga berbicara mengenai karakter kita. Karena karakter itu akan timbul menjadi sikap yang natural saat kita berada di lingkungan kita. Lalu bagaimana dengan karakter kita, apakah itu bisa diteladani ?

Aku seringkali berpikir dan merenung setelah menjalani sebuah hari, pertanyaannya sederhana, “Bagaimana kehadiranku hari ini, apakah menjadi berkat atau kutuk, apakah menjadi teladan atau menjadi sindiran? “

Apakah dengan kemarahanku, orang lain merasa terberkati, atau justru dengan bercandaanku orang lain merasa tersindir dan marah. Selalu ingat, bahwa kita akan selalu disorot oleh dunia, karena kita bukan berasal dari dunia ini. Dan apa yang berasal tidak dari dunia ini akan selalu dilihat oleh dunia ini, entah itu untuk mencari kesalahan atau mencari keteladanan. Berhati-hatilah dalam bertindak, berkata, berpikir, bahkan saat bercanda.

………..Karena kita ini adalah “garam dunia” bukannya “cabe dunia”

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Matius 5:16

Be blessed everyday…

Ditulis oleh KSW_FOS Community

Waduuh… Bocor!!!

1

Category : Asides

Rencana untuk sampai rumah secepatnya ternyata harus digagalkan karena ban motor yang kempes, dan ternyata ini bukan sekedar kempes tapi bocor. Terpaksa harus menuntun motor kesayangan menuju tambal ban terdekat yang tidak dekat.

Motor terasa berat saat di gas, padahal gigi satu, dan lagi ditambah stang motor yang agak goyang sedikit. Dan setelah dilihat, ternyata bener, ban motornya bocor. Dan akhirnya rencana pulang agak sorean harus batal karena dipaksa menuntun motor untuk menambal bannya.

Sampai di bengkel, ternyata si “Lae”, sudah siap dengan peralatan tempur seadanya untuk menambal ban yang bocor. Dimulai dengan mengeluarkan ban dalem motorku, lalu memeriksa titik bocornya dengan menggunakan seember air, trus ditandai dengan paku. Dua lobang kecil di ban dalam motorku yang cukup membuatku berjalan 1 kilometer mencari tukang tambal ban.

Tugas si “Lae” itu belum selesai, setelah menemukan 2 titik bocornya, kemudian dia menghaluskan sisi/daerah sekitar titik itu, dikerok sedemikian rupa sehingga daerah itu menjadi agak sedikit halus. Setelah itu “Lae” itu mengambil senjata utamanya untuk menambal, diambilnya sepotong tambalan, direkatkan ke titik bocor itu, lalu menuangkan cairan untuk menyalakan api. Proses selanjutnya adalah menunggu hingga api itu padam dan tertamballah titik bocor itu.

Hal serupa dilakukan juga untuk titik selanjutnya. Dan akhirnya selesailah proses penambalan ban yang cukup memakan waktu. Oh Iya ada yang kelupaan, sebelum memulai proses menambal, “lae” itu mencari penyebab bocornya, diraba-raba ban luar, dan akhirnya menemukan sepotong kecil paku/kawat.

Selesailah sudah proses menambal itu, dan aku bisa melanjutkan perjalanan kembali. Pengalaman ban bocor yang luar biasa.

Luar biasa ??? Ahh, kayaknya biasa-biasa aja deh.. Apanya yang spesial dari cerita diatas ?? Ban bocornya, tambal bannya, “Lae”-nya, atau prosesnya ??? SEMUANYA !!!

Yah, karena pengalamn itu aku jadi kenal yang namanya istilah “bocor Rohani”, Whatzz, apaan tuh??

Yap, seperti sebuah ban yang bocor, titik sekecil apapun dalam kerohanian kita akan dijadikan celah bagi iblis untuk mengambil alih kehidupan kita. Perlahan tapi pasti, melalui titik kecil itu, kerohanian kita akan semakin kempis, lalu menjadi kering, dan akhirnya benar-benar mati. Ini yang bahaya, karena titik itu seringkali tidak kita sadari, dan parahnya lagi banyak yang tersadar saat kerohanian mereka berada di titik kritis.

Titik bocor itu bisa berupa karakter kita yang belum diubahkan, contohnya egois, gampang tersinggung, iri hati, mudah terbakar api cemburu, gampang ngambek, gampang mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati atau karakter buruk lainnya. Titik itu bisa juga berupa akar pahit dan kenangan masa lalu yang belum diselesaikan. Atau juga dapat berupa dosa-dosa tersembunyi yang belum diakui dan masih dilakukan. Titik-titik ini akan menyedot habis kerohanian kita sehingga tanpa sadar kita mulai menjauh dan dijauhkan dari Tuhan. Repotnya, yang kita sadari adalah Tuhan yang meninggalkan kita, Tuhan yang tidak setia sama kita, pokoknya semua salah Tuhan deh, wah bahaya !! Padahal sebenarnya ada titik-titik yang belum kita beresin.

Titik itu bisa berupa akrakter yang belum diubahkan, akar pahit dan dosa-dosa tersembunyi.

Titik itu perlu ditambal, dan proses tambal-menambal itu nggak gampang dan nggak mengenakan. Butuh proses yang cukup panjang dan butuh lebih dari sekedar kemauan untuk menambalnya.

Proses pertama yang dibutuhkan adalah SADAR kalau ternyata kita sedang mengalami kebocoran. Seandainya aku nggak sadar kalau banku bocor, mungkin aja aku akan memacu motorku dengan kecepatan penuh untuk sampai dirumah dengan kondisi ban yang bocor, dan akibatnya adalah pelek motor jadi rusak, ban jadi semakin nggak karuan bentuknya, dan dapat berakibat kecelakaan. Fatal kan? Itu baru ban bocor, gimana kalau kita nggak sadar kerohanian kita sedang bocor, akan berujung pada kematian kekal, dan yang bakalan ketawa pertama adalah si iblis.

Setelah sadar, lalu begegas mencari tukang tambal ban, supaya bannya bisa ditambal. Aku suka dengan kata-kata “mengejar Pemulihan”. Karena sadar aja belum cukup, harus ada tindakan nyata dengan membawa “kebocoran” itu pada ahlinya supaya didiagnosa dan segera diobati. Ahlinya ban bocor adalah si “lae” itu, dan ahlinya bocor rohani yah Tuhan Yesus donk.

Sampai di tempat si ahli, pertama kali harus dicari titik bocor itu. Dan media yang paling ampuh adalah air, karena dengan air, akan terlihat titik yang tidak terlihat. Setelah terlihat, baru ditandai supaya nggak hilang. Ini proses yang cukup susah seandainya tidak ada air, karena titik itu begitu kecil sehingga tidak terlihat. Kadang titik bocor rohani kita begitu kecil, sehingga tidak terlihat oleh mata kita, terlalu kecil untuk kita sadari. Jadi perlu media penghantar untuk menemukan titik itu. Air adalah perlambang pertobatan dan pelepasan. Saat kita merasa tidak tahu apa yang salah dengan kita, dimanakah letak titik itu, bawa dalam doa supaya Yesus menunjukan titik itu. Dan doa ini memerlukan kerendahan hati dan pengakuan bahwa ada yang sedang tidak beres di hidup kita.

Sampailah kita pada proses penambalan, di “kikir” dulu daerah dimana titik itu ada. Kalau aku berpikir proses ini membuat lubang itu menjadi terlihat dengan jelas, dan juga supaya titik itu dapat ditambal. Mungkin inilah saat dimana titik itu dibersihkan sebersih-bersihnya, supaya saat ditambal tidak ada yang mengganjal. Dalam dunia rohani aku mengenal kata pemberesan, dimana setiap akar pahit dicabut hingga akar-akarnya, setiap masalah diselesaikan seselesainya, dan setiap doa diakui sejujur-jujurnya, nggak gampang memang, apalagi mengingat “titik bocor” itu susah untuk dilupakan, susah untuk diakui dan susah untuk dimaafkan. Tapi harus dilakukan, karena ini juga sama pentingnya dengan menambal.

Dan inilah proses yang ditunggu-tunggu, mengambil sepotong karet lain, ditempel dititik bocor itu, lalu dipanaskan dan di press menggunakan mesin ala kadarnya. Tunggu sekitar 10 menit, dan akhirnya tertambalah titik itu. Proses terakhir yang mungkit bagi si “ban” menyakitkan, mengingat dirinya harus dibakar dalam api yang menyala berjam-jam. Tapi ibarat sebuah bejana tanah liat yang sedang dibentuk, pada akhirnya, setelah semua proses itu selesai, jadilah sebuah bejana yang indah. Jadilah sebuah ban yang kembali siap dipakai untuk berkendara, tertutuplah titik itu. Proses ini yang seringkali ditinggalkan atau dilupakan saat ada titik-titik bocor di kerohanian kita. Kecenderungan untuk puas pada proses pemberesan, membuat kita terhenti untuk melakukan proses ini, proses bertobat, penyadaran akan arti penebusan.

Dalam bahasa aslinya, bertobat artinya metanoia, ibarat orang yang dompetnya tertinggal, ia tidak hanya sadar saja dan diam ditempat, tetapi dia berbalik arah dan mengambil dompet itu. Ada sebuah tindakan yang dilakukan, ada sebuah komitmen yang dibuat. Ini yang dinamakan pertobatan sejati, saat kita mengambil sebuah langkah untuk “say No” dengan karakter-karakter buruk kita yang lama, untuk “say no” dengan semua akar pahit dan kenangan masa lalu kita, dan “say no” untuk segala dosa yang membuat kita ketagihan.

Dan sembari mengatakan “no” untuk hal-hal itu, kita mengingat perkataan Yesus di kayu salib, “ TETELESTAI…”, SUDAH SELESAIHE PAID IT ALL !!!

Si “Lae” membuyarkan lamunanku, banku sudah selesai di tambal dan siap jalan kembali, dan aku harus membayar sejumlah uang untuk tambalan itu. Satu hal yang aku dapatkan hari ini, bukan hanya banku yang ditambal, tetapi kerohanianku dan kehidupanku sudah ditambal olehNya, sebuah tambalan bukan dengan karet bekas, tetapi dengan darah yang mahal yang tercurah dan air mata yang menandakan kerinduanNya kepadaku.

Dan aku harus membayarnya………………….dengan hidupku.

Thanks Jesus.

Ditulis oleh KSW_FOS Community

Cerpen – Mungkin Aku Dihipnotis

1

Category : FOSters Creativity

Mungkin aku dihipnotis, jelas aku diracuni. Semua tentangmu adalah palsu, dan aku dengan senang hati tertipu. Aku menggilaimu dengan sepenuh hati, dan waktuku hanya padamu. Segenap rindu tak pernah habis, bertambah kuat dan kukuh, dan pikiranku roboh, dan hatiku hancur, dan hidupku hancur.

Siang dan malam hanya untukmu. Siksa dan dera aku terima. Air mata tak jadi soal. Ayah dan Ibu tak lagi ada dalam ruang hatiku. Sahabat tak pernah jadi yang terindu. Bahkan Yang Maha Kuasa tak lagi kukenal. Kutolak semua, hanya kau yang tersisa. Pun seluruh hidupku, kau yang berkuasa. Jadi apa yang tersisa?

Aku mengaduh, kau tak mau tahu. Dengan begitu cerdik, kau rayu aku. Dan aku dengan rindu, datang lagi padamu.

Tidak pernah tahu, kapan aku sadar? Kapan aku tidak sadar? Semua waktu terasa sama saja, sebentar melayang, sebentar terempas dan aku kesakitan. Dan aku datang lagi padamu, dan aku jatuh hati lagi padamu.

Harus jujur kah? Baiklah. AKU SANGAT KESEPIAN DAN AKU SANGAT KESAKITAN!

Mengapa semua berubah saat kau datang? Tidak pernah aku merasakan sensasi luar biasa saat dengan sadar aku mencobamu untuk pertama kalinya, lalu tanpa sadar aku mencobamu untuk tak terhitung kalinya. Kau manis dalam kerongkonganku, lembut dalam pikiranku, kau sensasi luar biasa dalam hatiku. Lalu aku mencoba dengan tusukan di lengan, dan aku makin suka. Ini candu, aku gila dalam candu.

Mengapa semua hilang saat kau datang? Kini aku tiada memiliki selimut hangat untuk menghangatkan kantung air mataku yang membeku, yang tak lagi dapat menetes karena terlalu banyak air yang mengalir darinya. Kutingggalkan semua, semua! Aku malu, aku takut, aku jatuh dalam candu.

Dengan kesadaran tingkat tinggi kunyatakan pada seluruh dunia: kaulah yang terburuk dalam hidupku. Memilihmu adalah keputusan paling ceroboh dari setiap kecerobohanku. Waktuku bersamamu adalah waktu paling sia-sia. Aku patah hati, dan barulah aku tahu ternyata air mata dapat mengalir sedemikian deras karena hati yang patah.

Aku malu dan takut kembali pada orangtua, pada sahabat, pada Tuhan. Aku meninggalkan mereka dan mereka tak akan pernah sudi menerimaku kembali, itu firasatku. Dan aku gembira sampai sesak nafas karena firasatku salah! Mereka menerimaku kembali, dengan air mata yang deras yang juga mengalir deras dari mataku. Aku datang hanya dengan pakaian yang melekat pada tubuhku, tanpa membawa bingkisan sebagai tanda penyesalan. Namun mereka menyambutku bak anak raja, memeluk aku sedemikian erat karena aku telah pulang.

Dan dengan kesadaran paling tinggi yang baru kali ini kualami, aku menyatakan pada dunia: bahwa Tuhan menerimaku dengan seutuhnya. Ia bahkan menantikan aku hari demi hari, aku tahu ini, karena Ia yang memberi tahu kepadaku. Setelah sekian lama, aku merasakan lagi kasih yang dahulu kutinggalkan. Dan sedikitpun kasih-Nya tak berubah, malah aku bertambah dekat pada-Nya. Aku tahu ini, karena ia yang menunjukkannya. Kini hatiku menyatu kembali, baru aku tahu ternyata hati yang patah dapat sembuh pula. Aku tahu ini, karena aku mengalami dan merasakannya.

Aku menyesal, tapi itu tidak berguna. Sakit hatiku bukan lagi topik utama. Tidak berguna dan tidak menjadi topik utama KARENA TUHAN SUDAH MEMULIHKAN DAN MEMAAFKAN AKU, dan pun aku MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI. Kini aku tahu, kau hadir bukan karena kebetulan. Aku menjadi semakin kuat saat aku tidak terpaku pada masa lalu, melainkan mengarahkan hidupku pada masa yang kujelang. Aku dan Tuhan sudah berjanji, kami akan selalu berjalan bersama, INI JANJI UNTUK SELAMANYA.

Amsal 23:18

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. “

Ditulis oleh ENS_FOS Community

Komik – When Jesus Lead Our Life

14

Category : Christian Comic

Hidup bersama Tuhan itu seperti…
Saat kita bersepeda..
Dengan sepeda tandem. Dan Tuhan Yesus ada di belakang kita.
Ia mengayuh sepeda bersama dengan kita dan kita merasa begitu damai..

Namun kadangkala, sulit menentukan jalan mana yang akan kita tempuh..
Lalu kita berkata..
“Tuhan, maukah Kau memimpin perjalanan ini?”
Yesus pun menjawab “Baiklah, tapi kau harus percaya pada-Ku.”
Aku pun mengiyakannya.

Namun..
Jalur yang Ia tempuh sangat berbeda dengan apa yang kita pikirkan sebelumnya..
Kadang..
Perjalanannya begitu menakutkan dan terlihat mustahil untuk dilalui..

Tapi Ia tahu kita begitu ketakutan..
Karena itu Ia selalu menggenggam tangan kita
Tak pernah sekalipun melepas kita
Tak pernah sekalipun mengecewakan kita

Lalu,
Walau dengan mata tertutup..
Kita kembali mengayuh..
Dan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya

Pada akhirnya..
Saat kita membuka mata..
Ia telah membawa kita..
Ke tempat tujuan..

Yang ternyata jauh lebih indah dari apa yang pernah kita bayangkan sebelumnya..

Terima Kasih Tuhan…

Yeremia 29:11
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. “

Komik yang dibuat oleh Sonny Ketsit