CERPEN – Adakah Langit Seindah Ini Besok

Category : FOSters Creativity

Aku memandang langit. Rasa syukur dan damai tak terucapkan muncul ketika aku bisa merasakan panas matahari menghangatkan tubuhku… atau saat melihat langit malam dengan bulan, bintang-bintang, dan awannya yang menggantung indah di tengah langit biru…

Sering aku menyesal, kalau aku sedang malas bangun pagi saat liburan. Tak bisa rasakan cahaya matahari yang begiiiitu indah. Aah…kalau saja aku bangun lebih pagi.

Kalau tak libur, sama sekali aku tak dapat menikmati cahanya yang lembut itu.. Aku hanya bisa memandang langit dan awannya yang mengapung dengan indah, dikombinasikan dengan cahaya matahari pagi, dari atas motorku..ah…indah sekali. Siapakah yang membuat ini semua?

Kalau sore hari tiba… biasanya aku tak bisa merasakan indahnya matahari. Aku sibuk dengan teman-temanku di kampus. Aku sibuk mencari cara untuk mencuri pandang orang yang kusuka. Aku sibuk dengan tugas dan kegiatan kampus yang semuanya di lakukan di dalam gedung!

Tapi aku ingin. Ingiiiin sekali menghabiskan waktuku dengan menikmati mentari sore hingga ia terbenam kembali.

Langit malam, langit malam, dimanakah aku bisa melihat langit malam yang indah? Di rumahku, langit malamnya indaaah sekali..

***

“Panas!”

“Aduh, kulit gw nanti gosong!”

Ucapan-ucapan seperti itu kadang membuatku gatal! Huh, tak bersyukurkah mereka? Lihat! Matahari itu bersinar untuk siapa?

Uh…tak bersyukurkah!

Sementara langit malam? Ah..aku ragu ada banyak orang yang masih mau menikmatinya. Orang-orang sibuk hangout maupun mengurung diri di kamar mereka, sibuk dengan alat elektronik di dalam rumah mereka.

Aku..aku sangat senang jika punya kesempatan melihat langit yang seindah itu…
Aku selalu bertanya dalam hati, ‘besok masih adakah langit seindah ini?’

Bagiku…langit dan segala penghiasnya adalah harta yang begiiitu berharga. Tak ternilai. Karena itu, jika langit hari ini abu-abu, aku cemas. Aku cemas harta itu telah dirampas. Dirampas oleh awan abu-abu. Oleh karbondioksida. Oleh lampu-lampu pencakar langit. Oleh billboard ratusan bahkan ribuan watt dipinggir jalan. Oleh efek rumah kaca. Oleh polusi-polusi yang tak terkira lagi jumlahnya. Direnggut oleh keegoisan manusia. Oleh ambisi-ambisi manusia…

 Oh, bisakah ku lihat kembali langit yang indah  besok?

Tuhan, Kaulah pembuat langit itu. Maukah Kau tunjukkan lagi pada mereka langit yang begitu indah hingga mereka menyadarinya? Hingga mereka mengucap syukur karenanya? Hingga mereka memandang-Mu dengan takjub dan penuh rasa syukur?

Ditulis Oleh KK

CERPEN | Esok Aku Akan Pergi Jauh

2

Category : FOSters Creativity

 

Tuhan…
Beberapa hari ini aku benciiii banget sama hidup aku!!!
Di sekolah temen- temen tuh nyebelin semua… sikapnya pada egois… Silsa juga nyebelin, sahabat dari aku SMP, tapi cuma karena masalah kecil, bisa-bisanya dia gak negor aku selama seminggu!
Di rumah juga sama nyebelinnya! Barusan aku berantem sama adikku si Rivan, tu anak nyebelin banget sih, setiap hari pasti aja ada kerjaan dia buat ngerusak hidup aku… mama yang udah tau kalo Rivan yang salah, malah marahin aku yang katanya gak bersikap dewasa… aku sebel banget sama mama, udah tiap hari jarang di rumah, sekalinya di rumah pasti ngomelin aku…
Coba papa masih ada pasti mama gak akan sering marah- marah kaya gitu… aku kangen papa…Selain papa udah gak ada lagi yang sayang sama aku di dunia ini…
Aku pengen pergi kaya papa…
Pergi jauh dan gak akan pernah kembali…
Aku benci hidup ini…
Maafin aku ya Tuhan.. Keputusanku sudah bulat..

 Arin menutup buku hariannya – yang selalu ia tulis dalam bentuk surat untuk Tuhan – dengan tangisan yang tak henti. Rasa rindunya kepada papanya yang meninggal 2 tahun lalu membuatnya berpikir untuk mengakhiri hidupnya juga. “Udah gak ada yang peduli sama hidup aku, aku juga udah cape ngejalanin hidup yang kaya gini.” Pikiran Arin melayang, matanya pun tertuju pada sebuah cutter di meja belajarnya. Ia ingin segera meninggalkan dunia yang menurutnya tidak bersahabat dengannya. “Kalo aku mati sekarang, pasti semua orang yang gak peduli sama aku bakal menyesal karena telah memperlakukan aku dengan tidak baik… tapi…..” Sejenak ia berpikir ulang mengenai keputusannya untuk bunuh diri, “Hmmm, besok aja deh aku bunuh dirinya aku mau hidup satu hari lagi aja buat bikin kesan yang tak terlupakan buat orang- orang di sekitar aku. Supaya mereka tambah ngerasa bersalah karena kepergian aku… Ya, besok aku mau pergi jauh dan gak akan pernah kembali…” Dan malam itu Arin pun menetapkan bahwa besok pada pukul 11 malam ia baru akan melaksanakan rencananya. Lalu iapun tertidur menunggu hari terakhirnya tiba sebelum ia benar- benar akan pergi jauh, masih 24 jam lagi waktu tersisa.

Pagi Hari, Pukul 06:15

“Pagi Mah.. pagi Van…!” Arin begitu ceria menyambut hari yang rencananya merupakan hari terakhirnya di dunia. “Tumben kamu Rin, kok kayanya kamu ceria banget hari ini?” Tanya mamanya dengan nada heran, karena sudah lama putrinya ini tidak pernah seceria itu. “kesambet kali mah…” Arin hanya tersenyum mendengar komentar Rivan adiknya, dalam pikirannya, “Van lo bakal jadi orang yang paling ngerasa bersalah hari ini karena kepergian gue liat aja entar…”

Pukul 07:00, di Sekolah

Dan pagi itu, keceriaan Arin masih terus berlangsung hingga ia tiba di sekolah. “Pagi Monty… ” dengan senyuman hangat di pagi hari, Arin menyapa teman sekelasnya yang baru saja tiba. “Pa… pagi Rin.” Monty menjawab sapaan Arin dengan rasa kaget campur heran, Karena walau dari kelas satu sampai kelas dua ini Monty selalu sekelas dengan Arin, tidak pernah sekalipun Arin menyapanya. Dan keanehan itu tidak saja dirasakan oleh Monty seorang, hampir seluruh siswa kelas 2-2 SMA Bakti Bangsa Mulia, merasa bahwa hari ini kepribadian Arin berubah, menjadi pribadi yang lebih menyenangkan. Tidak seperti Arin yang biasanya, yang selalu mengeluh, mudah marah, dan jutek. Hari ini Arin begitu ramah, selalu tersenyum, baik, pokoknya benar- benar berbeda!.

Pada saat jam istirahat…

Arin yang sedang menuju kantin berpapasan dengan Silsa, Arin pun tersenyum ke arah Silsa… Arin berpikir tidak ada salahnya tersenyum untuk yang terakhir kalinya kepada seseorang yang pernah menjadi sahabat terbaiknya.

Dan sesaat setelah Arin tiba di kantin, “Rin, maafin gue yah…” tiba- tiba Silsa menghampiri Arin yang sedang duduk di kantin sambil mengulurkan tangannya tanda permohonan maaf, “Eh… i… iya… gue juga minta maaf Sil, gue juga salah…” Arin reflek menjawab sambil menerima uluran tangan Silsa. “Rin, sorry ya gue gak negor lo, abisnya gue pikir lo masih marah sama gue…” “Loh gue pikir lo yang masih marah sama gue selama ini, makanya gue juga diem aja.” Dan tanpa terasa percakapan mereka terus berlanjut menjadi percakapan yang biasa mereka lakukan sebelum mereka terlibat perang dingin kemarin, hingga bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. “Rin gue ke kelas dulu yah! Eh iya, besok lo ke rumah gue ya! Nyokap gue ultah Rin.” Silsa menyudahi percakapan mereka, sambil bergegas menuju kelasnya, “i… iya Sil..” Arin menjawab dengan ragu, karena dalam pikirannya hari esok itu tidak akan ada…

Pukul 14:00 di rumah – 9 jam lagi menuju perjalanan jauh Arin.

Dugh…! sebuah lemparan kaos mengenai kepala Arin, kaos berwarna ungu itu masih terbungkus rapih di plastik, “Apa- apaan sich lo Van!” Teriak Arin kepada Rivan adiknya yang paling menyebalkan itu, “kaos buat lo tuh! Tadi ada produk minuman promosi di sekolah gue, terus gue menang lombanya, eh dapatnya malah kaos warna ungu, buat lo aja deh, lo khan suka warna ungu.” Sesaat Arin terdiam, ia tidak pernah menyangka kalau ternyata adiknya itu tahu warna kesukaannya, adiknya yang sikapnya paling menyebalkan sedunia ternyata punya perhatian juga untuknya “Thanks.” Jawab Arin singkat.

Pukul 19:00 – 4 jam lagi menuju perjalanan jauh Arin.

“Mah,arin sayang mama…” tiba- tiba Arin mengucapkan kata- kata spontan tersebut saat menyambut mamanya yang baru pulang kerja, pikirnya ini mungkin kata- kata terakhir yang ingin ia ucapkan untuk mamanya. Sejenak mamanya terdiam, lalu memeluk Arin, “Iya, mama juga sayang Arin, maafin mama ya kalau akhir- akhir ini mama sibuk di kantor, mama jadi jarang deh merhatiin kamu sama Rivan.” Arin berusaha menahan air matanya sambil berkata “Iya, gak apa- apa kok mah..” Dan setelah kejadian singkat itu Arin segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu,

Pukul 22:00 – 1 jam lagi menuju perjalanan jauh Arin.

Arin kembali memperhatikan cutter yang tergeletak di meja belajarnya, Arin kembali mengingat betapa kemarin malam tekadnya sudah sangat bulat untuk pergi dari dunia ini, ia lalu membuka kembali buku hariannya dan mulai menulis…

Tuhan Yesus…

Hari ini seharusnya hari terakhir aku di dunia.
Kemarin, aku begitu membenci kehidupan aku. aku marah sama orang- orang di sekeliling aku, karena aku ngerasa kalo mereka semua egois.

Tapi hari ini,
Dengan cara-Mu Engkau menunjukkan, bahwa selama ini bukan mereka yang egois, tapi aku…
Aku yang selalu merasa nasib aku paling menderita sedunia…
Aku yang selalu berharap orang- orang mau mengerti perasaan aku…
Aku yang selalu bersikap gak dewasa…

Dan sikap akulah yang sebenernya salah, tapi aku terus- menerus menganggap  sikap orang lain yang harusnya berubah… Dan hari ini aku melihat dunia dari sudut pandang yang lain, saat aku berubah ternyata kehidupan aku sama sekali gak buruk, malah hidup aku tuh indah banget… Dan hari ini aku sadar, kalo aku gak mau pergi jauh.. aku mau tetap disini…
Ampuni aku ya Tuhan untuk niatku yang kemarin :)

Pukul 23:00 – perjalanan jauh Arin DIBATALKAN…

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

1 Korintus 10:13

Ditulis Oleh LNY_FOS Community

Kenangan…

Category : FOSters Creativity

Jika kenangan adalah debu yang menempel pada sepatu, aku akan mengebaskannya, mencelupkannya dalam air, membuang sepatunya! Namun kenangan seperti tato, lekat! Sangat menyakitkan melepasnya. Mungkin bisa, namun berbekas…

Hampir setiap malam Je mengingatnya. Pagi datang dan Je duduk bersandar, mengingat mimpinya. Ayah datang membawa es krim coklat kesukaan Je. Mereka berpelukan, Ayah mengecup keningnya, membelai rambutnya. Je melihat vas bunga yang pecah dikaki Ibu. Ayah membentak, Ibu menangis, Je menangis. Ayah membanting pintu, sejak itu Je tidak lagi melihat Ayah muncul di pintu. Semua gambar itu datang dalam malam-malam Je, dan Je membenci malam-malamnya.

Tentu saja Je punya banyak kenangan yang menyenangkan, yang indah bagi perempuan. Namun jika seluruh kenangan baiknya harus hilang, asalkan kenangan yang muncul dalam malam-malamnya ikut hilang, Je rela, rela bahkan jika Je tidak lagi punya kenangan…

Aku bersandar pada pohon masa, membiarkan kenangan gugur dan menimbunku. Jika kenangan adalah es yang lumer dan menetes pada jariku, mudah saja membersihkannya… Namun kenangan seperti rama-rama yang melekat pada cahaya, demikian perempuan dengan kenangannya, sulit lepas, bergantung, mengingat, teringat.

Setiap kali Je melihat es krim coklat, Je teringat Ayah. Setiap kali Je melihat pintu, Je membenci Ayah. Hal-hal manis yang dahulu, kini menjadi pahit. Je hidup dalam kenangan, tidak ada hari ini atau hari depan…

Waktu, mengapa kau membenciku? Kau jadi sahabat yang baik bagi banyak orang, tapi kenapa tidak untukku?

Malam tiba, kenangan mengalir dari mata Je, menggenang pada bantalnya…

 

Epilog: Lima, sepuluh, dua puluh tahun lagi, apa yang akan kita kenang? Yang sekarang kita lakukan, katakan, kerjakan, adalah kenangan untuk hari depan. Doa orang benar besar kuasanya bukan? Maka hari lalu yang menyakitkan bukannya tak mungkin untuk kita kenang dengan senyuman… Lagipula, Yesus sanggup memulihkan hati yang hancur. Nanti, saat hendak menutup mata, dengan senyuman kita akan mengenang hari-hari bersama Yesus. Jadi, ini saat yang sangat baik untuk membuat kenangan bersama Yesus, bukan?

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Kupikir Mereka… Ternyata Aku Juga….

Category : Lifestyle

Aku benci harus menunggu. Ini sudah satu jam dan karenanya aku marah dan membatalkan janji untuk membeli buku kuliah bersama Tasya. Walaupun aku tahu ia sudah hampir sampai di tempat janjian kami.

Dua hari setelah itu, aku memohon agar Via memaafkanku. Via harus menungguku selama dua jam di tempat janjian kami.

Kekesalanku sudah sampai puncaknya. Ketiga kalinya aku harus menyelesaikan makalah proyek organisasi kampus. Padahal ini bukan bagianku. Orang-orang di organisasi ini benar-benar tidak bertanggung jawab!

Seminggu setelahnya, aku harus berangkat ke Bali untuk liburan keluarga. Mita menyelesaikan proposal kegiatan puncak akhir tahun. Mita adalah anggota seksi dokumentasi, dan aku sekretaris.

Apakah malam ini akan menjadi malam yang penuh air mata, lagi?! Mengapa aku selalu jatuh hati pada orang yang salah? Ben terlalu kejam karena tidak membalas sms-ku. Ia akan menjadi laki-laki terakhir yang membuatku patah hati, laki-laki terakhir yang padanya cintaku tak berbalas.

Dua bulan sebelumnya, aku menolak pernyataan cinta dari seorang penghuni kelas sebelah. Aku membentaknya di telepon karena ia terus menghubungiku. Aku malu ketika ia menyapa di depan kelasku dengan rambut belah tengahnya, dan aku membalas sapaannya dengan tatapan sejuta kebencian. Intinya, aku membelah hatinya menjadi beberapa bagian.

Aku terbahak karena Rio gagap di depan kelas dan presentasinya berantakan sekali. Semua orang di kelas tertawa, Pak Dosen juga. Jadi tidak ada yang salah dengan tawa membahana kami walau wajah Rio sudah merah dan tertekuk sangat dalam.

Aku sangat sangat sangat tidak suka kalau ada yang bicara saat aku sedang presentasi di depan kelas. Apalagi bila ada yang bercanda bahkan sampai tertawa!

***

Epilog

“Seringkali kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling dirugikan dalam suatu keadaan. Terpikirkah bahwa kita pernah juga menjadi perugi bagi orang lain? Atau mungkin kita menjadi yang paling tersakiti. Apakah kita sendiri tidak pernah menyebalkan manusia lain? Lalu, mengapa kita suka sekali menghakimi sesama kita, manusia?

Lukas 6:31

Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Cerpen – Mungkin Aku Dihipnotis

1

Category : FOSters Creativity

Mungkin aku dihipnotis, jelas aku diracuni. Semua tentangmu adalah palsu, dan aku dengan senang hati tertipu. Aku menggilaimu dengan sepenuh hati, dan waktuku hanya padamu. Segenap rindu tak pernah habis, bertambah kuat dan kukuh, dan pikiranku roboh, dan hatiku hancur, dan hidupku hancur.

Siang dan malam hanya untukmu. Siksa dan dera aku terima. Air mata tak jadi soal. Ayah dan Ibu tak lagi ada dalam ruang hatiku. Sahabat tak pernah jadi yang terindu. Bahkan Yang Maha Kuasa tak lagi kukenal. Kutolak semua, hanya kau yang tersisa. Pun seluruh hidupku, kau yang berkuasa. Jadi apa yang tersisa?

Aku mengaduh, kau tak mau tahu. Dengan begitu cerdik, kau rayu aku. Dan aku dengan rindu, datang lagi padamu.

Tidak pernah tahu, kapan aku sadar? Kapan aku tidak sadar? Semua waktu terasa sama saja, sebentar melayang, sebentar terempas dan aku kesakitan. Dan aku datang lagi padamu, dan aku jatuh hati lagi padamu.

Harus jujur kah? Baiklah. AKU SANGAT KESEPIAN DAN AKU SANGAT KESAKITAN!

Mengapa semua berubah saat kau datang? Tidak pernah aku merasakan sensasi luar biasa saat dengan sadar aku mencobamu untuk pertama kalinya, lalu tanpa sadar aku mencobamu untuk tak terhitung kalinya. Kau manis dalam kerongkonganku, lembut dalam pikiranku, kau sensasi luar biasa dalam hatiku. Lalu aku mencoba dengan tusukan di lengan, dan aku makin suka. Ini candu, aku gila dalam candu.

Mengapa semua hilang saat kau datang? Kini aku tiada memiliki selimut hangat untuk menghangatkan kantung air mataku yang membeku, yang tak lagi dapat menetes karena terlalu banyak air yang mengalir darinya. Kutingggalkan semua, semua! Aku malu, aku takut, aku jatuh dalam candu.

Dengan kesadaran tingkat tinggi kunyatakan pada seluruh dunia: kaulah yang terburuk dalam hidupku. Memilihmu adalah keputusan paling ceroboh dari setiap kecerobohanku. Waktuku bersamamu adalah waktu paling sia-sia. Aku patah hati, dan barulah aku tahu ternyata air mata dapat mengalir sedemikian deras karena hati yang patah.

Aku malu dan takut kembali pada orangtua, pada sahabat, pada Tuhan. Aku meninggalkan mereka dan mereka tak akan pernah sudi menerimaku kembali, itu firasatku. Dan aku gembira sampai sesak nafas karena firasatku salah! Mereka menerimaku kembali, dengan air mata yang deras yang juga mengalir deras dari mataku. Aku datang hanya dengan pakaian yang melekat pada tubuhku, tanpa membawa bingkisan sebagai tanda penyesalan. Namun mereka menyambutku bak anak raja, memeluk aku sedemikian erat karena aku telah pulang.

Dan dengan kesadaran paling tinggi yang baru kali ini kualami, aku menyatakan pada dunia: bahwa Tuhan menerimaku dengan seutuhnya. Ia bahkan menantikan aku hari demi hari, aku tahu ini, karena Ia yang memberi tahu kepadaku. Setelah sekian lama, aku merasakan lagi kasih yang dahulu kutinggalkan. Dan sedikitpun kasih-Nya tak berubah, malah aku bertambah dekat pada-Nya. Aku tahu ini, karena ia yang menunjukkannya. Kini hatiku menyatu kembali, baru aku tahu ternyata hati yang patah dapat sembuh pula. Aku tahu ini, karena aku mengalami dan merasakannya.

Aku menyesal, tapi itu tidak berguna. Sakit hatiku bukan lagi topik utama. Tidak berguna dan tidak menjadi topik utama KARENA TUHAN SUDAH MEMULIHKAN DAN MEMAAFKAN AKU, dan pun aku MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI. Kini aku tahu, kau hadir bukan karena kebetulan. Aku menjadi semakin kuat saat aku tidak terpaku pada masa lalu, melainkan mengarahkan hidupku pada masa yang kujelang. Aku dan Tuhan sudah berjanji, kami akan selalu berjalan bersama, INI JANJI UNTUK SELAMANYA.

Amsal 23:18

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. “

Ditulis oleh ENS_FOS Community

Pilihan Pelangi

Category : FOSters Creativity, Lifestyle

Namanya Pelangi. Ia hidup di bumi dan karenanya ia juga memiliki pilihan-pilihan seperti makhluk bumi lainnya, manusia.

Pelangi dapat dengan bebas menaruh adiknya di atas lemari, sehingga sang adik dapat berhenti mengacaukan pembuatan makalahnya. Namun Pelangi memilih untuk bermain bersama adik kecil selama lima belas menit, lalu berkutat kembali di depan komputer.

Berbohong sedikit pastilah hal yang lumrah untuk gadis seusianya, lagipula Mama tidak akan mengerti bahwa semua gadis di dunia membutuhkan itu. Tapi Pelangi memilih mengaku pada Mama bahwa ia mengambil selembar uang berwarna biru untuk membeli parfum, walaupun ia tahu bahwa pengakuan itu berarti tidak akan ada uang saku selama tiga hari.

Setelah putus, Pelangi dapat menjalin hubungan yang lebih berani, lebih menghebohkan, untuk menunjukkan pada mantannya, pada kekasih mantannya, bahwa ia adalah salah satu gadis terkenal dan dapat dengan mudah mencari pengganti. Tapi Pelangi memilih untuk menunggu, dan menanti yang terbaik untuknya.

Selalu ada kesempatan untuk mengintip “majalah kaum dewasa” milik seorang penghuni kelasnya, namun Pelangi memilih untuk menutup mata walaupun ia penasaran juga.

Pergi ke Mall pada hari Minggu bersama teman-teman yang lama tak ditemuinya pastilah amat sangat menyenangkan, tapi Pelangi tetap memilih untuk beribadah di gereja walau ia tahu, ia akan dicap sebagai “si sok rohani”.

Pelangi tak dapat memilih di keluarga mana ia akan dilahirkan, dibesarkan. Tapi ia dapat pergi dari rumah dan bila beruntung, ia akan diasuh oleh keluarga tanpa “piring terbang”. Meskipun demikian, ternyata Pelangi memilih untuk bertahan, dan tetap berlutut dalam doanya.

Ia tidak dapat menentukan, apa yang akan terjadi esok hari, untuk hal apa lagi air matanya akan tertumpah. Ia bisa mengambil sebotol obat serangga dan meminumnya dalam sepuluh detik. Tapi ia memilih untuk berharap dan percaya pada Sang Pencipta yang menciptakan hari-hari dalam hidupnya.

Begitu banyak pilihan, sangat membingungkan. Tidak semua pilihan yang dipilih membuat Pelangi senang, tenang, puas diri. Kadang ia merasa takut, khawatir, tertuduh, benarkah ini atau itu adalah pilihan yang tepat?

Meskipun pikiran dan hati Pelangi bingung, dan semakin bingung dengan semua pandangan dan pendapat berjuta orang di sekelilingnya, tapi hidup bagi Tuhan tak pernah disesalinya. Pelangi selalu memiliki pillihan. Ia bisa saja lari, sembunyi, menolak. Tapi Pelangi memilih untuk menghadapinya. Benar-benar tak ragu sedikitpun ia, bahwa hidup bagi Tuhan yang begitu mengasihi Pelangi, adalah pilihan yang paling menyenangkan untuknya. Pilihan yang kadang sulit… Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin kan?

Pelangi sudah memilih. Nah, bagaimana denganmu?

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Untuk yang Lebih dari Permata

Category : FOSters Creativity

Kasihan kau, Via. Kau begitu tergila-gila pada seorang pria yang tidak akan pernah kau miliki. Pria itu berhidung mancung, selalu dengan kemeja yang licin. Tingginya tak lebih dari 170 cm, dagunya runcing dan itu membuat ketampanannya semakin kuat. Sebagian rambutnya berwarna hitam dan sebagian berwarna putih. Matanya ramah dengan kerutan di sekelilingnya. Bila pria itu tersenyum, kerutan di sekitar bibirnya akan tertarik. Pria itu humoris dan cerdas. Ia bijak dan berwibawa. Karena ia seorang Pendeta yang sudah berkeluarga, maka kau tidak akan pernah memilikinya.

Kasihan kau, Via. Hatimu tertancap pada seorang pria yang tak mungkin kau raih. Pria itu bermata tajam, dan mata itu memancarkan kecerdasan dan wibawa tiada tara. Kacamata tanpa bingkai membuat pesonanya semakin menjadi-jadi. Suaranya merdu dan senyumnya luar biasa dengan lesung pipinya. Tingginya tak lebih dari 170 cm dan ia berkulit coklat. Setiap kali pria itu berbicara dengan buku di tangannya, kau akan tahan diam dengan fokus yang sulit dipercaya selama dua jam pelajaran, sesuatu yang tidak biasa untuk gadis tujuh belas tahun seperti mu. Hampir tiap malam kau membaca buku yang selalu dipegang pria itu saat mengajar di kelas, dan karenanya kau hampir hapal isi buku tersebut.

Via, malang benar kau. Berpikir kalau ini tidak wajar dan kau merasa sedih. “Kenapa bukan pemain basket, atau seorang anggota OSIS yang aku sukai?” demikian kau terus berpikir dan makin lama kau makin terpuruk saja. Kau merasa berbeda, merasa aneh, karena pria dalam hatimu adalah pria yang sudah berkeluarga dan pria dengan selisih usia dua puluh tahun.

Setelah sedih yang berkepanjangan, kau sadar bahwa… Bahwa sudah lama sekali kau berangan-angan “seandainya, ya seandainya, Ayahku seperti dia”. Ah Via, air matamu mengalir lagi, saat kau sadar bahwa… Bahwa kau menginginkan sosok Ayah berhidung mancung dengan senyum ramah. Atau Ayah dengan mata tajam nan cerdas dan penuh wibawa. Kini kau tidak lagi merasa aneh, tapi kau hancur. Kenyataan, perasaan, dan keinginan membuat kau semakin sedih. Kau memiliki Ayah yang luar biasa tampan, itu pendapat semua orang. Tapi bahkan ketampanan tak akan pernah menyembuhkan luka pada punggungmu, luka yang terbentuk dari ikat pinggang Ayah. Tidak pula luka pada hatimu, yang kian lama kian sakit. Ah Via, kasihan benar kau…

Akan menjadi orang tua seperti apa kita nanti? Mungkin hal itu masih jauh dari pikiran dan angan-angan, masih sepuluh, delapan, atau lima tahun lagi saat kita berkeluarga. Akankah  yang lebih dari permata, yang kita nantikan dalam kehidupan keluarga kita kelak, yakni anak-anak kita, mengalami kepahitan yang anak-anak lain rasakan atau  yang pernah atau sedang kita alami? Bukan hal yang terlalu dini bagi kita untuk belajar menjadi seorang yang penuh kasih dan menjadi peduli. Walau masih sepuluh, delapan, atau lima tahun lagi,  untuk yang lebih dari permata dalam kehidupan berkeluarga kita kelak, yakni anak-anak pilihan-Nya, anak-anak yang lebih dari permata bagi Tuhan dan yang begitu dikasihi-Nya melebihi apapun.

Ditulis Oleh_ENS FOS Community

Cerpen : (Mungkin) Aku Tidak Bisa..

2

Category : FOSters Creativity

Tak lama kemudian tangisnya pecah dan ia berlari dengan mata terpejam. Karena matanya terpejam dan kakinya terus berlari, ia tersandung. Ia tersandung dan yang lain tertawa kian keras. Ia tersandung maka ia menangis kian keras. Aku diam, tak tertawa, tak menangis. Kusaksikan Tasya di teriakkan “monster kelinci” karena kedua gigi depannya lebih besar dari gigi yang lain, dan karena tubuhnya lebih besar bahkan dari anak laki-laki. Itu terjadi tiap hari sampai Tasya pindah rumah. Tak ada lagi teman bermain “ibu-ibu-an”. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku masih kecil, masih tujuh tahun.

Aku bukan satu-satunya yang tahu di dunia ini. Tapi semua orang hanya diam. Saat gambar tangan kepala sekolah menempel jelas pada pipi Michael, kami hanya menarik napas tertahan. “Bukan Michael yang pakai uang tabungan kelas kami selama satu tahun, Bapak Kepala Sekolah. Bukan!! Yang pakai Pak Joni wali kelas kami!!”, aku ingin berteriak begitu, tapi aku tidak bisa. Karena aku murid SMP dan dia guru.

Masih merah dan basah. Rupanya ia begitu kesal dan marah hingga ia mencakar-cakar lengannya tanpa sadar bahwa itu sakit. Katanya ia sayang ibunya dan ibunya sayang padanya. Hanya saja saat itu ibunya mabuk dan untuk kesekian kalinya ibunya menyeretnya untuk tidur di halaman, tanpa bantal. Tiga minggu kemudian seorang yang lain menunjukkan luka di nadi tangannya. Ia bilang ia hampir mengiris uratnya, tapi tidak jadi karena ia takut, sangat takut. Ia juga bilang beberapa hari belakangan ia tidur dengan pisau dapur di bawah bantalnya, kalau-kalau Ayahnya mengamuk lagi, maka keputusannya sudah bulat untuk mengiris uratnya. Tiga kesamaan dari mereka adalah: mereka berdua perempuan, mereka berdua sahabat baikku, dan kami sembilan belas tahun. Aku hancur, karena aku tak bisa melakukan apa pun, aku tak bisa mencampuri masalah keluarga orang lain.

Ku lihat tangannya masuk ke tas pengunjung toko itu. Sebuah dompet ungu dengan hiasan bunga mawar berpindah dengan cepatnya ke dalam jaket kulitnya. Aku tak bisa mencegahnya. Karena dia laki-laki dan aku perempuan.

Bibirnya gemetar dan napasnya tersengal. Ia bilang ia ingin bercerai karena suaminya seringkali memukulnya. Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Ini antara anaknya dan suaminya.

Cucuku menjerit. Cucuku sakit, kanker. Jarum suntik menusuki tubuhnya, senantiasa. Ia masih sembilan tahun, ia perempuan, dan ia cucu yang paling ku sayang. Biarkan tubuhku yang hancur, tapi jangan cucuku! Aku yang renta tak bisa berbuat apa-apa. Aku bukan Tuhan.

Disini aku terbaring. Setiap kali aku menarik napas, aku serasa mengangkat seember cucian. Mataku tak dapat melihat dengan jelas, hanya terdengar desah napas suamiku yang duduk di kananku. Sepi sekali disini, dan aku dapat mencium aroma bunga pemakaman.

Tanpa sadar, pikiranku melayang bebas ke masa lalu. Seandainya, waktu itu aku dapat berlari mengejar Tasya, dan mengatakan kalau aku lebih suka bermain ibu-ibuan dengannya dibanding bermain dengan anak-anak yang selalu mengejeknya. Seandainya aku melakukannya, mungkin, hanya kemungkinan, Tasya tidak akan pindah dan aku tidak akan menangis.

Seandainya aku mengatakan Pak Joni yang memakai uang kelas, mungkin Michael tidak akan dipermalukan, dan hatiku tidak akan retak melihat laki-laki pertama yang kusayangi difitnah seperti itu.

Kalau saja aku memberikan waktu sedikit lebih banyak, seandainya aku lebih sering mengunjungi mereka, seandainya aku lebih memilih berbicara dengan mereka dibanding mengerjakan artikel yang saat itu kupersiapkan untuk kukirim ke koran, mungkin kedua sahabatku tidak melukai tubuh mereka dan mencoba untuk mati.

Aku rindu sahabatku, anakku, cucuku, bahkan orang-orang yang tidak kukenal. Air mata mereka jatuh ke bahuku, dan aku tak dapat berkata apa pun, tidak melakukan apa pun. Kini aku kesepian, dan dalam waktu dekat suamiku juga akan kesepian. Dalam diam, aku menangis dan merasa hancur. Apa yang dapat kulakukan untuk suamiku? Tidak ada, karena aku hampir mati.

Seringkali kita memutuskan “aku tidak bisa. Tidak bisa karena aku masih muda, karena aku perempuan, aku terbatas, aku tidak kaya”, dan daftar panjang lainnya. Kini pikir kembali, benarkah demikian? Sebelum terlambat , pikirlah! Yang berlalu tidak akan kembali, dan yang terlambat akan sangat sulit diobati. Penyesalan akan sesuatu yang tidak kita lakukan akan terasa berkali lipat lebih menyakitkan dibandingkan bila kita melakukan hal yang kita yakini, walaupun hal itu tidak diingat orang, walaupun hal itu terasa tak berharga. Nah, sudahkah kita mengambil keputusan?

Pengkhotbah 6:12 “Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia?”

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Cerpen – Hatimu, Ibu..

Category : FOSters Creativity

Untuk semua Mama, selamat “Hari Mama”. Pelbagai wejangan yang kami (benar, kami semua) terima, membuat kami semakin dewasa. Walaupun sedikit banyak kami membuat hari-hari Mama menjadi sepuluh kali lebih berat, Mama asyik2 saja tuh. Mama bukan Mama yang sempurna, tapi pasti yang terbaik yang kami miliki *Sejuta sayang dari kami untuk semua Mama*

Ibu, kita hidup dalam dunia patriarki, dimana kaum Adam lebih tinggi dari kaum Hawa. Lebih tinggi dari derajat, hak, dari cita-cita hidup. Apakah derajat? Hanya manipulasi yang mengatasnamakan kemanusiaan dalam hal tinggi dan rendah hidup manusia. Bahkan hak terdengar sebagai gema tanpa getaran, tak ada dampak, tak ada keseimbangan.

Mengapa tidak apa bila Ibu mencuci pakaian di rumah tetangga untuk makan hari ini, dan haram bila Ayah melakukan hal yang sama? Mengapa Ibu berkeringat dan Ayah tidur-tiduran di depan TV? Mengapa cap merah tangan Ayah boleh tergambar dalam pipi Ibu sedangkan Ibu hanya boleh diam, mengeluarkan air mata diam-diam?

Kita ini laksana pemain cadangan dalam sebuah pertandingan sepakbola, yang setelah berpeluh dan berlatih habis-habisan bahkan tak pernah menjejak rumput dalam satupun pertandingan. Kita ini bak karyawan yang duduk paling belakang dalam sebuah rapat yang kurang penting (karena bila rapat penting, jangan harap kita diundang) yang setelah lembur berminggu-minggu dan kantong mata lebam, bengkak, tak kunjung disebut namanya.

Ibu memasak. Ibu memperbaiki atap. Ibu mencuci di rumah tetangga. Ibu di dapur, di kamar, di kebun, di atap, Ibu dimana-mana. Ibu tidak makan, tidak apa-apa. Ayah belum disiapkan makan, ini bahaya.

Tak pernah Dinda sesalkan Ibu adalah seorang perempuan. Dinda hanya hancur, hanya tak berdaya. Apakah revolusioner yang menyerukan pembebasan? Kita ini masih terkungkung dalam sebuah tembok batako yang bernama keluarga, yang beratap kekhawatiran tentang apa yang akan kita makan. Kita kaum feodal, dipimpin oleh para bangsawan. Sistem tirani, jangan pernah sebut demokrasi!

Oalah Ibu, hentikan cintamu! Ayah tak akan pulang, hari ini, esok, lusa. Mengapa Ibu masih bersimpuh dan menyebut “suamiku” sambil meringis? Pikiran Dinda bias. Katakan pada Dinda dengan pelan dan lambat-lambat agar Dinda mengerti, kenapa Dinda harus menyapanya dengan kata “Ayah”? Ooh tidak Ibu, Dinda tidak membencinya, karena bahkan Dinda tidak mengenalnya.

Sekali lagi Ibu, tolong hentikan cintamu. Lutut Ibu sudah lecet dan harus segera diobati. Hati Ibu patah dan harus segera dilem. Dinda sudah mencoba untuk waktu yang cukup lama menyebut “Ayah” sambil bersimpuh, namun pintu tak kunjung terbuka dan menampakkan bayangnya. Mengapa Ibu, hatimu sekeras baja? Pikirmu seteguh tanduk rusa? Imanmu, ahh bagaimana Dinda menggambarkannya? Apakah Ayah akan pulang Ibu? Ahh, Dinda jadi berharap lagi…

***

mum_2Dinda, Ayah dan Ibu adalah satu, jadi bagaimana Ibu dapat berhenti lalu bersantai sambil minum kopi sedangkan separuh dari Ibu sedang mencari-cari jalan pulang? Ayah bukannya tak mau pulang, Ayah hanya sedikit lupa jalan pulang. Ibu tak boleh tertidur, karena saat Ayah pulang nanti, Ibu harus sudah ada di pintu untuk menyambutnya masuk. Ibu dan Ayah akan sangat senang bila Dinda mau bersama-sama menyambut Ayah di pintu. Kami adalah satu, kami sudah berjanji. Oh iya,  soal mencuci itu tidak jadi soal, bagaimana ya Dinda, habis Ibu senang melakukannya. Ahh Ibu jadi berdebar-debar, siapkan dirimu sayang, Ayah segera pulang.

Cerpen : Lengkung Sempurna

1

Category : FOSters Creativity

Rena kecil bersandar pada kursi kesayangannya. Matanya yang bulat bercahaya memandang rintik-rintik hujan yang turun dengan rapi dari langit. Rambutnya bak tirai hitam kemilau tertimpa sinar lampu, beberapa helai rambut terurai pada pipinya yang lembut dan merah jambu. Bibir tipisnya melantunkan lagu yang dikarangnya sendiri. Dua ibu jari tangan yang dimilikinya, hanya dua dari sepuluh yang seharusnya, bergerak-gerak seirama seturut alunan lagu yang dinyanyikannya.

Matanya terbelalak kagum saat seberkas warna pelan-pelan muncul di langit. Melengkung sempurna dengan kemilau jingga, hijau, merah jambu dan biru. Rena kecil menempelkan wajahnya pada kaca jendela, ingin melihat lebih jelas rupanya. Rena kecil berusaha turun dari kursi kesayangannya, tapi ia tidak punya jemari kaki, juga telapak kaki. Beruntung sang Ibu datang tepat waktu dan membawa Rena kecil menuju beranda untuk melihat lengkung sempurna di langit.

window rainbow

“Ibu, siapa yang menggambar langit dengan crayon?” Rena kecil bertanya pada Ibunya.

“Oh, Seorang yang sangat luar biasa”. Ibunya menjawab sambil membelai rambutnya bak tirai hitam kemilau yang tertimpa sinar lampu.

“Benarkah?”

“Tentu sayang”.

“Mengapa Dia menggambar di langit? Rena punya buku gambar yang bagus”.

“Mengapa? Agar semua orang dapat melihat keindahannya, Rena sayang”.

“Rena senang melihatnya”.

“Ya, Ibu juga”.

“Oh, Rena ingat sekarang. Pasti yang menggambar itu adalah Tuhan yang seringkali Ibu ceritakan. Benar kan Bu?”

“Benar, Rena anak pintar”.

“Rena tidak bisa menggambar seindah itu, tapi Tuhan bisa. Pasti ada yang membuat-Nya senang. Rena bisa gambar bagus kalau Rena sedang senang”.

Ibunya tersenyum dan menjawab, “Ya sayang, ada hal besar yang terjadi di Sorga dan membuat-Nya senang. Tahukah Rena apa yang membuat-Nya senang?”

Rena kecil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Karena ada seorang anak cantik yang sedang melihat ke langit dan senang melihat gambar-Nya”.

“Benarkah Ibu?”

“Tentu sayang, dan apakah Rena tahu yang lebih indah dari warna-warna di atas sana?”

Rena kecil kembali menggeleng kuat-kuat.

“Oh, adakah yang lebih indah lagi Ibu?”

“Tentu Rena sayang, yang jauh lebih indah dari warna-warna itu, adalah Rena sendiri”.

Rena kecil terbelalak heran.

“Benarkah Ibu? Rena lebih indah?”

Ibu mengangguk, tersenyum dan berkata, “Tuhan menggambar warna-warna itu untuk Rena, untuk anak tercantik yang sangat disayangi-Nya”.

Rena kecil kembali memandang warna-warna di langit, senyumnya mengembang, lebih indah, jauh lebih indah dari warna-warna di langit sana.

Rena kecil kini sudah besar. Tumpukan diagram dan kertas-kertas penuh garis mengisi hari-harinya. Rena tidur larut, Rena bangun pukul tiga pagi, Rena tenggelam dalam diagram dan kertas-kertas penuh garis. Rena besar bersandar pada kursi kesayangannya, menarik napas sepanjang yang ia mampu. Hujan yang rapi turun dari langit, membawa warna-warna yang membentuk lengkungan dari ujung ke ujung langit yang lain. Rena besar meletakkan penanya dan memandang ke langit. Beberapa kali ia melihat warna-warna di angkasa, tapi semua lengkungan warna tak lagi terasa istimewa pada masa-masanya belakangan. Ia rindu, sangat rindu, memandang warna-warna itu dari mata seorang gadis kecil, memberi waktu yang tulus untuk warna-warna di langit. Ia ingin, sangat ingin, melihat warna-warna menakjubkan dari hati gadis kecil, tak ada kesombongan, hanya kekaguman.

Mutiara menitik dari mata Rena yang bulat bercahaya. Rena rindu hari-harinya yang teduh, Rena rindu Ibu. Seperti bunga mawar dengan tetesan embun, Rena tersenyum dan berkata, “Ibu, suatu hari nanti kita akan menikmati kembali warna-warna di langit, bukan hanya kita berdua Bu, tapi kita bertiga. Rena, Ibu, dan Tuhan”.

Rena besar terlelap dalam sejuknya hari setelah rintik-rintik hujan yang rapi.  Lengkung sempurna di langit turun ke bumi, dan menetap dalam senyum Rena.

E.N.S