Pengharapan Natal – Hopeful not Hopeless

2

Category : Simply Articles

Ada salah satu tradisi unik di luar negeri saat natal, yaitu menggantungkan beberapa buah kaus kaki warna-warni di dekat tungku perapian, tujuan utamanya adalah saat keesokan harinya di dalam kaus kaki itu ada hadiah atau kejutan lainnya dari sinterklas.

Unik juga, yah, kalo dipikir, butuh segede apa tuh kaus kaki kalo kita mengharapkan hadiannya televisi 100 inch atau kulkas 10 pintu.. hehehe..

Tradisi itu bukan untuk menggambarkan kalo mau hadiah harus punya kaus kaki yang super duper gede dan digantung di sisi perapian, tetapi itu menggambarkan sebuah pengharapan yang digantungkan. Sebuah harapan yang ingin didapatkan untuk hari esok, dan sebuah kejutan untuk mengisi bahkan mewujudkan harapan itu.

Berbicara tentang harapan dan pengharapan, aku yakin pasti setiap kita punya sebuah bahkan lebih harapan yang telah lama diharapkan, atau baru akhir-akhir terpikirkan, apalagi masih dalam suasana natal, ditambah tahun baru ini, pastinya ada sejuta bahkan semilyar harapan yang dimiliki oleh seseorang, apapun itu, siapapun itu.

Friends, apa yang akan kalian lakukan, seandainya tak satupun dari sejuta bahkan semilyar harapan itu terwujud menjadi kenyataan di natal kali ini, tidak ada kemeriahan natal yang diharapkan, tidak ada momen untuk pulang ke rumah bertemu dengan orang tua melepas rindu, tidak ada keceriaan natal di dalam rumah, tidak ada ucapan dan hadiah natal yang kita terima, dan bahkan kita merasa natal tahun ini adalah natal yang terburuk sepanjang hidup kita, nggak usah ngomongin harapan deh, yang ada malah masalah yang selalu datang dan tidak pernah berhenti, sampai-sampai kita bilang “I Hate This Christmas !!!”

Akankah kalian merobek-robek kaus kaki yang telah tergantung itu dan membakarnya hingga habis, atau kalian akan tetap membiarkannya tergantung manis di sana dengan terus meletakan tangan di dada dengan penuh harap?

Harapan yang tak terwujud memang pahit, tetapi lebih pahit lagi adalah saat kita tidak memiliki pengharapan sedikitpun. Harapan bukannya tidak terwujud, tetapi belum terwujud. Kalo kita ngomong tentang harapan bukan hanya melihat sesuatu yang baik saja, tetapi melihat sebuah proses, yang kadang dimulai dengan terpaan yang sangat menyakitkan, sampai-sampai kita berteriak ‘STOP !!”, tetapi bukan pengharapan namanya kalo hanya berhenti di situ, karena dimulai saat itulah, saat kita membiasakan dan menguatkan diri untuk tidak berkata “Stop !!” kita sedikit demi sedikit namun pasti mendapatkan dan meningkatkan kekuatan kita, sehingga kita bisa bertahan dalam rasa sakit itu. Ada yang namanya ketekunan dan tahan uji, dan saat kita udah naik kelas ke level tahan uji itulah, cahaya pengharapan yang awalnya tidak terlihat sama sekali mulai terlihat sedikit demi sedikit. Dan yang aku tau yang namanya pengharapan dalam Tuhan itu tidak mengecewakan (terjemahan inggrisnya, Not ashamed = tidak mempermalukan).

Memang tidak mudah untuk memiliki pengharapan, tetapi tidak sesusah sama sekali tidak memiliki pengharapan, artinya manusia hidup harus selalu memiliki pengharapan, karena tanpa pengharapan hidup tiada berarti, dan tanpa ada yang berharap akan kedatangan Sang Mesias, Bayi di palungan itu tidak akan menjadi sebuah keajaiban.

Harapan ada sebelum hari esok dan takkan pernah berakhir setelah hari ini berlalu, karena yang namanya pengharapan akan selalu ada, sampai saatnya Tuhan memperbaharui pengharapan kita.

Apapun yang kamu harapkan di natal ini, tidak ada kata terlambat dan menyesal untuk harapan itu, nyalakan sebuah lilin, redupkan lampu kamarmu, dan di tengah cahaya lilin itu, naikanlah permohonan dan harapanmu kepada Bapa di surga melalui sebuah doa yang sederhana, saat kita tau begitu inginnya Tuhan mewujudkan harapan kamu sebagai bukti kasihNya kepadamu, saat itulah kita akan menjadi orang yang paling berpengharapan melebihi apapun.

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Roma 5:5

And hope maketh not ashamed; because the love of God is shed abroad in our hearts by the Holy Ghost which is given unto us.
Rome 5:5

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Sebab Engkau Besertaku

Category : Simply Articles

Selamat hari Natal dan tahun baru!!! Ucapan itu jadi sering terdengar ketika kita memasuki akhir tahun, dan sekali lagi ucapan itu terdengar di akhir tahun ini. Selamat Natal, ya memang Natal adalah sebuah keselamatan buat kita, karena Tuhan yang begitu mulia itu, bertanggung jawab menyelamatkan kita dari hukuman dosa, dengan lahir ke dalam dunia ini, turut merasakan penderitaan manusia, kesusahan manusia, bahkan mengalami dampak langsung atas kejahatan manusia yang kasihnya sudah hambar itu. Sang Putera Allah harus menderita di kayu salib bagi kita!

Tahun ini, bagiku pribadi, Natal itu jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Begitu banyak persoalan di akhir tahun ini yang harus aku, keluargaku, dan orang-orang terdekatku alami. Sesungguhnya akhir tahun ini cukup jadi lembah kekelaman yang sangat sulit untuk dihadapi. Beberapa kali, masalah yang timbul hampir merebut sukacita dan damai sejahtera. Aku tidak punya cukup cadangan dana untuk merayakan natal. Dengan adanya beberapa persoalan di kantor, aku dan beberapa rekan di kantor terpaksa nggak gajian mulai bulan kemarin, ada beberapa hubungan yang mulai retak dan perlu pemulihan di sana-sini. Belum lagi di hari natal kemarin, adikku mengalami sedikit kecelakaan yang membuat kami cukup kuatir akan masalah akibatnya, dan biayanya. Puji Tuhan adikku tidak apa-apa, hanya kami harus menyelesaikan persoalan dengan pihak lain yang terlibat, dan biaya juga menjadi masalah kami. Di akhir tahun ini juga, aku dan beberapa orang terdekatku harus mengalami sedikit kekecewaan terhadap seorang hamba Tuhan yang bersikap tidak bertanggung jawab tentang masalah uang yang jumlahnya tidak sedikit. Tetapi semuanya menguatkan kami dan pengampunan selalu mengalir deras dari hati kami. All out for love!

Brothers and sisters, satu hal yang seringkali tidak kita sadari adalah bahwa Natal bukanlah sekadar “moment have fun”, acara kongkow bareng atau sekadar bagus-bagusan bikin acara natal di gereja masing-masing. Natal juga bukan sekadar merasakan sukacita dan suasana yang damai, begitu juga natal bukan sekadar peringatan tahunan yang rutin. Di hati Allah, Dia ingin setiap kali kita memperingati tentang kelahiran-Nya, kita belajar sesuatu tentang kehendak-Nya, karena Allah menjadi manusia agar kita mengenal Pribadi-Nya secara lebih dekat.

Kisah Natal dalam Alkitab adalah kisah yang berisi orang-orang yang rela menjalani panggilan Allah walaupun sulit dan berbahaya. Natal “diperankan” oleh orang-orang yang berkata “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku seperti perkataan-Mu itu”. Tidak banyak wanita yang mau menempuh bahaya seperti Maria, tidak banyak laki-laki bertanggung jawab seperti Yusuf, dan yang terpenting tiada Allah lain yang begitu mengasihi manusia seperti Dia yang kita kenal dalam Tuhan Yesus Kristus.

Beberapa sahabatku mengalami natal tanpa ada persediaan makanan di rumah, karena biaya yang kurang, dan gaji yang belum dibayar. Tetapi dia tetap bersukacita, dan setiap senyuman yang tulus walaupun dalam kondisi yang serba tidak memungkinkan, membuat kami semua merasa terberkati. Seperti para gembala miskin yang bersukacita atas kelahiran Raja Sorga yang memberi pengharapan. Beberapa sahabat yang lain harus merasakan ketidaknyamanan tidak libur di akhir tahun untuk merayakan natal bersama keluarga dan teman-temannya. Bahkan mereka tidak bisa ikut banyak acara perayaan Natal, hanya ke gereja di tanggal merah. Tetapi status facebook mereka menjadi berkat dengan menguatkan semua teman yang mengalami hal yang sama. Tidak nyaman? Ya, seperti para majus yang harus meninggalkan negerinya atau bahkan istananya, demi menjenguk seorang bayi yang lahir di sebuah kandang. Apakah kita kecewa kalau setelah jauh berjalan kita hanya menemukan sebuah kandang?

Dalam Natal justru seringkali orang-orang pilihan-Nya harus mengalami bahaya, ditarik keluar dari kenyamanan, kondisi yang serba sulit dan serba tidak mungkin, bahkan harus berada di tempat yang tidak seharusnya. Apa yang kita pikirkan ketika Alkitab menceritakan bahwa Maria, seorang gadis muda yang menjaga kesuciannya, tiba-tiba harus hamil? Roh Kudus? Ya, tentu Maria tahu hal itu, tapi Malaikat Gabriel tidak berteriak kepada seisi kota bahwa Maria hamil karena Roh Kudus. Bayangkan apa kata orang, dan kemungkinan Maria dirajam batu oleh orang-orang Yahudi. Apa kira-kira yang ada di pikirannya Yusuf saat tahu tunangannya hamil sebelum mereka menikah, dan bukan oleh dirinya? Laki-laki manapun bisa kecewa karena hal itu, tetapi toh Yusuf memilih untuk taat.

Apa yang membuat mereka mau mengalami semua kondisi itu? Yup, Allah yang meminta mereka melakukan semua itu bagi-Nya adalah Allah yang juga menyertai dan memampukan mereka untuk melakukannya! Dia bertanggung jawab atas panggilan dan pilihan-Nya.

Seperti Daud berkata: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; “ (Mzm 23:4).

“Aku tidak takut bahaya! Sebab Engkau besertaku!” menjadi sebuah seruan yang menyatakan bahwa kita percaya bukan kepada Allah yang main-main, atau yang cuma bisa asal tunjuk dari atas sorga tanpa bertanggung jawab pada apa yang kita alami di dunia ini. Nama-Nya adalah “Immanuel” yang berarti “Allah beserta kita”. Karena itu, maka pesan Malaikat kepada para gembala, Maria, dan Yusuf berlaku juga bagi kita “Jangan takut!”

Natal adalah panggilan Tuhan bagi setiap kita, untuk mulai terlibat dalam rencana-Nya. Seringkali rencana-Nya itu terlihat berbahaya dan tidak menguntungkan di posisi kita, tetapi bagi setiap orang yang mau taat, sekalipun ia merasa tidak mampu atau merasa tidak layak, ialah yang akan mengalami langsung penggenapan rencana Allah itu. Bagi orang-orang yang mengalami penderitaan dalam menanggung rencana-Nya itu, ada pengenalan yang lebih dalam dan kedekatan yang semakin intim dengan Dia, seperti Mazmur 23 saat Daud mengganti kata2 “Dia” dengan “Engkau” setelah ayat yang menyatakan “sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman”. Ada intimacy yang lebih dekat, pengenalan yg lebih dalam, saat kita alami langsung lembah kekelaman itu.

Filipi 1:29 “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.”

Roma 5:2-3 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita , karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

Bersyukurlah, jika di Natal ini kamu mengalami sesuatu yang tidak nyaman bagimu, karena kita dapat mengalami langsung pengalaman Natal yang juga dialami Maria, Yusuf, para gembala, dan para majus, lebih lagi, kita mengalami pengalaman Allah yang meninggalkan segala kenyamanan sorgawi dan bergabung dengan kita di sini, di bumi ini, lengkap dengan segala suka dukanya. Jangan takut, sebab Dia selalu beserta kita!

Merry Christmas and Happy New Year, Immanuel!

YKT_FOS Community_2010

Undercover Boss

Category : Simply Articles

Salah satu serial Amerika favorit saya adalah sebuah acara reality show dengan judul “Undercover Boss”. Waah nonton acara realitas ini selalu sukses deh bikin saya berderai air mata, minimal mata saya pasti berkaca-kaca di akhir acara.

Sebenernya acaranya tentang apa sih? Jadi acaranya tuh sejenis acara-acara reality Indonesia seperti Jika Aku Menjadi atau Minta Tolong. Tapi bedanya adalah di acara ini diikuti oleh seseorang yang memiliki sebuah perusahaan besar. Saya ambil contoh di sebuah episode ada seorang bos besar yang memiliki usaha jasa perbaikan ledeng panggilan. Bukan cuma sembarang jasa ledeng loh, tapi jasa perbaikan ini dikelola dengan teknologi yang maju, peralatan-peralatannya juga mutakhir, kalo ngeliat penyumbatan ledeng disebabkan oleh apa, para pekerjanya dilengkapi sama video mini yang bisa dimasukin ke pipa terus keadaan pipanya bisa dilihat di layar yang ada di dalam mobil. Wah keren deh.

Nah si bos besarnya ini, sang pemimpin di tingkatan paling atas perusahaan tersebut bersedia mengikuti acara Undercover Boss. Dia ingin melihat kinerja para pegawainya yang ada di tingkatan paling bawah yang bahkan enggak pernah sama sekali dia temui. Dia juga ingin tahu suka duka mereka dengan merasakan secara langsung. Nah akhirnya menyamarlah dia menjadi seperti orang biasa yang ‘ceritanya’ sedang mengadakan riset mengenai pekerjaan-pekerjaan yang ada di Amerika. Karena itu dia mencoba segala jenis pekerjaan dengan disertai liputan kamera.

Setiap hari selama beberapa hari dia mencoba satu jenis pekerjaan bersama dengan pegawai asli perusahaan tersebut yang menerangkan pekerjaannya. Dari mulai jadi pekerja yang benerin langsung pipa dan bersihin kloset kamar mandi yang tersumbat, para pembuat peralatan sampe operator yang menerima pesan dan komplain dari para pelanggan.

Setiap hari dia semakin mengenal para pekerja-pekerjanya dan turut merasakan kesulitan-kesulitan mereka yang tidak pernah ia tahu sebelumnya. Ia sering merasa terharu di akhir hari karena tidak menyangka betapa sulitnya pekerjaan bawahannya dan betapa mereka telah bekerja sangat keras untuk hasil yang mungkin sangat tidak seberapa.

Pada akhirnya si bos yang menyamar ini membuka identitasnya dan memanggil para pekerjanya. Dia menyiapkan banyak kebijakan baru dan bonus untuk pekerja-pekerja yang telah bekerja keras dengan setia. Sangat mengharukan! Karena para pekerjanya itu enggak menyangka kalo bos besar mereka rela menyamar dan mau merasakan apa yang mereka rasakan.. Spontan semua pun menangis begitu juga saya :’)

Dan serial Undercover Boss bukan saja membuat saya terharu tapi mengingatkan saya akan sesuatu. Mengingatkan saya tentang KASIH yang bisa membuat seorang manusia melakukan hal yang luar biasa bagi sesamanya. Dan jika seorang manusia bisa melakukan hal itu, bukankah Tuhan yang kita sembah juga memiliki kasih yang standarnya lebih besar dari itu?

Kalo seorang bos dari sebuah perusahaan besar rela menyamar untuk merasakan apa yang dirasakan oleh pekerja-pekerjanya. Apakah terlalu sulit bagi dunia untuk percaya bahwa BOS diatas segala bos rela merendahkan diriNya, taat hingga di kayu salib demi menyelamatkan umat-Nya?

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2:5-7

Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Ibrani 4:14-15

Dan bukankah hal yang luar biasa  jika kita memiliki Tuhan yang juga ikut merasakan apa yang kita rasakan?

Bagi dunia itu kebodohan.. Tapi bagi kita umat yang percaya, itulah yang dinamakan dengan KASIH..

KASIH dengan standar Bapa Pemilik Alam Semesta..


Selamat Hari Natal :)

Tuhan Yesus Kristus Memberkati

Ditulis Oleh LNY_FOS Community

Hadiah Natal Sepanjang Masa

Category : Simply Articles

Beberapa waktu yang lalu aku membaca sebuah artikel tentang sepasang suami istri yang mengundang orang-orang yang memerlukan kasih sayang dan kehangatan natal untuk datang ke dalam jamuan makan malam pada saat malam natal, wow…. It’s really a great story.

Jadi ingat, sewaktu kecil, setiap menjelang natal, ada satu hal yang selalu aku minta sama mama atau papa. Yap! Apalagi kalo bukan hadian natal. Rasa senang, bahagia, bangga dan luar biasa tergambar saat dengan semangat saya menyobek kertas kado yang membungkus sebuah kado untuk diriku. Sembari menebak-nebak apa isinya, aku mulai mengucapkan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali ucapan terima kasih kepada mama dan papa karena memberikan hadiah tersebut. Dan begitu hadiah yang kuterima itu terbuka dan terlihat isinya, kebahagiaan terpancar jelas, yap.. sepatu baru, atau baju baru, robot Gundam, boneka Naruto atau Gameboy baru… Apalagi kalau ternyata hadiahnya sesuai dengan yang kita inginkan dan butuhkan, bisa-bisa ucapan terima kasih tiada berhenti keluar dari mulutku.

Beranjak remaja, aku tidak lagi meminta secara lisan hadiah itu, walaupun di hati sangat menginginkan hadiah tersebut. Andai kata ternyata ada hadiah natal yang disiapkan untuk kita dan diberikan ke kita, dengan malu-malu dan gengsi kita sekedar membuka hadiah itu dengan hanya mengucapkan beberapa kata ucapan terima kasih. Setelah kado terbuka hanya ada perasaan bahagia yang tertutupi dengan rasa gengsi, gengsi karena sudah bukan anak-anak lagi, gengsi karena tidak mau dianggap dan diperlakukan seperti anak kecil, dan terkadang keluar keluhan apabila hadiah yang didapat itu mencerminkan seolah-olah saya adalah anak kecil, contohnya dapet kado natal maenan robot-robot-an atau dapet hadiah natal boneka sinterklas.. Hehehehhe… (Plis deh ma, aku kan dah gede…).

Menuju kedewasaan, hadiah menjadi tidak penting lagi. Ada syukur ngak ada juga tetap bersyukur. Yang terpenting adalah kebersamaan bersama keluarga, setelah lelah dengan hari-hari penuh kesibukan yang membuat diriku terpisah dari keluarga dan hampir memadamkan kasih dan kehangatan keluarga. Momen “membuka kado bersama” dijadikan momen penuh kehangatan untuk mengganti waktu-waktu yang terlewatkan. Hadiah tidak lagi dinilai dari bentuk, harga ataupun jenisnya, tetapi dari kasih yang menyertai kado itu, mulai menemukan arti dari memberi dan menerima.

Memiliki pasangan merupakan momen awal untuk mengaplikasi arti dari memberi dan menerima hadiah natal. Mulai sibuk mempersiapkan hadiah terbaik untuk yang terbaik, bersedia berjam-jam menunggu mall buka, memilih dan memilah barang, mengantri di kasir, dan menunggu di depan rumah sang pujaan hati untuk memberikan hadiah natal. Ada kepuasan ganda saat mengetahui ternyata si “doi” juga mempunyai kado spesial untuk diri kita. Seakan kado itu akan disimpan untuk diceritakan ke anak cucu kita sebagai kisah klasik untuk masa depan. Hadiah natal jadi lebih berarti saat seorang pujaan hati memberikan arti terhadap kado tersebut.

Menjadi orang tua? Sepertinya saya masih belum merasakannya, susah untuk mengimajinasikannya. Membelikan hadiah untuk mantan pacar yang kini menjadi istri tercinta yang fisiknya telah dimakan usia tetapi cintanya tetap untuk selamanya. Mencarikan hadiah untuk si Badu yang sedang doyan-doyannya Naruto, mencari hadiah untuk si Udin yang sudah mulai jerawatan dan menunjukan perangai yang aneh, dan juga untuk Lina yang sudah mulai memperkenalkan seorang lelaki bertanggung jawab kepadaku.

Ahh, rasanya waktu cepat sekali berlalu, hadiah demi hadiah telah saya terima dan saya berikan, berikut arti dan makna yang mengikutinya. Selalu berubah setiap bertambahnya umur. Tapi satu hal yang akan selalu saya ingat sedari kecil hingga kini, bahwa hadiah itu selalu diletakan di bawah pohon natal, disamping sebuah palungan kecil dengan domba dan jerami sebagai latar belakangnya, dengan satu pria dan satu wanita mendampingi sebuah palungan dimana “hadiah sesungguhnya” dari natal itu ada. Dan selalu kuingat bahwa saat aku mengambil hadiah untukku, mama dan papa selalu mengajariku untuk mengucapkan terima kasih untuk hadiah sesungguhnya dengan memanjatkan doa sederhana, “Tuhan Yesus terima kasih untuk kelahiranMu dan kasihMu, amin.”

Ahh…… rasanya aku akan selalu teringat momen itu, dan sebisa mungkin akan kubagikan momen itu kepada mereka yang belum pernah dan ingin merasakannya, sama seperti yang dilakukan oleh suami istri di atas, yang ingin berbagi kasih natal dengan jamuan makan malam.

Kapankah gilliranku tiba?

Kapankan giliranmu tiba?

Happy Month of Christmas :)

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Pohon Terang.. Pohon Terang.. Sungguh Indah Rupamu..

Category : Simply Articles

Wah nggak terasa yah udah masuk ke bulan natal, pohon natal sudah dipasang, lagu-lagu natal sudah mulai didendangkan, beberapa hadiah natal untuk someone special juga sudah mulai dibeli, dan yang nggak kalah seru, rapat natal juga sudah mulai digelar untuk melakukan perayaan natal di gereja, persekutuan atau komunitas masing-masing. Wah serunya natal kali ini.

Ngobrol-ngobrol, siapa yang pernah denger Judul di atas tuh? Aku ingat sekali waktu kita kecil seringkali menyebut pohon cemara buatan yang dipajang di rumah pada saat natal adalah pohon terang, kenapa terang? karena ada lampu-lampu kerlap-kerlip yang dipasang melilit pohon itu sehingga saat dinyalakan lampunya terlihat sangat menarik. Kadang ada beberapa lampu yang disertai musik pengiring supaya lebih menarik.

Pernah suatu ketika, saat membantu mama memasang pohon terang itu, ternyata saat dicoba dinyalakan lampunya, tidak semua lampu menyala, bahkan lebih banyak yang mati daripada yang nyala, dan tidak ada kerlap-kerlip yang terlihat, sehingga tidak indah lagi. Dan alhasil, keesokan harinya, aku disuruh mama menjelajah ke berbagai toko buku rohani di manapun, untuk mencari lampu yang baru, supaya pohonnya kembali terang dan indah dipandang. Dan setelah diganti dengan yang baru, pohon itu kembali menjadi indah dipandang, menyejukan hati, memberikan arti dan membuat suasana rumah lebih indah pada waktu malam.

Sedemikian penting arti lampu natal di sebuah pohon, sampai-sampai kita rela menjelajah satu per satu toko buku, mencoba semua jenis lampu yang ada di sana, untuk membuat indah pohon yang hanya berwarna hijau atau putih itu. Terang itu menarik lho, makanya nama pohon natal itu adalah pohon terang, bukannya pohon gelap.

Kalo terang begitu penting bagi sebuah benda mati, sebuah pohon, yang seringkali kita lambangkan untuk natal, atau kita pasang di rumah kita saat natal, pastinya terang juga luar biasa penting bagi kita, bagi hidup kita, anak-anak Allah. Jangan lupa terang itu menarik lho. Terang itu membuat suasanan menjadi “lebih hidup’. Terang membuat orang tertarik.

Seberapa terangkah cahaya Kristus memancar dari kehidupan kita sehingga banyak orang yang tertarik untuk melihat dan mengenal pribadi yang pernah menjadi manusia, pernah menjadi bayi yang lahir di palungan itu, untuk menebus dosa kita semua?

Seberapa kerlap-kerlipkah diri kita, karakter kita, hidup kita, sehingga saat ada seseorang yang sedang berada dalam kegelapan, langsung melihat dan menuju ke arah, darimana cahaya itu berasal ? Trus gimana caranya menunjukan terang itu ??

I want tell you about this, terang itu tidak kita tunjukan secara sengaja, tetapi memancar keluar dari hal-hal yang kita lakukan sehari-hari, dari hal yang paling sederhana, contohnya tersenyum dengan orang yang mungkin tanpa sengaja memandang kita, kenal atau tidak kenal.

Menunjukan semangat kerja atau belajar kita di kantor/sekolah/kampus, atau juga berani berkata tidak untuk mencontek atau memberi contekan, atau membuat suasana di sekitar menjadi lebih ceria dengan kehadiran kita, atau mengucapkan selamat pagi, siang, atau sore terhadap tukang parkir di sekolah/kampus kita, satpam, Office Boy/Girl di kantor, kepada pengamen yang secara tidak sengaja kita temui, kepada rekan kerja, kepada bos yang nyebelin, kepada temen yang mukanya paling jutek sedunia, atau kepada siapapun.

Ingat guys, terang akan membuat seseorang tertarik, jadi nggak perlu yang namanya iklan, promosi, atau musim diskon untuk yang namanya terang. Dan bukan kita yang memancarkan terang itu, tetapi Yesus yang ada dalam kita, so it all about Jesus not us. Selama kawat-kawat tipis yang ada dalam sebuah lampu itu masih terhubung satu sama lain, maka saat dialiri listrik akan nyalalah lampu itu, sama juga dengan kita, saat kita tetap dan terus terhubung sama Tuhan, rajin saat teduh, memiliki hubungan yang dekat dan intim dengan Dia, maka saat Tuhan mengijinkan kita bertemu dengan orang-orang di sekitar kita, saat itulah terang itu akan terpancar.

Pohon terang… pohon terang sungguh indah rupamu

Gimana kalo kita gubah sedikit liriknya, kayaknya akan lebih bermakna untuk moment natal ini,

Hidup terang… Hidup terang… Sungguh indah kasihNya

Jangan cuma pohon aja yang terang di natal kali ini, tapi jadilah “pohon-pohon” siap untuk terang terus bagi sekeliling kita. Okeh..

>> “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16) <<

By : KSW

Malaikat Penjual Koran

1

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

malaikat-koran

Masa Natal adalah masa dimana dunia berada dalam keadaan yang sangat damai karena sepertinya semua orang menjadi lebih ramah kepada sesamanya. Sepertinya kebanyakan orang Kristen berubah menjadi orang Samaria yang baik hati di minggu-minggu bulan Desember. Sesudah bulan Desember sepertinya hati yang berapi-api menyambut kelahiran Yesus dan kepedulian terhadap sesama itu menghilang perlahan-lahan.

Tuhan selalu bekerja dengan cara yang misterius lewat berbagai situasi dan lewat orang-orang yang paling tidak diharapkan untuk mengingatkan umatNYA bahwa orang Samaria tidak hanya muncul di bulan Desember dan beralih kewarganegaraan selama bulan Januari sampai November. Paling tidak itulah yang saya alami ketika Tuhan mengajar saya mengenai kepedulian terhadap sesama bukan di malam Natal melainkan di suatu hari di bulan Agustus.

Waktu itu saya dan pasangan saya pergi ke MacDonald, begitu sampai di pintu masuk ternyata ada seorang anak yang berjualan koran sore duduk berjongkok di dekat pintu menawarkan koran ke orang-orang yang masuk. Hujan tadi sore tampaknya sempat mengenai koran-korannya karena koran-korannya tampak lembab jadi tentu saja tidak banyak orang yang membeli. Karena kasihan kami beli satu lembar koran dari anak itu. Di dalam MacDonald kami membeli kentang dan Coca Cola untuk 2 orang. Hati ini rasanya tidak tenang karena memikirkan anak tadi yang mungkin belum makan dari tadi sementara kami sendiri membeli kentang hanya untuk mengisi waktu. Akhirnya kentang tadi kami berikan ke anak itu 1 porsi dan porsi sisanya kami makan berdua. Di sinilah Tuhan membuka kelasnya dan memanggil kami untuk belajar dari anak penjual koran tadi. → Continue