Pria Simpanan dan Preman

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Hmmm….hari masih gelap, tapi sepertinya sebentar lagi pagi
Aku terjaga dari tidurku, bangun dan duduk di ranjangku
Di sebelahku sesosok tubuh perempuan terbaring lelap
Seandainya aku bisa mengatakan kalau dia istriku, tapi sayangnya bukan
Seandainya aku juga bisa mengatakan kalau aku mencintainya, tapi juga tidak
Bagiku dia majikanku, dan baginya aku hanyalah mainan favoritnya..saat ini…
Ah…waktunya bangun dan pergi ke kamarku sebelum pelayan lain memergokiku

Sambil berjalan, aku teringat masa lalu
Kalau dipikir-pikir, nasib ini sungguh aneh
Dibuang keluarga dan menjadi pelayan di rumah ini
Majikanku memperlakukanku cukup baik, tapi istrinya bahkan lebih “ baik ” lagi
Dia sendiri yang datang dan menawarkanku tempat di ranjangnya

Untuk sesaat aku bimbang, bukankah itu dosa ?
Tapi, kenapa tidak ? Aku masih muda dan tubuhku menginginkannya
Tapi bukankah itu menyakiti Tuhan ?
Tuhan ? Tuhan yang diam saja ketika keluargaku membuangku ?
Tapi bukankah Tuhan akan menjadikan semuanya baik ?
Baik di mananya ? Aku hanya pelayan di rumah ini…tapi seandainya nyonya menyukaiku, kehidupanku akan lebih baik dan aku bisa memuaskan masa mudaku.
Tunggulah Tuhan dan Dia akan…
Tidak, aku tidak mau menunggu. Aku lelah menunggu mimpi tak jelas, lebih baik aku mengambil apa yang ada di depan mataku saat ini.

Kehidupan ini tidak jelek..
Tuan sering pergi untuk kerja sampai berhari – hari dan tidak pernah curiga
Nyonya menyukaiku dan aku bisa hidup nyaman
Mungkin ini bukan hidup yang kuimpikan, tapi tidak jelek..

***********

Bayaran bulan ini tidak terlalu banyak, mungkin para pedagang itu harus diingatkan lagi karena jasa siapa mereka bisa berdagang dengan aman tanpa takut dirampok. Sedikit uang tanda terimakasih karena sudah menjaga barang dagangan mereka harusnya tidak seberapa. Mungkin para pedagang kikir itu harus belajar apa arti kata tidak aman sebelum mereka mau berterimakasih.

Hahh…menjadi preman kecil di kota kecil…betapa jauh dirinya terbuang.
Dulu hidupnya tidak seperti ini…dulu dia wakil direktur perusahaan besar.

Dulu hidupnya bagaikan anak bangsawan, tapi sekarang dia terbuang di kota kecil berdebu ini, menjaga barang dagangan para pedagang yang tak tahu terimakasih itu.
Dan semuanya karena mertuanya sendiri, direktur perusahaannya, cemburu pada kesuksesannya di perusahaan itu.
Hahh…padahal mertuanya yang tidak sanggup memimpin, tapi dia yang dipecat dan berakhir di sini.
Tapi…ini juga tidak jelek, setidaknya dia berhasil membalas dendam…

Senyum tersungging di bibirnya, ketika dia teringat lagi ketika pisaunya menembus tubuh mertuanya yang bodoh dan tidak kompeten itu.
Ya..tahun lalu mertuanya datang ke kota ini mencarinya…
Masih banyak pegawai di perusahaan itu yang menginginkan pergantian pemimpin yang lebih kompeten. Dan mertuanya datang ke sini untuk menyingkirkannya, untuk memastikan tidak ada saingan yang akan berebut kepemimpinan dengannya.
Hahh…tapi dia lebih cepat dari mertuanya yang lamban itu.
Ketika mertuanya masuk ke toilet dan para pengawalnya berjaga di luar, itulah saat belatinya membayar semua dendamnya.

Harusnya tidak dia lakukan itu, bukan itu yang Tuhan inginkan
Tapi dendam yang terbayar itu terasa manis
Walaupun kosong….perusahaannya kosong…semua pegawainya tercerai berai karena konflik internal yang berkepanjangan. Sebagian dari pegawai mendukungnya tapi sebagian menolaknya karena dia membunuh mertuanya sendiri. Dan sekarang perusahaan itu kosong…
Dan dia tetap terjebak di kota kecil ini.

Tapi, ini juga tidak jelek…
Setidaknya dia “ direktur ” dari sebuah jasa keamanan
Mungkin ini bukan profesi impian
Tapi, ini juga tidak jelek…

***********

Bagaimana kalau seandainya Yusuf ternyata memilih untuk menerima rayuan istri Potifar ?
Bagaimana kalau seandainya Yusuf lebih memilih untuk memuaskan masa mudanya ?
Bagaimana kalau seandainya, daripada menunggu Tuhan mewujudkan mimpinya, Yusuf memilih untuk mengambil jalan yang mudah ?

Bagaimana kalau seandainya Daud memutuskan bahwa dendamnya pada Saul lebih penting dari apa yang Tuhan inginkan ?
Seandainya Daud lebih memilih untuk main hakim sendiri daripada menyerahkan perkaranya pada Yang Adil ?
Seandainya daripada menunggu waktunya Tuhan, Daud berusaha untuk menjadi raja dengan caranya sendiri ?

Seandainya kita memilih untuk meyerah dan membiarkan diri kita terbawa arus ?
Seandainya kita memilih untuk bertindak sendiri daripada menunggu Tuhan ?
Seandainya kita memilih untuk membuang mimpi-mimpi kita dan mencukupkan diri dengan hidup yang mengikuti dunia ini ?

Yusuf sang perdana menteri….dan yusuf pria simpanan
Daud sang raja….dan daud yang preman
Seandainya Yusuf bertahan sedikit lagi…seandainya Daud percaya sedikit lagi….
Dan…..Puji Tuhan….mereka memang bertahan, mereka memang percaya, mereka menunggu dan Tuhan bertindak, dan mimpi mereka terwujud, dan Alkitab menjadi lebih berwarna dengan kisah hidup mereka.

Sedikit lagi….bertahan lagi….percaya lagi….
Bangun lagi…merangkak lagi…berjalan lagi….
Sedikit lagi….Yesus ada di depan….dan tanganNYA terbuka.

PS : mungkin ada yang heran kenapa Daud perannya di sini jadi preman ? Well…ini pendapat pribadi sih, tapi kalau baca 1 Samuel 25 soal Daud dan Nabal, rasanya kok Daud macem preman yang jaga keamanan kambing domba Nabal terus minta uang terimakasih.
Memang sih kalo preman pasar, dia sendiri yang ganggu kemanan, dia sendiri yang minta uang keamanan. Sementara Daud emang beneran ngejaga kambing domba dari rampok…jadi ga preman – preman amat lah (>,<)’

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Lumpuh Total

Category : Simply Articles

Suatu ketika ada seorang mapan yang memang sudah sukses dalam hidupnya mengeluhkan sakit di punggungnya.  Sakit itu sering kambuh dan sekalinya sakit bisa membuat dirinya tidak dapat melakukan apa-apa. Ketika berobat ke dokter, sang pria tersebut mendapat nasihat supaya harus beristirahat  2 hari untuk memulihkan punggungnya.

 Saran dokter itu dituruti, ia mengambil cuti sehari untuk dapat beristirahat, tidur seharian tepat seperti yang dokter itu anjurkan. Dirasa masih sakit punggungnya, ia mengambil cuti lagi sehari karena dipikirnya toh masih sakit ini, biarlah beristirahat sejenak badannya. Dirasanya masih sakit, ia mengambil cuti lagi sehari hingga tidak terasa sudah seminggu penuh dia cuti dan tidur seharian.

Merasa nikmat untuk beristirahat daripada harus bekerja keras, akhirnya ia putuskan untuk keluar dari pekerjaannya dengan alasan sakit dipunggungnya itu.

Seminggu berlalu, sebulan berlalu, bahkan setahun berlalu, sang pria hanya mengeluhkan sakit di punggungnya sembari rebahan di tempat tidurnya. Tanpa ia sadari bahwa sebenarnya sakit punggungnya sudah hilang sejak ia beristirahat pada hari kedua.

Setelah setahun tiga bulan hanya rebahan di tempat tidur dan tidak melakukan apapun, tiba-tiba ia merasa sakit sekali, bukan hanya di punggungnya, tetapi di sekujur tubuhnya, dan saat ia mencoba menggerakan tangan dan kakinya, yang ada adalah sakit yang lebih lagi, saat mencoba untuk bangkit, yang ada adalah rasa sakit yang tidak kalah hebatnya. Frusatasi sembari menahan sakit, ia menelepon dokter yang dahulu pernah memberikan nasihat mengenai punggungnya.

Ketika dokter datang, dan tau bahwa sudah setahun tiga bulan si pria ini hanya tidur di tempat tidurnya saja kerjaannya, maka sembari menggelengkan kepala dan sedikit sedih ia berkata kepada pria ini, “ Pak, kan saya bilang hanya istirahat 2 hari saja, kenapa jadi setahun begini. Dan tahukah bapak bahwa tubuh bapak saat ini jauh lebih lemah daripada saat saya suruh bapak untuk beristirahat. Saat ini, dengan berat hati saya katakan bahwa bapak mengalami gejala KELUMPUHAN TOTAL…”

….

Guys, tahukan bahwa istirahat itu memang penting, tetapi istirahat yang berkepanjangan itu berbahaya, dapat melumpuhkan, dapat membuat mandul, dapat membuat malas, dan dapat menghilangkan potensi diri kita. Bukan saja mengenai badan yang capek lho, tetapi tanpa kita sadari, kita juga sering merasa lelah dengan semua yang Tuhan anugrahkan kepada kita, contohnya talenta. Seringnya dan padatnya pelayanan membuat kita mengeluhkan kepada Tuhan bahwa kita lelah, butuh istirahat sesekali, butuh waktu luang terbebas dari pelayanan, butuh waktu sendiri, dan butuh bla..bla..bla.. lainnya.

Sehari istirahat, dua hari istirahat, tanpa kita sadari akhirnya kita “resign” dari pelayanan kita, dan memilih melayani nafsu dan egoisme kita sendiri. Kita berhenti menjadi WL untuk Tuhan, berhenti bermain musik di greja, berhenti menulis hal-hal yang memberkati, berhenti datang ke rumah Tuhan, berhenti bersaat teduh, berhenti berdoa, dan hanya sibuk mengejar apa yang menjadi daya tarik dunia. Well, isitrahat nampanknya di salahartikan.

Semua orang pasti punya alasan untuk beristirahat dari apapun, tetapi jarang sekali orang yang mau kembali dari “istirahatnya” itu untuk kembali beraktifitas, kembali menjadi berkat dan kembali melayani. Why? karena istirahat itu nyaman guys, karena istirahat itu nggak perlu melakukan apapun, karena istirahat itu ueeenakk tenan…

But excessive rest is dangereous, why ??  Karena saat kita terlena dengan istirahat kita yang berlebihan bisa-bisa kita menjadi LUMPUH….. Lumpuh badan kita, lumpuh semangat kita, lumpuh potensi kita, Lumpuh jiwa kita, Lumpuh talenta kita, Lumpuh hati kita, dan bahkan lumpuh rohani kita.

Kalo sudah LUMPUH semuanya, berbahaya… karena kita hanya akan meratapi kelumpuhan kita dan berharap untuk cepat-cepat Rest in peace…. Ngeri sobb…

Jadi sebelum kelumpuhan total menghinggapi kita, yuk kita bangunkan diri kita dari istirahat yang merusak, bangunkan jiwa kita, bangunkan semangat untuk pulih dari dalam diri kita, kembali latih dan lakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita, kembali aktif ke dalam pelayanan dan persekutuan, dan minta Tuhan untuk membangkitkan kerohanian kita yang sudah keburu loyo.

Nggak ada salahnya di awal tahun 2012 ini kita jadikan sebagai titik awal dari semangat yang baru untuk tidak lagi “membenarkan” istirahat yang berkepanjangan apalagi istirahat untuk ikut Tuhan.

Mari bangkit dan kembali bersinar, menyinari hati-hati yang hampir lumpuh karena kegelapan…

NB: penulis juga sedang berusaha bangkit dari “istirahat yang berkepanjangan” loh.. hehehe…

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati Ini

Category : Pojok Tukang Bakmi

Ding Dong….Ding Dong…Ding Dong…
Apakah kau menerima xxxxx sebagai istrimu yang sah? Yes, I do….
Dengan ini kalian resmi menjadi suami istri…
Dan….dimulailah masa – masa live happily ever after
Akhirnya, ada yang nyuciin baju kalo kotor
Akhirnya, ada yang masakin kalo laper
Akhirnya, ada yang mijetin kalo cape
Akhirnya, ada yang nemenin kalo tidur
Senangnya bisa nikah….
Eppp… Tunggu… Jangan lempar sendal dulu ato demo ala feminis…
Ini cuman contoh… Contoh alasan ato motivasi buat nikah yang salah.
Normalnya, harusnya, bagusnya, pastinya, kalo mau nikah itu supaya bisa selalu bersama dengan orang yang kita sayang sampai kesudahannya kan? Bukan supaya punya pembantu baru? Yang kita inginkan bukan rumah bersih rapi, makanan hangat ato baju bersih kan? Tapi supaya kita bisa menghabiskan waktu bersama?
Yang kita inginkan bukanlah makanan lezat yang selalu tersedia…
Yang kita inginkan bukanlah pembantu – pembantu bersayap
Yang kita inginkan bukanlah rumah megah dengan jalan terbuat dari emas
Ketika tidak ada lagi tetes air mata, itu bukan karena kita akhirnya bisa hidup bagai raja, tapi itu karena akhirnya… Akhirnya… Kita bisa bertemu sang Raja dan menghabiskan waktu bersama sampai selamanya.
Menceritakan surga sebagai tempat dimana kita bisa hidup dengan segala kemewahan tanpa kesusahan itu bagaikan suami yang menyombongkan rumahnya yang selalu terawat tanpa pernah menyinggung sedikit pun tentang istrinya.
Bukankah surga menjadi surga karena Yesus ada di sana?
Dan bukankah neraka menjadi neraka karena..itu berarti….Tuhan tidak ada di sana ?
Ataukah neraka menjadi neraka karena mempunyai koleksi alat – alat penyiksaan terbanyak ?
Apakah neraka menjadi neraka karena…di sana….manusia ditusuk dibakar digiling direbus…?
Duduk termenung sambil menengadah ke atas….menengadah memandang surga
Mungkin….mungkin neraka ini tidak untuk selamanya
Bukankah Tuhan itu baik? Mungkin suatu hari nanti Dia akan datang ke neraka ini dan berkata kalau hukumanku sudah cukup.
Ya..ya…mungkin besok dia datang…mungkin lusa….mungkin minggu depan..bulan depan…tahun….
Tapi…bagaimana kalau seandainya Dia tidak akan pernah datang untuk selamanya ? Bukankah neraka diciptakan untuk kekekalan?
Tapi…mungkin juga Dia datang…
Mungkin hukumanku kurang, mungkin aku harus menebus dosa- dosaku? Mungkin aku harus menghukum diriku sendiri supaya Dia makin cepat datang ?
Hei…ada iblis di sana…mungkin dia bisa membantuku menyiksa dirku sendiri supaya dosaku cepat lunas…
Blis ? i-Blis ? Sini dong…..
Mungkin besok Dia akan datang…..
Tapi…bagaimana kalau Dia tidak akan pernah datang ?
Tapi..Dia kan penuh kasih ? Masa Dia akan membiarkan kita sampai selamanya di sini ?
Tapi bukankah neraka itu untuk selamanya sampai kekekalan ?
Mungkin sebentar lagi pintu itu terbuka dan Dia datang ? Mungkin besok ?
Dan keputusasaan pelan-pelan merayap…..disertai harapan kosong dan doa yang tak akan pernah terjawab.
Frustasi membuatnya meninju tembok…tapi kepalanya tetap dipenuhi suara – suara.
Mungkin kalau kepala dibenturkan ke tembok?
Mungkin rasa sakit bisa menghilangkan dan membuat lupa akan keputusasaan ini?
Mungkin kalau kakiku dipatahkan? Atau kuku jariku dicabuti? Mungkin dibakar? Apapun asal suara – suara yang menghantui kepalaku ini hilang…
Mungkin iblis bisa membantuku menyakiti diriku sendiri….i-Blis…….sini dong…
Dalam dunia tanpa Tuhan, kita tidak perlu disiksa. Kita akan menyiksa diri kita sendiri hanya untuk melupakan bahwa kita ada di dunia tanpa Tuhan.
Dalam dunia tanpa Tuhan, harapan yang ada adalah kosong, doa yang dipanjatkan tidak terjawab, penantian yang tak berakhir, kesepian yang tak terpuaskan, dan satu – satuya hal yang nyata adalah penyesalan dan keputusasaan.
Dalam dunia tanpa Tuhan, keinginan untuk masuk ke pesta Tuhan sama beratnya dengan kesadaran kalau tempat kita bukan di pesta itu.
Seperti pengemis yang datang ke pesta para bangsawan, sekalipun dia berusaha bertahan tetap di pesta, pada akhirnya dia tahu tempatnya bukan di sana.
Sekalipun dia bisa menebalkan muka, dia akan selalu tahu kalau dia bukan bagian dari mereka.
Karena dia memakai baju rombeng pendosa dan bungkuk oleh penyesalan yang terlambat sementara para bangsawan anak Raja memakai baju iman dan berdiri tegak karena sukacita.
Baju iman hanya diberikan pada mereka yang percaya walaupun tidak melihat
Tapi saat ini dia sudah melihat surga dan kemuliaan Tuhan, bagaimana dia bisa menerima baju iman ?
Penyesalan yang terlambat, seandainya saat di dunia di mana Tuhan tidak terlihat dia memilih untuk beriman….
Surga ini bukan rumahnya, neraka pun bukan, tapi neraka adalah tempat di mana semua orang yang tidak mempunyai rumah pergi…..
Apakah saya pernah dapat penglihatan tentang neraka ? Ngga…
Atau mungkin pernah diangkat ke surga ? Ngga juga….belum…
Kalau begitu, kenapa saya menulis tentang surga dan neraka walaupun saya ga tahu bentuknya seperti apa ? Karena saya tahu surga menjadi surga karena ada Yesus di sana, bukan karena trotoarnya terbuat dari emas . Dan karena itu, neraka seharusnya menjadi neraka karena Yesus tidak ada di sana.
Apakah neraka tempat penyiksaan dan penghukuman ?
Saya juga ngga tahu, tapi yang saya tahu, dalam dunia tanpa Tuhan kita akan menyiksa diri kita sendiri dengan harapan Tuhan akan memaafkan kita. Atau saat kita sadar kalau itu hanya harapan kosong, kita akan menyakiti diri kita sendiri hanya untuk berusaha melupakan harapan kosong itu dan menggantinya dengan rasa sakit.
Dalam dunia tanpa Tuhan, daging yang terbakar lebih nyaman daripada duduk terdiam dalam kekekalan menatap pintu yang tak akan pernah terbuka dan Sosok yang tak akan pernah hadir.
Kenapa Tuhan tidak berbaik hati dan mengijinkan orang berdosa masuk ke surga? Bukankah Dia penuh kasih?
Tentu saja Sang Raja bisa mengijinkan pengemis masuk ke pestaNYA, tapi pengemis itu akan selalu tahu bahwa tempatnya bukan di pesta itu. Berdiri di tengah pesta megah dengan baju compang camping lebih menyakitkan daripada diam di tengah tumpukan sampah. Tak akan ada seorang pun yang bisa bertebal muka di hadapan Raja dan tetap tinggal di pesta selama dia berbaju compang camping.
Tidak bisakan Raja memberikan baju baru ?
Dress code untuk pesta Sang Raja adalah baju yang bernama iman . Iman yang percaya pada penebusanNYA, iman yang percaya pada yang tak terlihat.
Tapi saat orang tak percaya meninggal dan melihat segala kemuliaan Tuhan, bagaimana dia bisa memperoleh iman ? Bagimana dia bisa percaya pada yang tak terlihat sementara dia sudah melihat ?
Apakah tempat sampah adalah kekejaman sang Raja? Mungkin…..
Tapi seandainya berada di pesta dengan baju compang camping lebih menyakitkan, tempat sampah adalah kemurahan hati.
PS :
Sekali lagi, tulisan ini cuma pendapat pribadi saya tentang surga dan neraka. Sepeti apa sebenarnya surga dan neraka itu nanti sama – sama kita lihat kalau kita sudah “ pulang”.

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Pengharapan Natal – Hopeful not Hopeless

2

Category : Simply Articles

Ada salah satu tradisi unik di luar negeri saat natal, yaitu menggantungkan beberapa buah kaus kaki warna-warni di dekat tungku perapian, tujuan utamanya adalah saat keesokan harinya di dalam kaus kaki itu ada hadiah atau kejutan lainnya dari sinterklas.

Unik juga, yah, kalo dipikir, butuh segede apa tuh kaus kaki kalo kita mengharapkan hadiannya televisi 100 inch atau kulkas 10 pintu.. hehehe..

Tradisi itu bukan untuk menggambarkan kalo mau hadiah harus punya kaus kaki yang super duper gede dan digantung di sisi perapian, tetapi itu menggambarkan sebuah pengharapan yang digantungkan. Sebuah harapan yang ingin didapatkan untuk hari esok, dan sebuah kejutan untuk mengisi bahkan mewujudkan harapan itu.

Berbicara tentang harapan dan pengharapan, aku yakin pasti setiap kita punya sebuah bahkan lebih harapan yang telah lama diharapkan, atau baru akhir-akhir terpikirkan, apalagi masih dalam suasana natal, ditambah tahun baru ini, pastinya ada sejuta bahkan semilyar harapan yang dimiliki oleh seseorang, apapun itu, siapapun itu.

Friends, apa yang akan kalian lakukan, seandainya tak satupun dari sejuta bahkan semilyar harapan itu terwujud menjadi kenyataan di natal kali ini, tidak ada kemeriahan natal yang diharapkan, tidak ada momen untuk pulang ke rumah bertemu dengan orang tua melepas rindu, tidak ada keceriaan natal di dalam rumah, tidak ada ucapan dan hadiah natal yang kita terima, dan bahkan kita merasa natal tahun ini adalah natal yang terburuk sepanjang hidup kita, nggak usah ngomongin harapan deh, yang ada malah masalah yang selalu datang dan tidak pernah berhenti, sampai-sampai kita bilang “I Hate This Christmas !!!”

Akankah kalian merobek-robek kaus kaki yang telah tergantung itu dan membakarnya hingga habis, atau kalian akan tetap membiarkannya tergantung manis di sana dengan terus meletakan tangan di dada dengan penuh harap?

Harapan yang tak terwujud memang pahit, tetapi lebih pahit lagi adalah saat kita tidak memiliki pengharapan sedikitpun. Harapan bukannya tidak terwujud, tetapi belum terwujud. Kalo kita ngomong tentang harapan bukan hanya melihat sesuatu yang baik saja, tetapi melihat sebuah proses, yang kadang dimulai dengan terpaan yang sangat menyakitkan, sampai-sampai kita berteriak ‘STOP !!”, tetapi bukan pengharapan namanya kalo hanya berhenti di situ, karena dimulai saat itulah, saat kita membiasakan dan menguatkan diri untuk tidak berkata “Stop !!” kita sedikit demi sedikit namun pasti mendapatkan dan meningkatkan kekuatan kita, sehingga kita bisa bertahan dalam rasa sakit itu. Ada yang namanya ketekunan dan tahan uji, dan saat kita udah naik kelas ke level tahan uji itulah, cahaya pengharapan yang awalnya tidak terlihat sama sekali mulai terlihat sedikit demi sedikit. Dan yang aku tau yang namanya pengharapan dalam Tuhan itu tidak mengecewakan (terjemahan inggrisnya, Not ashamed = tidak mempermalukan).

Memang tidak mudah untuk memiliki pengharapan, tetapi tidak sesusah sama sekali tidak memiliki pengharapan, artinya manusia hidup harus selalu memiliki pengharapan, karena tanpa pengharapan hidup tiada berarti, dan tanpa ada yang berharap akan kedatangan Sang Mesias, Bayi di palungan itu tidak akan menjadi sebuah keajaiban.

Harapan ada sebelum hari esok dan takkan pernah berakhir setelah hari ini berlalu, karena yang namanya pengharapan akan selalu ada, sampai saatnya Tuhan memperbaharui pengharapan kita.

Apapun yang kamu harapkan di natal ini, tidak ada kata terlambat dan menyesal untuk harapan itu, nyalakan sebuah lilin, redupkan lampu kamarmu, dan di tengah cahaya lilin itu, naikanlah permohonan dan harapanmu kepada Bapa di surga melalui sebuah doa yang sederhana, saat kita tau begitu inginnya Tuhan mewujudkan harapan kamu sebagai bukti kasihNya kepadamu, saat itulah kita akan menjadi orang yang paling berpengharapan melebihi apapun.

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Roma 5:5

And hope maketh not ashamed; because the love of God is shed abroad in our hearts by the Holy Ghost which is given unto us.
Rome 5:5

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Anjing, Kucing Dan Gadis Tuli

Category : Pojok Tukang Bakmi

Seorang pedagang yang baru pulang dari kegiatannya berdagang di ibukota sedang kebingungan. Kereta kuda yang dinaikinya mengalami kerusakan pada rodanya dan tidak bisa melanjutkan perjalanan, padahal saat itu dia masih di tengah gunung. Pedagang ini ingin pergi ke desa sebelah untuk mencari pandai besi yang bisa memperbaiki keretanya, tapi dia takut meninggalkan kereta itu sendirian karena kereta itu penuh berisi uang perak dan barang-barang jualan dari ibukota yang akan dijualnya di kota asalnya.

Pada saat dia kebingungan, seorang pemburu dengan anjingnya lewat di jalan itu. Dengan segera pedagang itu menghentikannya dan meminta tolong pada pemburu itu untuk menjagai keretanya. Pemburu itu setuju dan duduk berjaga dengan anjingnya sementara pedagang itu pergi.

Sampai waktu menjelang malam,pedagang itu masih belum kembali sementara pemburu itu harus segera pulang karena ibunya yang sudah tua dan hampir buta menunggu makan malam di rumah. Karena itu dia memerintah anjingnya untuk menjagai kereta itu sementara dia pulang. Dengan setia anjing itu berjaga tanpa memejamkan mata untuk beristirahat. Malamnya, pedagang itu kembali sambil membawa seorang pandai besi dan dia sangat gembira melihat anjing itu setia berjaga. Sebagai tanda terimakasih,pedagang itu memberikan sekeping uang perak pada anjing itu.

Anjing itu pulang sambil menggigit uang perak di mulutnya. Ketika pemburu itu melihat anjingnya pulang dengan menggigit uang perak,dia menjadi marah karena menyangka anjingnya mencuri uang itu dan kabur dari tugasnya. Dia mengambil tongkat dan memukuli anjing itu sampai mati. Di kemudian hari pemburu itu bertemu lagi dengan pedagang itu dan mengetahui duduk perkara sebenarnya, tapi sudah terlambat,anjingnya sudah mati.

Di sebuah desa, ada seorang ibu yang mempunyai kucing yang sangat setia. Ketika ibu ini pergi bertani, dia menitipkan bayinya pada kucing itu untuk dijagai. Ketika kucing ini berjaga, seekor tikus besar memanjat ranjang bayi itu dan mencoba menggigit kupingnya. Dengan segera kucing ini mengejar tikus besar itu dan membunuhnya.

Tapi, ketika kucing itu mengejar tikus,seekor tikus besar lain diam-diam memanjat ranjang bayi itu dan menggigit kupingnya sampai berdarah. Tangisan bayi itu mengejutkan si kucing dan dengan segera dia berlari ke kamar majikan kecilnya. Melihat kupingnya yang berdarah, si kucing memanjat naik dan menjilati telinga majikan kecilnya untuk meredakan rasa sakitnya.

Tepat pada saat itu sang ibu pulang dan mendengar tangis bayinya segera berlari ke kamar anaknya. Dilihatnya kuping bayinya berdarah dan kucing peliharaannya sedang menjilati darah yang mengalir dari luka anaknya. Tanpa berpikir panjang, diambilnya tongkat dan dihajarnya kucing itu sampai mati. Ketika dia melihat bangkai tikus yang baru dibunuh kucingnya, baru dia menyadari kesalahannya. Tapi sudah terlambat,kucingnya sudah mati.

Seorang pendeta yang terkenal sifatnya keras dan galak sedang berkotbah di kebaktian hari minggu. Saat dia sedang berkotbah, dilihatnya 2 orang jemaat yang sibuk berbicara. Kedua jemaat ini saling bercakap-cakap sejak kotbahnya dimulai. Tanpa menanyakan apa yang mereka bicarakan atau kenapa mereka bercakap-cakap, pendeta ini dengan segera menegur dan menghardik kedua jemaatnya ini di depan jemaat-jemaat yang lain. Dengan perasaan malu karena ditegur di depan banyak orang, kedua jemaat ini berhenti bercakap-cakap. Dan pendeta itu melanjutkan lagi kotbahnya sampai selesai.

Yang tidak diketahui oleh pendeta ini, adalah bahwa jemaatnya yang mengobrol itu bukan mengobrol gosip. Salah satu dari jemaatnya itu terlahir dengan pendengaran yang tidak sempurna dan hampir tuli. Dan walaupun setiap hari minggu gadis ini tidak bisa mendengar musik pujian dan kotbah pendeta, dia tetap bersemangat untuk datang. Hari minggu itu, waktu dia bercakap -cakap dengan temannya dan ditegur pendeta, dia bukan mengobrol tapi temannya sedang menjelaskan isi kotbah dengan berbicara tepat di telinganya !

Ya, saya tahu kalau pendeta wajar saja kalau menegur jemaat yang dirasa mengganggu kotbahnya.
Ya, saya juga tahu walaupun kedua jemaat ini tidak punya maksud jahat tapi mungkin saja mereka juga mengganggu jemaat lain di sekitar mereka.
Tidak masalah siapa yang salah, apakah jemaatnya yang kurang sensitif atau pendetanya yang “ Hajar dulu nanya belakangan”.
Tapi, apa yang kita lihat dan pikirkan tentang sesuatu belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Jangan terburu menarik kesimpulan dan menghakimi sebelum kita tahu duduk perkaranya. Dengarkan dulu apa yang sebenarnya terjadi, dan janganlah cepat marah ( Yakobus 1:19).

PS : Cerita anjing dan kucing itu berasal dari cerita legenda rakyat Mongol, tapi cerita pendeta itu pengalaman pribadi seorang teman.

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Koleksi Mobil Babe

1

Category : Pojok Tukang Bakmi

Keluarga Joshua punya garasi yang sangat besar…luar biasa besar…dan penuh dengan mobil. Mobil kecil, besar,balap, SUV, Hummer,Jeep dan segala macam jenis mobil lainnya. Tidak mengherankan, karena Joshua punya hobi mengkoleksi mobil, mobil yang diperolehnya dari segala penjuru dunia. Satu persatu dari mobil itu dirawatnya baik-baik, dan Joshua hafal semua hal tentang mobil-mobilnya. Singkat kata, bagi Joshua mobil-mobil itu sudah seperti keluarga yang sangat disayangnya.

Joshua mempunyai 3 orang anak, masing-masing mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Joshua sangat berharap suatu hari nanti anak-anaknya juga mencintai mobil-mobil itu seperti dirinya dan dia bisa mempercayakan mobil-mobil itu kepada mereka. Ketika anak-anaknya berulang tahun yang ke-21,masing-masing dari mereka akan menerima mobil.

Anak pertama dan tertua, akan berulangtahun yang ke-21 dan sebagai hadiah Joshua memberikan satu mobil kepadanya. Anak pertama menerimanya, tapi dengan hati yang tawar. Baginya, mobil itu adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi, dia harus merawat mobil itu dan memastikan mesinnya berjalan baik. Bagi anak pertama, sudah cukup kalau mobil itu bersih,servis berkala dan tangki bensinnya selalu penuh.

Anak yang kedua, pada ulangtahunnya yang ke-21 juga menerima mobil. Anak kedua sangat senang, baginya itu hadiah yang sangat hebat bagi dirinya. Dengan segera, dia membawa mobil itu ke bengkel dan merombaknya supaya sesuai dengan seleranya. Dicat warna pink metalik, penutup kursi dari bulu macan asli, mesin turbo, dan shockbreaker yang bisa diatur ketinggiannya hanya dengan menekan tombol di dashboard, tentu saja lengkap dengan sound system yang menggelegar. Anak kedua sangat sayang pada mobilnya dan selalu membersihkannya sampai mengkilat.

Anak ketiga dan bungsu, juga memperoleh mobil pada ulangtahunnya yang ke-21. Anak ketiga merasa sangat terhormat ketika diberi mobil itu karena dia tahu betapa sayangnya Joshua pada mobil-mobilnya. Bagi anak ketiga, adalah suatu kehormatan mendapat hak istimewa untuk mengendarai mobil yang sangat disayang ayahnya itu. Dengan teliti anak ketiga merawat mobil itu, dan walaupun mobil itu sudh menjadi miliknya tapi dia tidak sembarangan dalam memperlakukan mobil itu. Dia selalu bertanya kepada ayahnya perawatan terbaik seperti apa yang bisa diberikan untuk mobil itu. Karena,tentu saja setiap mobil itu unik dan perlu perawatan yang berbeda-beda supaya mesinnya selalu optimal.

Anak pertama bernama Duty ( tugas/kewajiban)

Anak kedua bernama Gift ( hadiah )

Anak ketiga bernama Privilege ( hak istimewa/kehormatan)

Cerita di atas sebenarnya perumpamaan untuk pasangan hidup kita, walaupun “mobil” di sini bisa juga berarti pelayanan,talenta,kekayaan,keluarga dan semua berkat dari Tuhan. Bagaimana cara kita memandang pasangan hidup kita akan menentukan bagaimana cara kita memperlakukan mereka. Bagi orang yang melihat pasangan hanya sebagai suatu keharusan atau kewajiban…” Yah, sudah selesai kuliah ya menikah,punya anak dan nunggu cucu. Sudah sewajarnya kan?Semua juga begitu”, maka asal pasangan kita mendapat makanan yang cukup dan selalu sehat sudah cukup.

Bagi sebagian dari kita, pasangan kita adalah hadiah yang luar biasa. Kita memperhatikan mereka,menjaga mereka dan memastikan mereka menjadi pasangan yang ideal….menurut selera kita. Perempuan harus pake baju pink,pintar masak,rajin ke salon dan mengajar anak. Rajin senam dan fitness supaya tetep langsing…dll dst etc. Pria harus agresif, harus berotot, tiap hari nelepon “ udah makan belum say?”. Pasangan kita adalah milik kita sepenuhnya dan kita yang membentuk mereka menjadi pasangan yang ideal.

Tapi, ketika Tuhan memperlihatkan kepada kita seorang pasangan, itu bukan semata-mata untuk memuaskan kebutuhan kita. Tuhan tidak memberikan pasangan, Tuhan mempercayakan seorang pasangan kepada kita ! Pasangan bukan kewajiban dan bukan hadiah yang bisa diperlakukan semau kita, pasangan adalah seseorang yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dijagai dan dibantu supaya mencapai tempatnya yang maksimal.

Mungkin dia ga suka pake baju warna pink, sukanya pake baju warna putih dan bekerja di rumah sakit sebagai perawat atau dokter. Mungkin dia ga bisa memasak tapi tau bagaimana cara berkotbah. Mungkin tangannya tidak berotot tapi sel otaknya six pack! Mungkin dia ga romantis tapi melihat anak kucing terlantar saja langsung hatinya tersentuh? Adalah suatu kehormatan ketika Tuhan mempercayakan seseorang pada kita, pastikan kita merawatnya sesuai yang Tuhan inginkan.

Bagaimana dengan penulisnya sendiri, saya sendiri? Apakah saya punya hubungan yang berhasil?

Well…saya adalah anak pertama dalam cerita di atas, dan saat saya menyadarinya, hubungan saya sudah berantakan,putus, dan saya menyakiti orang yang menyayangi saya. Dan saya berharap, Tuhan akan mempercayai saya sekali lagi dan memberikan Privilege. ^^

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Paket Pengampunan

Category : Simply Articles

Jika mengampuni dan melupakan tidak datang dalam satu paket yang sama, maka itu belum bisa disebut pengampunan. Kemungkinan, Itu hanya paket basa-basi biasa agar segalanya terlihat baik-baik saja :)

 

Semudah apa?

Mengampuni sih gampang tapi melupakan kesalahan orang yang menyakiti kita?? No way!! Emangnya otak kita ini program komputer apa? Bisa segampang itu delete file kekecewaan.exe dan kumpulan-kejadian-buruk.zip?? Nyatanya saat kita mengampuni seseorang, kita masih bisa mengingat kejadian yang bikin kita sakit hati itu kan? Kecuali mungkin kalau kita mengalami amnesia karena kesenggol mobil atau tertimpa batu bata *ala sinetron Indonesia*. Hal ini wajar karena otak kita memang tidak didesain untuk semudah itu ‘lupa’ akan kejadian-kejadian signifikan dalam hidup kita. Dan karena kita tahu itu wajar tanpa kita sadari kita juga mewajarkan kata-kata “Gue udah mengampuni, tapi maaf, kalo untuk melupakan itu perkara yang berbeda.”

Melupakan terlihat seperti sesuatu yang mustahil dilakukan. Padahal melupakan dalam paket pengampunan itu artinya bukan melupakan kejadian tersebut tapi sebenarnya melupakan sakit hati yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut. Kita mungkin enggak akan pernah lupa teman yang mengucapkan kata-kata sindiran tajam ketika sedang bercanda, sahabat yang membocorkan rahasia kita ke seluruh kelas, kekasih yang tiba-tiba meninggalkan kita tanpa alasan, atau papa yang menampar kita di depan umum, tapi kita bisa memilih untuk melupakan sakit hati yang ditimbulkan oleh kejadian itu.

Apakah mudah? Enggak.. tapi kalau kita sudah memutuskan untuk mengampuni itu berarti kita mau melupakan sakit hati tersebut. Saat kita mau melupakannya, Roh Kudus yang akan selanjutnya membantu kita. Tetapi ketika menolak untuk melupakan dan bertahan dengan ego kita, maka tidak ada yang bisa memaksa kita. Kita yang sepenuhnya memutuskan. Jangan lupa kalau kekecewaan dan sakit hati itu sangat tajam, jika kita menggenggamnya terlalu erat, kita hanya akan melukai diri kita sendiri.

Untuk mereka yang bahkan tidak tahu…

Untuk saya pribadi, mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang dengan tulus minta maaf itu mudah! Yang sulit itu, jika orang yang menyakiti hati kita bahkan tidak tahu kalau mereka sedang menyakiti hati kita. Yang sulit itu, jika ada orang yang melakukan kesalahan tapi justru malah kita yang balik disalahkan dan dibenci. Yang sulit itu, jika kita mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang berpotensi melakukan kembali kesalahan yang sama!!

Terus gimana dong? Sampai kapan kita harus terus menerus mengampuni orang? Sabar kan ada batasnya!

Waktu Petrus nanya ke Tuhan “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat 18:21) Dan jawaban Tuhan Yesus sangatlah mencengangkan! “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat 18:22) pastinya Petrus waktu itu langsung bengong karena enggak nyangka dapet jawaban yang berlipat kali ganda^^

70×7 bisa merupakan kiasan yang digunakan Yesus untuk menunjukkan bahwa kita harus mengampuni orang dengan tidak terbatas. Tapi kalaupun seandainya kita hitung secara harfiah 70×7 itu berarti 490 kali! Tetap merupakan jumlah yang sangat banyak, karena biasanya sesabar-sabarnya kita paling hanya mau mengampuni orang 3-4 kali. Di sinilah Tuhan Yesus mau mengubah pandangan Petrus dan tentu saja pandangan kita, kita selalu berpikir bahwa pengampunan itu ada batasnya, tapi yang Yesus mau bilang – pengampunan adalah sebuah proses  yang terus-menerus, pengampunan adalah komitmen, pengampunan adalah keputusan untuk tetap mengampuni bahkan ketika yang orang yang kita ampuni berpotensi untuk melakukan kesalahan yang sama berulang kali.

Tuhan Yesus tahu kalau itu sulit bagi kita, tapi Dia pun tahu ketika kita mengambil keputusan untuk  mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang bahkan tidak tahu bahwa mereka menyakiti hati kita atau mereka yang tidak pernah meminta maaf untuk hal itu maka karakter kita akan semakin disempurnakan, kita akan belajar level baru dari kerendahan hati. Dan jauh di atas segalanya Dia tahu bahwa kita akan menjadi lebih berbahagia. Dia tidak memberikan perintah mengampuni berulang kali untuk menyiksa kita tapi justru karena Dia ingin kita berhenti menyakiti diri sendiri. Karena Dia terlalu mencintai kita dan tidak ingin melihat kita menderita.

Memilih untuk tidak mengampuni membuat kita berhenti, berhenti untuk merasakan sukacita. Memilih untuk tidak melupakan sakit hati membuat kita lelah, lelah karena harus menanggung rasa pahit. Tapi memilih untuk melepaskan pengampunan berarti memberikan bagian terbaik dari hati kita untuk ditempati oleh Kristus.

Ditulis Oleh: LNY_FOS Community

Inspirasi Dari Sang Kecoa

2

Category : Simply Articles

Hari ini enggak sengaja aku memperhatikan tingkah kecoa. Karena sebal melihat kecoa yang sibuk bolak-balik di depan pas aku sedang makan, akhirnya dengan kaki kutendang dia. Ternyata karena tendangan itu badannya jadi terbalik gitu. Dengan susah payah dia berusaha untuk membalikkan badannya lagi, pas udah balik kutendang lagi jadinya terbalik lagi deh, begitu seterusnya sampe 3 kali (kejamnya dunia…hahaha). Dan pada akhirnya sang kecoa udah pasrah sama keadaannya yang terbalik itu dan enggak berapa lama akhirnya sang kecoapun meregang nyawa alias pergi untuk selamanya.

Guys, kalian tau, ternyata untuk matiin kecoa enggak perlu beli semprotan kecoa yang mahal, enggak usah beli racun kecoa yang dijual di emperan jalan (emang ada yah?), enggak perlu beli raket listrik buat nyetrum kecoa sampe mati atau mengotori tangan kita dengan memukul  kecoa sampai benyek. Cara paling simpel adalah dengan membalikkan saja tubuh si kecoa itu, pasti deh kalo memang kecoa itu enggak bisa membalikkan tubuhnya lagi, sudah dipastikan beberapa menit kemudian malaikat maut siap menjemputnya… heheheh

Waduh, jijik bin jorok nih, kok ngomongin kecoa sih… kan atut….hahaha..

Karena penasaran kenapa kalo badannya terbalik kecoa bisa mati, aku cari di google penyebabnya. Ternyata enggak banyak alasan logis yang bisa didapat kenapa kecoa bisa mati hanya dengan dibalikkan saja tubuhnya. Pada akhirnya kusimpulkan bahwa kecoa itu mati karena berhenti berusaha, bukannya karena terlalu lelah berusaha. Saat tubuh kecoa itu terbalik, mungkin dia akan merasa pusing, mual, jantung berdebar-debar, seluruh cairan tubuhnya menjadi terbalik dan fungsi-fungsi kelenjar/organnya menjadi terhenti (nii masih mungkin yah…hehehehe…) dan akhirnya matilah dia.

Satu hal yang kupelajari dari sang kecoa, selama dia masih mau dan berusaha menggerak-gerakan tubuhnya untuk mengembalikan posisi tubuhnya, selama itulah dia masih memiliki peluang untuk selamat bahkan untuk hidup. Dan saat dia udah menyerah, berhenti berusaha karena kelelahan mungkin atau karena terlalu berat baginya, maka bisa dipastikan sang kecoa akan menemui ajalnya.

Aku jadi berpikir ada persamaan juga yah dalam hidupku dengan kecoa itu. Mungkin bukan secara harafiah badanku terbalik, tetapi bisa saja tiba-tiba kondisi ekonomi keluargaku berbalik 1800, atau kondisi imanku berada di level terendah, atau mungkin studiku lagi kacau balau, hubunganku dengan orang lain (pacar, orang tua atau sahabat) lagi kacau karena suatu masalah, dan “posisi” terbalik lainnya. Bukankah sama aja yah kondisinya?

Berjuang hingga akhir, mungkin itulah yang bisa aku pelajari dari sang kecoa sebelum dia menemui ajalnya (makasih yah kecoa….hehehehhe). Kecoa itu gigih berusaha walaupun akhirnya aku balikan lagi tubuhnya, hingga akhirnya dia terlalu lelah untuk berusaha. Tetapi jangan salah, ada juga loh kecoa yang aku “begitukan”, berhasil membalikan tubuhnya dan lari dari kejaranku, dan tetap hidup!

Perjuangan memang sangat berat, akan tetapi perjuangan itu pasti menghasilkan. Perjuangan memberikan kita kesempatan untuk tetap “hidup”.

Aku coba membayangkan seandainya aku berhenti berjuang untuk tugas akhirku, mungkin besok atau sampai kapanku aku enggak akan bisa sidang untuk kelulusan. Seandainya saja aku berhenti berjuang untuk belajar mungkin aku enggak akan bisa mendapatkan sesuatu yang berharga. Seandainya aku berhenti berjuang untuk memperbaiki hubunganku dengan orang-orang terdekatku, pasti aku telah kehilangan mereka. Dan seandainya aku berhenti untuk berjuang mengejar pemulihan mungkin untuk selamanya aku dalam keterpurukan.

Kayaknya segala sesuatu butuh perjuangan deh, bahkan hal sederhana seperti bernafas juga membutuhkan perjuangan, berjuang untuk mendapatkan oksigen sebanyak dan secukup mungkin untuk paru-paru kita. Seandainya saja kita merasa malas untuk bernafas apa jadinya coba?

Untuk sebuah hubungan, akan sangat terasa perjuangan itu. Bagaimana kita berusaha untuk tetap kontak dengan orang terdekat kita (pacar, keluarga, sahabat, de el el). Bagaimana kita berusaha untuk saling menjaga hubungan kita satu sama lain. Berjuang untuk tidak menyakiti satu sama lain secara sengaja maupun tidak dan berjuang untuk memperbaiki hubungan yang agak retak, retak atau sudah hancur sama sekali. Dan enggak jarang lho yang pada akhirnya cenderung untuk menyerah dan pasrah pada keadaan.

Saat kecoa itu pasrah dan menerima keadaan, maka bisa dipastikan sang kecoa itu mati. So gimana dengan kita, apakah saat kita menyerah dan pasrah kita akan mati juga?

Bisa iya, bisa tidak. Saat kecoa itu sudah kelelahan, dia diam tergeletak tak berdaya dengan tatapan memohon belas kasihan ke aku (hahaha… masa sih). Bisa jadi selamat karena aku berbaik hati membalikan tubuhnya lagi, atau karena aku menyemangati dia untuk berusaha lagi (wahhh..lebay deh….hehehehhe)

Ternyata saat memandang ke pribadi yang tepat, saat itulah muncul pengharapan baru, kekuatan baru mungkin kesempatan untuk “hidup” yang baru. Saat kita memandang kepada Dia, bisa jadi Dia dengan cepat membalikan “tubuh” kita. Bisa juga dia kasih semangat ke kita untuk tetap berusaha segenap tenaga.

Seringkali kita menunggu untuk menjadi terlalu lelah dulu baru bersandar kepada Dia. Padahal kalo saja kita memandang Dia lebih cepat, lebih cepat juga kita akan pulih dan lebih cepat kita akan mampu membalikkan “tubuh” kita.

FOSters, kalian tahu kalo Allah sanggup membalikan keadaan kita yang terpuruk dengan cepat, Dia sanggup melakukan pemulihan dengan cepat, bahkan Dia sanggup bukan saja mengembalikan kondisi kita, tetapi membawa kita ke level yang lebih tinggi.

Tetapi kenapa kadang seakan-akan God “menunggu” untuk melakukan semuanya itu, Apa sih yang Dia tunggu? kenapa Dia harus “menunggu” untuk melakukan semuanya itu?

Bagiku 2 hal, pertama ada karakter yang sedang dia bentuk dan yang kedua adalah Dia menunggu supaya kita terlalu lelah mengandalkan kekuatan diri sendiri, sehingga pada akhirnya kita memandang dan berseru kepada Dia. Itulah yang Dia tunggu.

Pertanyaannya adalah apakah yang sedang engkau tunggu?

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Playgirl of the Year

Category : Pojok Tukang Bakmi

Orang bilang,waktu kau beranjak tua, ingatanmu akan semakin menurun. Tapi,mereka salah! Orang tua justru semakin banyak mengingat hal – hal yang pernah mereka lakukan dalam hidupnya. Memutar kembali film kehidupan dalam benak mereka dengan warna sephia atau hitam putih. Orang tua bernostalgia dan mengingat kenangan – kenangan manis, atau seringkali kenangan – kenangan pahit, nostalgia tentang cinta….

            Eva, istriku yang kucintai dari masa mudaku sampai sekarang, yang kukenal setiap lekuk tubuhnya, setiap gerakan tangannya,arti senyumnya dan apa yang dipikirkannya.

            Eva, yang kukenal sejak masa mudaku dan masa mudanya.

            Pertemuan kami bagaikan kisah Cinderela, walaupun kisah cinta kami jauh dari dongeng. Eva pertama kali muncul di hadapanku dengan muka kotor dan bertelanjang kaki,baju kumal yang entah sudah dipakai turun temurun berapa orang dan rambut yang…yah, 3 botol sampo pun tak akan cukup untuk mengurainya. Dengan mata setengah berharap dan setengah takut, dia memandang mataku dan berdiri di hadapanku.

            Aku? Aku adalah seorang pria muda dengan pakaian rapih dan menjalankan usaha keluarga yang sangat sukses. Kami tak mungkin bisa lebih berbeda lagi. Seandainya pertemuan pertama kami dilukis,maka lukisan diriku dan dirinya tak akan pernah berada dalam 1 kanvas yang sama, dipajang dalam 1 ruangan yang sama,atau bahkan kota yang sama,bahkan mungkin di bumi yang sama.

            Tapi, cinta adalah cinta,sejauh apapun perbedaan kami. Kugandeng tangannya, dan walaupun mukanya terkejut dan bagaikan orang yang bermimpi,kami melangkah pulang ke rumahku.

            Aku sendiri yang membawanya dan menungguinya di salon. Dengan tanganku sendiri kusentuh setiap bahan kain yang akan menjadi pakaiannya. Dan dengan mataku kuteliti setiap kilau perhiasan yang akan menghiasi jari tangan,lekukan leher dan daun telinganya. Dan sementara tangannya memegang sendok dan garpu penuh harap,dengan kedua tanganku sendiri kumasak makan malam untuk kami berdua.

            Eva…betapa ku mencintaimu…dan apapun masa lalumu, darimanapun kau berasal, kusematkan cincin pernikahan itu di jari manisnya. Dan dengan memandang wajahnya, kuucapkan janji dan komitmen itu, janji setia untuk bersamanya selamanya, apapun….apapun!…yang terjadi. Dengan bangga kuperkenalkan dirinya pada semua orang sebagai istriku. Dan semua orang memujinya dan menyebutnya mempelai yang berbahagia.

            Seandainya bulan madu kami berlangsung selamanya,seandainya waktu berhenti bagaikan foto pernikahan kami yang hanya menangkap momen – momen bahagia dan kemesraan.

Tapi, kau berubah ,Eva… kau tersenyum di hadapanku tapi matamu bermimpi dan pikiranmu melayang ke dunia lain, kau mendengar ceritaku di siang hari tapi menyelinap keluar di malam hari.

Aku tahu siapa yang kau mimpikan dan kemana kau pergi, Eva. Kau kembali ke jalan dan bercumbu dengan pria dari masa lalumu!!

Tapi kau hanya tersenyum dan berkata kalau itu hanya cinta semalam. Dan aku memaafkanmu….

            Tapi..matamu masih bermimpi, Eva…dan tanganmu menyembunyikan sesuatu dari mataku. Dengan mengendap – endap kau pergi membawa perhiasanmu, perhiasan yang kupilihkan dengan tanganku sendiri untukmu! Perhiasan yang kupilih untuk mempercantik dirimu! Perhiasan yang sekarang kauberikan pada kekasih barumu untuk menghabiskan malam di ranjangnya.

Dan aku memaafkamu karena aku mencintaimu..

            Kini, matamu tidak lagi bermimpi…karena kau tidak lagi merasa perlu untuk memimpikan kekasih gelapmu…karena kini kau membawanya ke rumahku…rumahku!! Dan bermesraan di depan mataku, di depan mata anak- anak kita..dan kau membayarnya dengan uangku.

Sejauh mana kau akan menyakitiku, Eva? Sampai kapan kau akan merayu pria – pria dari jalan dan bersetubuh di rumahku? Sampai bila kau akan mempermalukan namaku sebagai suamimu? Betapa malu dan murkaku, kekasih yang kupungut dari jalan, yang kukasihi dan kuberikan janji setiaku,yang walaupun terbuang tapi kujadikan keluargaku sendiri, kini tanpa malu berlaku mesra dengan kekasih gelapnya, berselingkuh di depan mataku dan dengan bangga mempertontonkannya pada dunia. Kau disebut orang mempelai yang berbahagia, tapi aku adalah mempelai yang dikhianati dan dipermalukan.

            Tapi, Eva…kau adalah cintaku, denganmu aku mengikat janji setiaku, kau adalah mempelai dan keluargaku. Dan karena cinta dan janji setiaku,aku memaafkanmu dan mengubur sakit hatiku. Dan sekalipun dunia menghinaku dan menganggapku bodoh, kau adalah mempelaiku.

            Cerita di atas adalah versi dramatisasi,hiperbolisasi dan sinetronisasi dari Yehezkiel 16 tentang Yerusalem yang tidak setia dan Allah yang tetap setia pada janjinya. Berkali-kali umatnya berselingkuh dan memuja allah lain, tapi Tuhan mengingat janjinya dan memaafkan umatnya. Dan walaupun bagi orang yang mengenalNYA pasal ini adalah kisah kasih dan kesetiaan Tuhan, bagi dunia kisah ini adalah kebodohan.

            Isaac Asimov adalah seorang penulis kisah science fiction yang terkenal, terutama karena kisah-kisahnya mengenai robot. Asimov juga adalah orang yang merumuskan 3 hukum dasar robot. Dan Asimov adalah seorang atheis walaupun mungkin bukan dalam artian atheis yang umum dikenal. Bagi Asimov, tuhan seharusnya adalah tuhan yang mengharagai perbuatan baik manusia. Bagi Asimov, seorang atheis yang hidup benar adalah lebih baik dan lebih pantas masuk surga daripada seorang pendeta yang berkata Tuhan,Tuhan,Tuhan tapi hidupnya penuh kemunafikan.

            Dan sejujurnya, saya tergoda untuk setuju dengan dia. Seorang atheis yang berbuat baik lebih bagus daripada seorang Kristen yang cuma bisa ngomong doang kan ? Masa iya orang baik masuk neraka tapi orang jahat masuk surga? Pendapat Asimov benar kan?

Salah! Kasih dan penerimaan Tuhan tidak ada hubungannya dengan perbuatan baik kita!

Kita diterima bukan karena kita baik,tapi karena Tuhan yang menerima kita, yang mengikat janji dengan kita,yang mengangkat kita menjadi keluargaNYA,mempelaiNYA,anak-anakNYA laki-laki dan perempuan.

            Rumah Tuhan bukanlah hotel, dimana setiap orang yang sanggup membayar bisa tinggal dan mendapat pelayanan yang lebih bagus selama memberi uang tip. Tuhan bukanlah pria berpakaian jas berkumis licin yang menyambut tamu di pintu masuk hotel, membawakan koper dan menerima tip,berjalan hilir mudik membawa jus jeruk sementara tamu hotel bersantai di kolam renang surga.

            Rumah Tuhan adalah….well,rumah. Rumah yang didiami sebuah keluarga dan tentunya hanya yang termasuk dalam keluarga boleh tinggal di rumah itu. Dan dalam sebuah keluarga, tidak masalah apakah anggota keluarga itu baik atau tidak, selama dia anggota keluarga,dia boleh tinggal di sana. Sekalipun seorang anak mendapat ranking 50 sementara anak tetangga mendapat ranking 1, bukan berarti anak tetangga yang boleh masuk rumah sementara anak sendiri diusir.

            Dan seperti cerita di atas, Tuhan menerima kita karena Dia mengikat janji dengan kita dan kita menerima janjiNYA, karena kita kini mempelaiNYA dan keluargaNYA,bukan karena apa yang kita lakukan.

PS : nama Eva cuman asal comot ya,kalo ada yang namanya sama ya salahin ortu yang ngasih nama,jangan salahin saya.

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Choose to Run

1

Category : Simply Articles

Kenalkah anda dengan nama John Stephen Akhwari ? Dia adalah seorang pelari marathon yang berasal dari Tanzania. Apa yang istimewa dari si John ini, mari kita lihat.

Pada tahun 1968 diadakanlah lomba lari maraton di Mexico City. Perlombaan lari marathon ini diikuti dari berbagai negara-negara di dunia,  dan tidak ketinggalan pula Tanzania mengutus seorang pelari bernama John Stephen Akhwari  untuk ikut perlombaan lari marathon ini.

Perlombaan ini diikuti oleh sekitar seribu pelari dari berbagai negara. Tepat pada pukul 09:00 waktu setempat, dimulailah lomba lari ini. Para pelari dari berbagai negara memulai startnya dan langsung melesat dengan cepat. Semuanya berlari sekuat tenaga termasuk John Stephen Akhwari. Untuk sementara John menempati urutan terdepan.

Di tengah-tengah perlombaan,  John Stephen Akhwari ini mengalami kecelakaan, dia terjatuh mengakibatkan kakinya terluka cukup parah hingga mengeluarkan darah, yang mengakibatkan dia harus berhenti dan harusnya dia nggak bisa melanjutkan perlombaan karena cedera kaki yang cukup serius. Saat John sedang berhenti, beberapa pelari dibelakangnya sedikit demi sedikit menyusul. Setelah beberapa lama, pelari 1,2,3,4 sampai 999 sudah sampe finish. Setelah dipastikan tidak ada yang akan memasuki finish lagi, para panitia menutup perlombaan kemudian dilanjutkan dengan acara penyerahan hadiah kepada para pemenang.

Karena perlombaan sudah selesai maka panitia mencabuti umbul-umbul dan alat-alat yang digunakan untuk menunjang perlombaan lari, para penontonnya pun juga sudah ada beberapa yang pulang, karena memang hari telah larut.

Tiba-tiba, tampak dari kejauhan terlihat ada seorang pelari yang tampak kelelahan tetapi tetap berjuang untuk berlari. Dia tampak kelelahan dan kesakitan. Dan ternyata pelari itu adalah John Stephen Akhwari yang di tengah perlombaan tadi terjatuh.

Dengan terseok-seok, dengan kaki terluka dan mengeluarkan darah dia terus berlari hingga akhirnya sampai finish.

Setelah sampe finish, dia banyak di kerumunin para wartawan, banyak kamera-kamera dari stasiun TV seluruh dunia meliputnya. Ada salah seorang wartawan bertanya ke dia “Kenapa kamu lanjutkan perlombaan ini? Jika kamu berhentipun pasti negara kamu akan memakluminya.” Tanya si wartawan itu.

lalu John Stephen Akhwari  menjawab dengan lantang “SAYA DIKIRIM OLEH NEGARA SAYA BUKAN UNTUK MEMULAI PERLOMBAAN INI, SAYA DI KIRIM OLEH NEGARA SAYA UNTUK MENGAKHIRI PERLOMBAAN INI”.

Mantab guys, John Stephen Akhwari  terkenal bukan karena dia berhasil menjuarai perlombaan tersebut, tetapi karena berhasil menyelesaikan hingga akhir apapun yang terjadi. Walaupun jadi yang terakhir, tetapi dia tetap memasuki finish. Cerita ini sudah pernah saya dengar sebelumnya, dah bahkan videonya-pun beredar luas di Youtube, tapi sekali lagi, kisah nyata ini kembali memotivasi saya dan memberikan saya pengertian untuk menyelesaikan hingga akhir. Setia hingga akhir. Jangan pernah menyerah dan mandek di tengah jalan, dan jangan mau dipengaruhi oleh kondisi.

Hal ini sungguh saya rasakan saat sedang berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat kelulusan. Perjuangan yang saya lalui bukanlah hal mudah, sangat menyita tenaga, pikiran, waktu, kesehatan bahkan ongkos (hehehhe…), tetapi satu hal yang ada di pikiran saya adalah setia hingga akhir. setia untuk menikmati prosesnya, setia untuk “berlari” dan selalu bangkit di setiap kejatuhan saya. Dan akhirnya di batas terakhir pendaftaran sidang saya berhasil daftar sidang.

Pas banget… Indah pada waktunya

Kesetiaan, perjuangan dan kepercayaan akan selalu berbuah manis. Aku sungguh merasakan ayat favoritku membimbing setiap langkahku. Dan kedua ayat yang aku tulis di tugas akhirku, sebagai ayat kehidupan dan ayat kekuatan sungguh sangat kurasakan.

I have the strength to face all conditions by the power that Christ gives me

(Philippians 4:13)

He has set the right time for everything. He has given us a desire to know the future, but never gives us the satisfaction of fully understanding what he does.

(Ecclesiastes 3:11)

Aku percaya segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberikan kekuatan kepadaku. Dan aku sangat yakin segala sesuatu indah pada waktunya. Dan semuanya ini dapat kulalui karena kupilih untuk tetap berlari dan kupilih untuk percaya penuh bahwa Yesus menyertai setiap langkahku saat kuberlari. Tetaplah berlari, karena hal itu tidak akan sia-sia.

…..Yesus kekuatan di hidupku

Ditulis Oleh KSW_FOS Community