Pria Simpanan dan Preman

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Hmmm….hari masih gelap, tapi sepertinya sebentar lagi pagi
Aku terjaga dari tidurku, bangun dan duduk di ranjangku
Di sebelahku sesosok tubuh perempuan terbaring lelap
Seandainya aku bisa mengatakan kalau dia istriku, tapi sayangnya bukan
Seandainya aku juga bisa mengatakan kalau aku mencintainya, tapi juga tidak
Bagiku dia majikanku, dan baginya aku hanyalah mainan favoritnya..saat ini…
Ah…waktunya bangun dan pergi ke kamarku sebelum pelayan lain memergokiku

Sambil berjalan, aku teringat masa lalu
Kalau dipikir-pikir, nasib ini sungguh aneh
Dibuang keluarga dan menjadi pelayan di rumah ini
Majikanku memperlakukanku cukup baik, tapi istrinya bahkan lebih “ baik ” lagi
Dia sendiri yang datang dan menawarkanku tempat di ranjangnya

Untuk sesaat aku bimbang, bukankah itu dosa ?
Tapi, kenapa tidak ? Aku masih muda dan tubuhku menginginkannya
Tapi bukankah itu menyakiti Tuhan ?
Tuhan ? Tuhan yang diam saja ketika keluargaku membuangku ?
Tapi bukankah Tuhan akan menjadikan semuanya baik ?
Baik di mananya ? Aku hanya pelayan di rumah ini…tapi seandainya nyonya menyukaiku, kehidupanku akan lebih baik dan aku bisa memuaskan masa mudaku.
Tunggulah Tuhan dan Dia akan…
Tidak, aku tidak mau menunggu. Aku lelah menunggu mimpi tak jelas, lebih baik aku mengambil apa yang ada di depan mataku saat ini.

Kehidupan ini tidak jelek..
Tuan sering pergi untuk kerja sampai berhari – hari dan tidak pernah curiga
Nyonya menyukaiku dan aku bisa hidup nyaman
Mungkin ini bukan hidup yang kuimpikan, tapi tidak jelek..

***********

Bayaran bulan ini tidak terlalu banyak, mungkin para pedagang itu harus diingatkan lagi karena jasa siapa mereka bisa berdagang dengan aman tanpa takut dirampok. Sedikit uang tanda terimakasih karena sudah menjaga barang dagangan mereka harusnya tidak seberapa. Mungkin para pedagang kikir itu harus belajar apa arti kata tidak aman sebelum mereka mau berterimakasih.

Hahh…menjadi preman kecil di kota kecil…betapa jauh dirinya terbuang.
Dulu hidupnya tidak seperti ini…dulu dia wakil direktur perusahaan besar.

Dulu hidupnya bagaikan anak bangsawan, tapi sekarang dia terbuang di kota kecil berdebu ini, menjaga barang dagangan para pedagang yang tak tahu terimakasih itu.
Dan semuanya karena mertuanya sendiri, direktur perusahaannya, cemburu pada kesuksesannya di perusahaan itu.
Hahh…padahal mertuanya yang tidak sanggup memimpin, tapi dia yang dipecat dan berakhir di sini.
Tapi…ini juga tidak jelek, setidaknya dia berhasil membalas dendam…

Senyum tersungging di bibirnya, ketika dia teringat lagi ketika pisaunya menembus tubuh mertuanya yang bodoh dan tidak kompeten itu.
Ya..tahun lalu mertuanya datang ke kota ini mencarinya…
Masih banyak pegawai di perusahaan itu yang menginginkan pergantian pemimpin yang lebih kompeten. Dan mertuanya datang ke sini untuk menyingkirkannya, untuk memastikan tidak ada saingan yang akan berebut kepemimpinan dengannya.
Hahh…tapi dia lebih cepat dari mertuanya yang lamban itu.
Ketika mertuanya masuk ke toilet dan para pengawalnya berjaga di luar, itulah saat belatinya membayar semua dendamnya.

Harusnya tidak dia lakukan itu, bukan itu yang Tuhan inginkan
Tapi dendam yang terbayar itu terasa manis
Walaupun kosong….perusahaannya kosong…semua pegawainya tercerai berai karena konflik internal yang berkepanjangan. Sebagian dari pegawai mendukungnya tapi sebagian menolaknya karena dia membunuh mertuanya sendiri. Dan sekarang perusahaan itu kosong…
Dan dia tetap terjebak di kota kecil ini.

Tapi, ini juga tidak jelek…
Setidaknya dia “ direktur ” dari sebuah jasa keamanan
Mungkin ini bukan profesi impian
Tapi, ini juga tidak jelek…

***********

Bagaimana kalau seandainya Yusuf ternyata memilih untuk menerima rayuan istri Potifar ?
Bagaimana kalau seandainya Yusuf lebih memilih untuk memuaskan masa mudanya ?
Bagaimana kalau seandainya, daripada menunggu Tuhan mewujudkan mimpinya, Yusuf memilih untuk mengambil jalan yang mudah ?

Bagaimana kalau seandainya Daud memutuskan bahwa dendamnya pada Saul lebih penting dari apa yang Tuhan inginkan ?
Seandainya Daud lebih memilih untuk main hakim sendiri daripada menyerahkan perkaranya pada Yang Adil ?
Seandainya daripada menunggu waktunya Tuhan, Daud berusaha untuk menjadi raja dengan caranya sendiri ?

Seandainya kita memilih untuk meyerah dan membiarkan diri kita terbawa arus ?
Seandainya kita memilih untuk bertindak sendiri daripada menunggu Tuhan ?
Seandainya kita memilih untuk membuang mimpi-mimpi kita dan mencukupkan diri dengan hidup yang mengikuti dunia ini ?

Yusuf sang perdana menteri….dan yusuf pria simpanan
Daud sang raja….dan daud yang preman
Seandainya Yusuf bertahan sedikit lagi…seandainya Daud percaya sedikit lagi….
Dan…..Puji Tuhan….mereka memang bertahan, mereka memang percaya, mereka menunggu dan Tuhan bertindak, dan mimpi mereka terwujud, dan Alkitab menjadi lebih berwarna dengan kisah hidup mereka.

Sedikit lagi….bertahan lagi….percaya lagi….
Bangun lagi…merangkak lagi…berjalan lagi….
Sedikit lagi….Yesus ada di depan….dan tanganNYA terbuka.

PS : mungkin ada yang heran kenapa Daud perannya di sini jadi preman ? Well…ini pendapat pribadi sih, tapi kalau baca 1 Samuel 25 soal Daud dan Nabal, rasanya kok Daud macem preman yang jaga keamanan kambing domba Nabal terus minta uang terimakasih.
Memang sih kalo preman pasar, dia sendiri yang ganggu kemanan, dia sendiri yang minta uang keamanan. Sementara Daud emang beneran ngejaga kambing domba dari rampok…jadi ga preman – preman amat lah (>,<)’

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Lumpuh Total

Category : Simply Articles

Suatu ketika ada seorang mapan yang memang sudah sukses dalam hidupnya mengeluhkan sakit di punggungnya.  Sakit itu sering kambuh dan sekalinya sakit bisa membuat dirinya tidak dapat melakukan apa-apa. Ketika berobat ke dokter, sang pria tersebut mendapat nasihat supaya harus beristirahat  2 hari untuk memulihkan punggungnya.

 Saran dokter itu dituruti, ia mengambil cuti sehari untuk dapat beristirahat, tidur seharian tepat seperti yang dokter itu anjurkan. Dirasa masih sakit punggungnya, ia mengambil cuti lagi sehari karena dipikirnya toh masih sakit ini, biarlah beristirahat sejenak badannya. Dirasanya masih sakit, ia mengambil cuti lagi sehari hingga tidak terasa sudah seminggu penuh dia cuti dan tidur seharian.

Merasa nikmat untuk beristirahat daripada harus bekerja keras, akhirnya ia putuskan untuk keluar dari pekerjaannya dengan alasan sakit dipunggungnya itu.

Seminggu berlalu, sebulan berlalu, bahkan setahun berlalu, sang pria hanya mengeluhkan sakit di punggungnya sembari rebahan di tempat tidurnya. Tanpa ia sadari bahwa sebenarnya sakit punggungnya sudah hilang sejak ia beristirahat pada hari kedua.

Setelah setahun tiga bulan hanya rebahan di tempat tidur dan tidak melakukan apapun, tiba-tiba ia merasa sakit sekali, bukan hanya di punggungnya, tetapi di sekujur tubuhnya, dan saat ia mencoba menggerakan tangan dan kakinya, yang ada adalah sakit yang lebih lagi, saat mencoba untuk bangkit, yang ada adalah rasa sakit yang tidak kalah hebatnya. Frusatasi sembari menahan sakit, ia menelepon dokter yang dahulu pernah memberikan nasihat mengenai punggungnya.

Ketika dokter datang, dan tau bahwa sudah setahun tiga bulan si pria ini hanya tidur di tempat tidurnya saja kerjaannya, maka sembari menggelengkan kepala dan sedikit sedih ia berkata kepada pria ini, “ Pak, kan saya bilang hanya istirahat 2 hari saja, kenapa jadi setahun begini. Dan tahukah bapak bahwa tubuh bapak saat ini jauh lebih lemah daripada saat saya suruh bapak untuk beristirahat. Saat ini, dengan berat hati saya katakan bahwa bapak mengalami gejala KELUMPUHAN TOTAL…”

….

Guys, tahukan bahwa istirahat itu memang penting, tetapi istirahat yang berkepanjangan itu berbahaya, dapat melumpuhkan, dapat membuat mandul, dapat membuat malas, dan dapat menghilangkan potensi diri kita. Bukan saja mengenai badan yang capek lho, tetapi tanpa kita sadari, kita juga sering merasa lelah dengan semua yang Tuhan anugrahkan kepada kita, contohnya talenta. Seringnya dan padatnya pelayanan membuat kita mengeluhkan kepada Tuhan bahwa kita lelah, butuh istirahat sesekali, butuh waktu luang terbebas dari pelayanan, butuh waktu sendiri, dan butuh bla..bla..bla.. lainnya.

Sehari istirahat, dua hari istirahat, tanpa kita sadari akhirnya kita “resign” dari pelayanan kita, dan memilih melayani nafsu dan egoisme kita sendiri. Kita berhenti menjadi WL untuk Tuhan, berhenti bermain musik di greja, berhenti menulis hal-hal yang memberkati, berhenti datang ke rumah Tuhan, berhenti bersaat teduh, berhenti berdoa, dan hanya sibuk mengejar apa yang menjadi daya tarik dunia. Well, isitrahat nampanknya di salahartikan.

Semua orang pasti punya alasan untuk beristirahat dari apapun, tetapi jarang sekali orang yang mau kembali dari “istirahatnya” itu untuk kembali beraktifitas, kembali menjadi berkat dan kembali melayani. Why? karena istirahat itu nyaman guys, karena istirahat itu nggak perlu melakukan apapun, karena istirahat itu ueeenakk tenan…

But excessive rest is dangereous, why ??  Karena saat kita terlena dengan istirahat kita yang berlebihan bisa-bisa kita menjadi LUMPUH….. Lumpuh badan kita, lumpuh semangat kita, lumpuh potensi kita, Lumpuh jiwa kita, Lumpuh talenta kita, Lumpuh hati kita, dan bahkan lumpuh rohani kita.

Kalo sudah LUMPUH semuanya, berbahaya… karena kita hanya akan meratapi kelumpuhan kita dan berharap untuk cepat-cepat Rest in peace…. Ngeri sobb…

Jadi sebelum kelumpuhan total menghinggapi kita, yuk kita bangunkan diri kita dari istirahat yang merusak, bangunkan jiwa kita, bangunkan semangat untuk pulih dari dalam diri kita, kembali latih dan lakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita, kembali aktif ke dalam pelayanan dan persekutuan, dan minta Tuhan untuk membangkitkan kerohanian kita yang sudah keburu loyo.

Nggak ada salahnya di awal tahun 2012 ini kita jadikan sebagai titik awal dari semangat yang baru untuk tidak lagi “membenarkan” istirahat yang berkepanjangan apalagi istirahat untuk ikut Tuhan.

Mari bangkit dan kembali bersinar, menyinari hati-hati yang hampir lumpuh karena kegelapan…

NB: penulis juga sedang berusaha bangkit dari “istirahat yang berkepanjangan” loh.. hehehe…

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati Ini

Category : Pojok Tukang Bakmi

Ding Dong….Ding Dong…Ding Dong…
Apakah kau menerima xxxxx sebagai istrimu yang sah? Yes, I do….
Dengan ini kalian resmi menjadi suami istri…
Dan….dimulailah masa – masa live happily ever after
Akhirnya, ada yang nyuciin baju kalo kotor
Akhirnya, ada yang masakin kalo laper
Akhirnya, ada yang mijetin kalo cape
Akhirnya, ada yang nemenin kalo tidur
Senangnya bisa nikah….
Eppp… Tunggu… Jangan lempar sendal dulu ato demo ala feminis…
Ini cuman contoh… Contoh alasan ato motivasi buat nikah yang salah.
Normalnya, harusnya, bagusnya, pastinya, kalo mau nikah itu supaya bisa selalu bersama dengan orang yang kita sayang sampai kesudahannya kan? Bukan supaya punya pembantu baru? Yang kita inginkan bukan rumah bersih rapi, makanan hangat ato baju bersih kan? Tapi supaya kita bisa menghabiskan waktu bersama?
Yang kita inginkan bukanlah makanan lezat yang selalu tersedia…
Yang kita inginkan bukanlah pembantu – pembantu bersayap
Yang kita inginkan bukanlah rumah megah dengan jalan terbuat dari emas
Ketika tidak ada lagi tetes air mata, itu bukan karena kita akhirnya bisa hidup bagai raja, tapi itu karena akhirnya… Akhirnya… Kita bisa bertemu sang Raja dan menghabiskan waktu bersama sampai selamanya.
Menceritakan surga sebagai tempat dimana kita bisa hidup dengan segala kemewahan tanpa kesusahan itu bagaikan suami yang menyombongkan rumahnya yang selalu terawat tanpa pernah menyinggung sedikit pun tentang istrinya.
Bukankah surga menjadi surga karena Yesus ada di sana?
Dan bukankah neraka menjadi neraka karena..itu berarti….Tuhan tidak ada di sana ?
Ataukah neraka menjadi neraka karena mempunyai koleksi alat – alat penyiksaan terbanyak ?
Apakah neraka menjadi neraka karena…di sana….manusia ditusuk dibakar digiling direbus…?
Duduk termenung sambil menengadah ke atas….menengadah memandang surga
Mungkin….mungkin neraka ini tidak untuk selamanya
Bukankah Tuhan itu baik? Mungkin suatu hari nanti Dia akan datang ke neraka ini dan berkata kalau hukumanku sudah cukup.
Ya..ya…mungkin besok dia datang…mungkin lusa….mungkin minggu depan..bulan depan…tahun….
Tapi…bagaimana kalau seandainya Dia tidak akan pernah datang untuk selamanya ? Bukankah neraka diciptakan untuk kekekalan?
Tapi…mungkin juga Dia datang…
Mungkin hukumanku kurang, mungkin aku harus menebus dosa- dosaku? Mungkin aku harus menghukum diriku sendiri supaya Dia makin cepat datang ?
Hei…ada iblis di sana…mungkin dia bisa membantuku menyiksa dirku sendiri supaya dosaku cepat lunas…
Blis ? i-Blis ? Sini dong…..
Mungkin besok Dia akan datang…..
Tapi…bagaimana kalau Dia tidak akan pernah datang ?
Tapi..Dia kan penuh kasih ? Masa Dia akan membiarkan kita sampai selamanya di sini ?
Tapi bukankah neraka itu untuk selamanya sampai kekekalan ?
Mungkin sebentar lagi pintu itu terbuka dan Dia datang ? Mungkin besok ?
Dan keputusasaan pelan-pelan merayap…..disertai harapan kosong dan doa yang tak akan pernah terjawab.
Frustasi membuatnya meninju tembok…tapi kepalanya tetap dipenuhi suara – suara.
Mungkin kalau kepala dibenturkan ke tembok?
Mungkin rasa sakit bisa menghilangkan dan membuat lupa akan keputusasaan ini?
Mungkin kalau kakiku dipatahkan? Atau kuku jariku dicabuti? Mungkin dibakar? Apapun asal suara – suara yang menghantui kepalaku ini hilang…
Mungkin iblis bisa membantuku menyakiti diriku sendiri….i-Blis…….sini dong…
Dalam dunia tanpa Tuhan, kita tidak perlu disiksa. Kita akan menyiksa diri kita sendiri hanya untuk melupakan bahwa kita ada di dunia tanpa Tuhan.
Dalam dunia tanpa Tuhan, harapan yang ada adalah kosong, doa yang dipanjatkan tidak terjawab, penantian yang tak berakhir, kesepian yang tak terpuaskan, dan satu – satuya hal yang nyata adalah penyesalan dan keputusasaan.
Dalam dunia tanpa Tuhan, keinginan untuk masuk ke pesta Tuhan sama beratnya dengan kesadaran kalau tempat kita bukan di pesta itu.
Seperti pengemis yang datang ke pesta para bangsawan, sekalipun dia berusaha bertahan tetap di pesta, pada akhirnya dia tahu tempatnya bukan di sana.
Sekalipun dia bisa menebalkan muka, dia akan selalu tahu kalau dia bukan bagian dari mereka.
Karena dia memakai baju rombeng pendosa dan bungkuk oleh penyesalan yang terlambat sementara para bangsawan anak Raja memakai baju iman dan berdiri tegak karena sukacita.
Baju iman hanya diberikan pada mereka yang percaya walaupun tidak melihat
Tapi saat ini dia sudah melihat surga dan kemuliaan Tuhan, bagaimana dia bisa menerima baju iman ?
Penyesalan yang terlambat, seandainya saat di dunia di mana Tuhan tidak terlihat dia memilih untuk beriman….
Surga ini bukan rumahnya, neraka pun bukan, tapi neraka adalah tempat di mana semua orang yang tidak mempunyai rumah pergi…..
Apakah saya pernah dapat penglihatan tentang neraka ? Ngga…
Atau mungkin pernah diangkat ke surga ? Ngga juga….belum…
Kalau begitu, kenapa saya menulis tentang surga dan neraka walaupun saya ga tahu bentuknya seperti apa ? Karena saya tahu surga menjadi surga karena ada Yesus di sana, bukan karena trotoarnya terbuat dari emas . Dan karena itu, neraka seharusnya menjadi neraka karena Yesus tidak ada di sana.
Apakah neraka tempat penyiksaan dan penghukuman ?
Saya juga ngga tahu, tapi yang saya tahu, dalam dunia tanpa Tuhan kita akan menyiksa diri kita sendiri dengan harapan Tuhan akan memaafkan kita. Atau saat kita sadar kalau itu hanya harapan kosong, kita akan menyakiti diri kita sendiri hanya untuk berusaha melupakan harapan kosong itu dan menggantinya dengan rasa sakit.
Dalam dunia tanpa Tuhan, daging yang terbakar lebih nyaman daripada duduk terdiam dalam kekekalan menatap pintu yang tak akan pernah terbuka dan Sosok yang tak akan pernah hadir.
Kenapa Tuhan tidak berbaik hati dan mengijinkan orang berdosa masuk ke surga? Bukankah Dia penuh kasih?
Tentu saja Sang Raja bisa mengijinkan pengemis masuk ke pestaNYA, tapi pengemis itu akan selalu tahu bahwa tempatnya bukan di pesta itu. Berdiri di tengah pesta megah dengan baju compang camping lebih menyakitkan daripada diam di tengah tumpukan sampah. Tak akan ada seorang pun yang bisa bertebal muka di hadapan Raja dan tetap tinggal di pesta selama dia berbaju compang camping.
Tidak bisakan Raja memberikan baju baru ?
Dress code untuk pesta Sang Raja adalah baju yang bernama iman . Iman yang percaya pada penebusanNYA, iman yang percaya pada yang tak terlihat.
Tapi saat orang tak percaya meninggal dan melihat segala kemuliaan Tuhan, bagaimana dia bisa memperoleh iman ? Bagimana dia bisa percaya pada yang tak terlihat sementara dia sudah melihat ?
Apakah tempat sampah adalah kekejaman sang Raja? Mungkin…..
Tapi seandainya berada di pesta dengan baju compang camping lebih menyakitkan, tempat sampah adalah kemurahan hati.
PS :
Sekali lagi, tulisan ini cuma pendapat pribadi saya tentang surga dan neraka. Sepeti apa sebenarnya surga dan neraka itu nanti sama – sama kita lihat kalau kita sudah “ pulang”.

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Paket Pengampunan

Category : Simply Articles

Jika mengampuni dan melupakan tidak datang dalam satu paket yang sama, maka itu belum bisa disebut pengampunan. Kemungkinan, Itu hanya paket basa-basi biasa agar segalanya terlihat baik-baik saja :)

 

Semudah apa?

Mengampuni sih gampang tapi melupakan kesalahan orang yang menyakiti kita?? No way!! Emangnya otak kita ini program komputer apa? Bisa segampang itu delete file kekecewaan.exe dan kumpulan-kejadian-buruk.zip?? Nyatanya saat kita mengampuni seseorang, kita masih bisa mengingat kejadian yang bikin kita sakit hati itu kan? Kecuali mungkin kalau kita mengalami amnesia karena kesenggol mobil atau tertimpa batu bata *ala sinetron Indonesia*. Hal ini wajar karena otak kita memang tidak didesain untuk semudah itu ‘lupa’ akan kejadian-kejadian signifikan dalam hidup kita. Dan karena kita tahu itu wajar tanpa kita sadari kita juga mewajarkan kata-kata “Gue udah mengampuni, tapi maaf, kalo untuk melupakan itu perkara yang berbeda.”

Melupakan terlihat seperti sesuatu yang mustahil dilakukan. Padahal melupakan dalam paket pengampunan itu artinya bukan melupakan kejadian tersebut tapi sebenarnya melupakan sakit hati yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut. Kita mungkin enggak akan pernah lupa teman yang mengucapkan kata-kata sindiran tajam ketika sedang bercanda, sahabat yang membocorkan rahasia kita ke seluruh kelas, kekasih yang tiba-tiba meninggalkan kita tanpa alasan, atau papa yang menampar kita di depan umum, tapi kita bisa memilih untuk melupakan sakit hati yang ditimbulkan oleh kejadian itu.

Apakah mudah? Enggak.. tapi kalau kita sudah memutuskan untuk mengampuni itu berarti kita mau melupakan sakit hati tersebut. Saat kita mau melupakannya, Roh Kudus yang akan selanjutnya membantu kita. Tetapi ketika menolak untuk melupakan dan bertahan dengan ego kita, maka tidak ada yang bisa memaksa kita. Kita yang sepenuhnya memutuskan. Jangan lupa kalau kekecewaan dan sakit hati itu sangat tajam, jika kita menggenggamnya terlalu erat, kita hanya akan melukai diri kita sendiri.

Untuk mereka yang bahkan tidak tahu…

Untuk saya pribadi, mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang dengan tulus minta maaf itu mudah! Yang sulit itu, jika orang yang menyakiti hati kita bahkan tidak tahu kalau mereka sedang menyakiti hati kita. Yang sulit itu, jika ada orang yang melakukan kesalahan tapi justru malah kita yang balik disalahkan dan dibenci. Yang sulit itu, jika kita mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang berpotensi melakukan kembali kesalahan yang sama!!

Terus gimana dong? Sampai kapan kita harus terus menerus mengampuni orang? Sabar kan ada batasnya!

Waktu Petrus nanya ke Tuhan “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat 18:21) Dan jawaban Tuhan Yesus sangatlah mencengangkan! “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat 18:22) pastinya Petrus waktu itu langsung bengong karena enggak nyangka dapet jawaban yang berlipat kali ganda^^

70×7 bisa merupakan kiasan yang digunakan Yesus untuk menunjukkan bahwa kita harus mengampuni orang dengan tidak terbatas. Tapi kalaupun seandainya kita hitung secara harfiah 70×7 itu berarti 490 kali! Tetap merupakan jumlah yang sangat banyak, karena biasanya sesabar-sabarnya kita paling hanya mau mengampuni orang 3-4 kali. Di sinilah Tuhan Yesus mau mengubah pandangan Petrus dan tentu saja pandangan kita, kita selalu berpikir bahwa pengampunan itu ada batasnya, tapi yang Yesus mau bilang – pengampunan adalah sebuah proses  yang terus-menerus, pengampunan adalah komitmen, pengampunan adalah keputusan untuk tetap mengampuni bahkan ketika yang orang yang kita ampuni berpotensi untuk melakukan kesalahan yang sama berulang kali.

Tuhan Yesus tahu kalau itu sulit bagi kita, tapi Dia pun tahu ketika kita mengambil keputusan untuk  mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang bahkan tidak tahu bahwa mereka menyakiti hati kita atau mereka yang tidak pernah meminta maaf untuk hal itu maka karakter kita akan semakin disempurnakan, kita akan belajar level baru dari kerendahan hati. Dan jauh di atas segalanya Dia tahu bahwa kita akan menjadi lebih berbahagia. Dia tidak memberikan perintah mengampuni berulang kali untuk menyiksa kita tapi justru karena Dia ingin kita berhenti menyakiti diri sendiri. Karena Dia terlalu mencintai kita dan tidak ingin melihat kita menderita.

Memilih untuk tidak mengampuni membuat kita berhenti, berhenti untuk merasakan sukacita. Memilih untuk tidak melupakan sakit hati membuat kita lelah, lelah karena harus menanggung rasa pahit. Tapi memilih untuk melepaskan pengampunan berarti memberikan bagian terbaik dari hati kita untuk ditempati oleh Kristus.

Ditulis Oleh: LNY_FOS Community

Inspirasi Dari Sang Kecoa

2

Category : Simply Articles

Hari ini enggak sengaja aku memperhatikan tingkah kecoa. Karena sebal melihat kecoa yang sibuk bolak-balik di depan pas aku sedang makan, akhirnya dengan kaki kutendang dia. Ternyata karena tendangan itu badannya jadi terbalik gitu. Dengan susah payah dia berusaha untuk membalikkan badannya lagi, pas udah balik kutendang lagi jadinya terbalik lagi deh, begitu seterusnya sampe 3 kali (kejamnya dunia…hahaha). Dan pada akhirnya sang kecoa udah pasrah sama keadaannya yang terbalik itu dan enggak berapa lama akhirnya sang kecoapun meregang nyawa alias pergi untuk selamanya.

Guys, kalian tau, ternyata untuk matiin kecoa enggak perlu beli semprotan kecoa yang mahal, enggak usah beli racun kecoa yang dijual di emperan jalan (emang ada yah?), enggak perlu beli raket listrik buat nyetrum kecoa sampe mati atau mengotori tangan kita dengan memukul  kecoa sampai benyek. Cara paling simpel adalah dengan membalikkan saja tubuh si kecoa itu, pasti deh kalo memang kecoa itu enggak bisa membalikkan tubuhnya lagi, sudah dipastikan beberapa menit kemudian malaikat maut siap menjemputnya… heheheh

Waduh, jijik bin jorok nih, kok ngomongin kecoa sih… kan atut….hahaha..

Karena penasaran kenapa kalo badannya terbalik kecoa bisa mati, aku cari di google penyebabnya. Ternyata enggak banyak alasan logis yang bisa didapat kenapa kecoa bisa mati hanya dengan dibalikkan saja tubuhnya. Pada akhirnya kusimpulkan bahwa kecoa itu mati karena berhenti berusaha, bukannya karena terlalu lelah berusaha. Saat tubuh kecoa itu terbalik, mungkin dia akan merasa pusing, mual, jantung berdebar-debar, seluruh cairan tubuhnya menjadi terbalik dan fungsi-fungsi kelenjar/organnya menjadi terhenti (nii masih mungkin yah…hehehehe…) dan akhirnya matilah dia.

Satu hal yang kupelajari dari sang kecoa, selama dia masih mau dan berusaha menggerak-gerakan tubuhnya untuk mengembalikan posisi tubuhnya, selama itulah dia masih memiliki peluang untuk selamat bahkan untuk hidup. Dan saat dia udah menyerah, berhenti berusaha karena kelelahan mungkin atau karena terlalu berat baginya, maka bisa dipastikan sang kecoa akan menemui ajalnya.

Aku jadi berpikir ada persamaan juga yah dalam hidupku dengan kecoa itu. Mungkin bukan secara harafiah badanku terbalik, tetapi bisa saja tiba-tiba kondisi ekonomi keluargaku berbalik 1800, atau kondisi imanku berada di level terendah, atau mungkin studiku lagi kacau balau, hubunganku dengan orang lain (pacar, orang tua atau sahabat) lagi kacau karena suatu masalah, dan “posisi” terbalik lainnya. Bukankah sama aja yah kondisinya?

Berjuang hingga akhir, mungkin itulah yang bisa aku pelajari dari sang kecoa sebelum dia menemui ajalnya (makasih yah kecoa….hehehehhe). Kecoa itu gigih berusaha walaupun akhirnya aku balikan lagi tubuhnya, hingga akhirnya dia terlalu lelah untuk berusaha. Tetapi jangan salah, ada juga loh kecoa yang aku “begitukan”, berhasil membalikan tubuhnya dan lari dari kejaranku, dan tetap hidup!

Perjuangan memang sangat berat, akan tetapi perjuangan itu pasti menghasilkan. Perjuangan memberikan kita kesempatan untuk tetap “hidup”.

Aku coba membayangkan seandainya aku berhenti berjuang untuk tugas akhirku, mungkin besok atau sampai kapanku aku enggak akan bisa sidang untuk kelulusan. Seandainya saja aku berhenti berjuang untuk belajar mungkin aku enggak akan bisa mendapatkan sesuatu yang berharga. Seandainya aku berhenti berjuang untuk memperbaiki hubunganku dengan orang-orang terdekatku, pasti aku telah kehilangan mereka. Dan seandainya aku berhenti untuk berjuang mengejar pemulihan mungkin untuk selamanya aku dalam keterpurukan.

Kayaknya segala sesuatu butuh perjuangan deh, bahkan hal sederhana seperti bernafas juga membutuhkan perjuangan, berjuang untuk mendapatkan oksigen sebanyak dan secukup mungkin untuk paru-paru kita. Seandainya saja kita merasa malas untuk bernafas apa jadinya coba?

Untuk sebuah hubungan, akan sangat terasa perjuangan itu. Bagaimana kita berusaha untuk tetap kontak dengan orang terdekat kita (pacar, keluarga, sahabat, de el el). Bagaimana kita berusaha untuk saling menjaga hubungan kita satu sama lain. Berjuang untuk tidak menyakiti satu sama lain secara sengaja maupun tidak dan berjuang untuk memperbaiki hubungan yang agak retak, retak atau sudah hancur sama sekali. Dan enggak jarang lho yang pada akhirnya cenderung untuk menyerah dan pasrah pada keadaan.

Saat kecoa itu pasrah dan menerima keadaan, maka bisa dipastikan sang kecoa itu mati. So gimana dengan kita, apakah saat kita menyerah dan pasrah kita akan mati juga?

Bisa iya, bisa tidak. Saat kecoa itu sudah kelelahan, dia diam tergeletak tak berdaya dengan tatapan memohon belas kasihan ke aku (hahaha… masa sih). Bisa jadi selamat karena aku berbaik hati membalikan tubuhnya lagi, atau karena aku menyemangati dia untuk berusaha lagi (wahhh..lebay deh….hehehehhe)

Ternyata saat memandang ke pribadi yang tepat, saat itulah muncul pengharapan baru, kekuatan baru mungkin kesempatan untuk “hidup” yang baru. Saat kita memandang kepada Dia, bisa jadi Dia dengan cepat membalikan “tubuh” kita. Bisa juga dia kasih semangat ke kita untuk tetap berusaha segenap tenaga.

Seringkali kita menunggu untuk menjadi terlalu lelah dulu baru bersandar kepada Dia. Padahal kalo saja kita memandang Dia lebih cepat, lebih cepat juga kita akan pulih dan lebih cepat kita akan mampu membalikkan “tubuh” kita.

FOSters, kalian tahu kalo Allah sanggup membalikan keadaan kita yang terpuruk dengan cepat, Dia sanggup melakukan pemulihan dengan cepat, bahkan Dia sanggup bukan saja mengembalikan kondisi kita, tetapi membawa kita ke level yang lebih tinggi.

Tetapi kenapa kadang seakan-akan God “menunggu” untuk melakukan semuanya itu, Apa sih yang Dia tunggu? kenapa Dia harus “menunggu” untuk melakukan semuanya itu?

Bagiku 2 hal, pertama ada karakter yang sedang dia bentuk dan yang kedua adalah Dia menunggu supaya kita terlalu lelah mengandalkan kekuatan diri sendiri, sehingga pada akhirnya kita memandang dan berseru kepada Dia. Itulah yang Dia tunggu.

Pertanyaannya adalah apakah yang sedang engkau tunggu?

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Choose to Run

1

Category : Simply Articles

Kenalkah anda dengan nama John Stephen Akhwari ? Dia adalah seorang pelari marathon yang berasal dari Tanzania. Apa yang istimewa dari si John ini, mari kita lihat.

Pada tahun 1968 diadakanlah lomba lari maraton di Mexico City. Perlombaan lari marathon ini diikuti dari berbagai negara-negara di dunia,  dan tidak ketinggalan pula Tanzania mengutus seorang pelari bernama John Stephen Akhwari  untuk ikut perlombaan lari marathon ini.

Perlombaan ini diikuti oleh sekitar seribu pelari dari berbagai negara. Tepat pada pukul 09:00 waktu setempat, dimulailah lomba lari ini. Para pelari dari berbagai negara memulai startnya dan langsung melesat dengan cepat. Semuanya berlari sekuat tenaga termasuk John Stephen Akhwari. Untuk sementara John menempati urutan terdepan.

Di tengah-tengah perlombaan,  John Stephen Akhwari ini mengalami kecelakaan, dia terjatuh mengakibatkan kakinya terluka cukup parah hingga mengeluarkan darah, yang mengakibatkan dia harus berhenti dan harusnya dia nggak bisa melanjutkan perlombaan karena cedera kaki yang cukup serius. Saat John sedang berhenti, beberapa pelari dibelakangnya sedikit demi sedikit menyusul. Setelah beberapa lama, pelari 1,2,3,4 sampai 999 sudah sampe finish. Setelah dipastikan tidak ada yang akan memasuki finish lagi, para panitia menutup perlombaan kemudian dilanjutkan dengan acara penyerahan hadiah kepada para pemenang.

Karena perlombaan sudah selesai maka panitia mencabuti umbul-umbul dan alat-alat yang digunakan untuk menunjang perlombaan lari, para penontonnya pun juga sudah ada beberapa yang pulang, karena memang hari telah larut.

Tiba-tiba, tampak dari kejauhan terlihat ada seorang pelari yang tampak kelelahan tetapi tetap berjuang untuk berlari. Dia tampak kelelahan dan kesakitan. Dan ternyata pelari itu adalah John Stephen Akhwari yang di tengah perlombaan tadi terjatuh.

Dengan terseok-seok, dengan kaki terluka dan mengeluarkan darah dia terus berlari hingga akhirnya sampai finish.

Setelah sampe finish, dia banyak di kerumunin para wartawan, banyak kamera-kamera dari stasiun TV seluruh dunia meliputnya. Ada salah seorang wartawan bertanya ke dia “Kenapa kamu lanjutkan perlombaan ini? Jika kamu berhentipun pasti negara kamu akan memakluminya.” Tanya si wartawan itu.

lalu John Stephen Akhwari  menjawab dengan lantang “SAYA DIKIRIM OLEH NEGARA SAYA BUKAN UNTUK MEMULAI PERLOMBAAN INI, SAYA DI KIRIM OLEH NEGARA SAYA UNTUK MENGAKHIRI PERLOMBAAN INI”.

Mantab guys, John Stephen Akhwari  terkenal bukan karena dia berhasil menjuarai perlombaan tersebut, tetapi karena berhasil menyelesaikan hingga akhir apapun yang terjadi. Walaupun jadi yang terakhir, tetapi dia tetap memasuki finish. Cerita ini sudah pernah saya dengar sebelumnya, dah bahkan videonya-pun beredar luas di Youtube, tapi sekali lagi, kisah nyata ini kembali memotivasi saya dan memberikan saya pengertian untuk menyelesaikan hingga akhir. Setia hingga akhir. Jangan pernah menyerah dan mandek di tengah jalan, dan jangan mau dipengaruhi oleh kondisi.

Hal ini sungguh saya rasakan saat sedang berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat kelulusan. Perjuangan yang saya lalui bukanlah hal mudah, sangat menyita tenaga, pikiran, waktu, kesehatan bahkan ongkos (hehehhe…), tetapi satu hal yang ada di pikiran saya adalah setia hingga akhir. setia untuk menikmati prosesnya, setia untuk “berlari” dan selalu bangkit di setiap kejatuhan saya. Dan akhirnya di batas terakhir pendaftaran sidang saya berhasil daftar sidang.

Pas banget… Indah pada waktunya

Kesetiaan, perjuangan dan kepercayaan akan selalu berbuah manis. Aku sungguh merasakan ayat favoritku membimbing setiap langkahku. Dan kedua ayat yang aku tulis di tugas akhirku, sebagai ayat kehidupan dan ayat kekuatan sungguh sangat kurasakan.

I have the strength to face all conditions by the power that Christ gives me

(Philippians 4:13)

He has set the right time for everything. He has given us a desire to know the future, but never gives us the satisfaction of fully understanding what he does.

(Ecclesiastes 3:11)

Aku percaya segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberikan kekuatan kepadaku. Dan aku sangat yakin segala sesuatu indah pada waktunya. Dan semuanya ini dapat kulalui karena kupilih untuk tetap berlari dan kupilih untuk percaya penuh bahwa Yesus menyertai setiap langkahku saat kuberlari. Tetaplah berlari, karena hal itu tidak akan sia-sia.

…..Yesus kekuatan di hidupku

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Cara Membunuh Tanpa Rasa Bersalah

1

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Darah di kapaknya terlihat tak nyata, cairan berwarna merah kental yang menetes perlahan dari kapaknya terlihat seperti air. Tapi sosok yang tergeletak di depannya sangatlah nyata, sosok yang bersimbah darah dan perlahan mendingin.

Raskolnikov termenung, rencana yang disusunnya berhasil. Akhirnya sampah dunia, Alyona Ivanovna, si tukang gadai kikir itu akhirnya tewas. Dunia seharusnya menjadi lebih baik dan uang milik Ivanovna bisa digunakannya untuk kebaikan. Paling tidak,itulah rencananya semula…

Orang yang tidak berguna dan merugikan dunia sebaiknya dibunuh saja demi kebaikan dunia ini. Dan Ivanovna memenuhi deskripsi rencananya. Sebagai orang yang kikir dan dibenci, dunia akan lebih senang jika Ivanovna mati. Dan uang yang dikumpulkannya bisa digunakan untuk kebaikan.

Tapi, Raskolnikov tidak tenang, rasa bersalahnya mengejarnya terus dan membuatnya ingin mengakui kejahatannya, sekalipun dirinya sama sekali tidak dicurigai polisi dan dia bisa bebas.

 

Cerita di atas adalah cerita dari novel Rusia abad 19, Crime And Punishment karangan Fyodor Dostoyevsky yang menceritakan seorang pemuda Rusia yang membunuh seorang tukang gadai karena pikirannya yang rasional beranggapan kalau wanita itu lebih baik mati. Tapi rasa bersalahnya menghantui hidupnya terus menerus, sampai akhirnya dengan dorongan dan dukungan Sonya, seorang wanita yang terpaksa menjadi pelacur tapi masih menjadi seorang Kristen, Raskolnikov akhirnya mengakui perbuatannya ke polisi dan dihukum di Siberia.

( cerita di atas saya tulis dengan kata-kata sendiri dan bukan terjemahan langsung dari bukunya)

 

Tentu saja, cerita di atas hanyalah novel klasik belaka dan pastinya tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Lagipula, mana ada orang bodoh yang dengan sukarela masuk penjara hanya karena tidak kuat mengahadapi rasa bersalah. Atau ada?

Polisi-polisi di kantor polisi kota Phoenix, Arizona, sangat terkejut dan terheran – heran ketika seorang pria paruh baya masuk ke kantor mereka dan mengakui pembunuhan yang dilakukannya 20 tahun yang lalu. Tidak ada petunjuk yang mengarah ke pria itu dan polisi sendiri sudah memasukkan kasus pembunuhan itu ke dalam kategori “cold case”, kasus yang tidak terselesaikan karena kurangnya petunjuk. Seandainya pria itu tidak mengakui perbuatannya, kasus itu tidak akan pernah terselesaikan dan pria itu akan tetap bebas.

Tapi, seperti Raskolnikov, Kenneth Jackson, tidak pernah bebas. 20 tahun lalu dia membunuh tetangganya, seorang kakek berumur 78 tahun, karena Kenneth membutuhkan uang untuk kecanduan obat-obatannya. Kenneth kemudian melarikan diri ke California, membangun hidupnya dari nol lagi. Mendapat pekerjaan, sembuh dari kecanduan dan mejalani hidup yang baik. Tapi, rasa bersalah itu terus membuntuti sampai akhirnya dia menyerahkan diri ke polisi. Sekalipun tahu bahwa hukuman untuk pembunuhan dan perampokan yang dilakukannya berarti hukuman mati atau seumur hidup di penjara, tampaknya bagi Kenneth hidup dengan rasa bersalah lebih menyedihkan.

Orang bodoh? Mungkin sudah pikun karena usia yang setengah baya? Paranoid? Mungkin…..

Seandainya kita adalah Kenneth,kebanyakan dari kita akan memilih bersembunyi daripada bertanggung jawab.

Rasa bersalah? Tapi aku tidak bersalah, aku membunuhnya karena kecanduan obat…itu bukan salahku..

Hukuman? Aku sudah hidup dengan baik selama 20 tahun ini, aku sudah menebus kesalahanku

Rasionalisasi? Ah, korbannya juga sudah tua, seandainya tidak kubunuh pun, paling dia hanya hidup 2-3 tahun lagi.

Oh, kita punya banyak alasan untuk menyapu rasa bersalah kita ke bawah karpet, menutupinya dengan perabot mahal dan patung indah. Atau, kalau kita cukup pintar, kita bisa mengubah rasa bersalah itu menjadi piala kebanggaan yang kita taruh dalam kotak kaca dan dipamerkan bagi setiap tamu yang datang.

 

Ya, sebagian orang menemukan cara untuk membunuh tanpa merasa bersalah!

Caranya? Mudah….jadikan pembunuhan itu sebagai perbuatan mulia! Perbuatan baik yang membantu membuat dunia ini lebih baik.Seperti Raskolnikov, kita merasionalisasi dosa yang kita lakukan dengan menyebutnya sebagai perbuatan baik yang membuat dunia menjadi lebih indah. Itu bukan hal yang sulit kok, umumnya kita tidak mau menjadi tokoh jahat, kita semua ingin menjadi pahlawan kebenaran. Yang kita perlukan hanyalah sedikit logika dan rasionalisasi untuk menutupi dosa kita.

Dan mungkin tidak ada yang lebih baik dalam seni “mempercantik dosa” selain Hitler. Bagi Hitler, pembunuhan orang-orang yang cacat, orang Gypsy dan Yahudi dilakukannya demi kebakan dunia ini. Itu bukanlah pembunuhan, tapi pembersihan dunia dari unsur-unsur yang jelek dan merugikan. Orang-orang cacat bukanlah korban di mata Hitler, tapi sampah genetis yang harus dimusnahkan supaya tidak mengotori umat manusia. Tehnik pertama “mempercantik dosa” ? Jadikan korban dosa kita sebagai pihak yang jahat. Itu tidak sulit, lagipula kebanyakan dari kita terbiasa untuk hanya melihat sisi jelek dari seseorang. Tentu saja, ketika kita menempatkan korban dari dosa kita sebagai pihak yang jahat, kita akan menjadi pihak yang benar dan apapun yang kita lakukan untuk membersihkan “kejahatan” adalah sah dan bukan dosa bahkan perbuatan mulia.

Dan jutaan orang di Eropa meninggal karena seorang Hitler, belum termasuk jutaan lainnya yang meninggal akibat langsung maupun tidak langsung Perang Dunia 2 yang dikobarkannya.

Walaupun saya memakai tema pembunuhan dalam cerita ini, tapi sebenarnya semua dosa bisa kita percantik dengan rasionalisasi menjadi piala mulia, dan seringkali tanpa kita sadari. Mengakui dosa sama dengan mengakui kita adalah orang jahat dan salah, dan tidak ada dari kita yang suka melakukan hal itu ( kecuali mungkin orang-orang yang punya kecenderungan depresi dan menyalahkan diri sendiri). Dan kita merangkai berbagai alasan untuk meringankan, menghilangkan bahkan mempercantik dosa kita.

“ Ah, itu kan cuma dosa kecil, dianya juga ga rugi apa-apa ”

“ Tapi, saya cerita-cerita lagi ke orang lain bukan untuk ngegosip. Saya justru ingin membantu dengan  mencari tahu pendapat orang-orang lain mengenai masalahnya ”

“ Itu bukan selingkuh, hanya kesenangan semalam. Itu kan diperlukan kalau kehidupan pernikahan membosankan “

“ Ah, perusahaan saya sendiri juga suka menipu pajak, saya ambil uangnya sedikit anggap saja karma dan hukuman untuk mereka “

“ Apa boleh buat, saya terpaksa menyuap polisi karena saya terburu-buru harus ke rumah sakit untuk menjaga mama saya “ ( Ini alasan saya dulu waktu nyuap polisi ^^ )

“ Kalau dia tidak kita bunuh, dia akan menyesatkan lebih banyak orang “

“ Bagus kan dia saya perkosa? Dia jadi bisa terkenal masuk TV” ( alasan paling konyol yang pernah saya baca )

Otak kita punya kemampuan untuk mebuat berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan kita. Dan kita sendiri punya keinginan untuk menghindari menghadapi kesalahan kita, bagi sebagian orang keinginan menghindar itu bahkan begitu besar sampai mereka mau mempercayai alasan paling konyol atau tidak masuk akal sekalipun.

Tapi dosa tetaplah dosa, sebagus apapun kita hias dengan kata-kata bijak, sekalipun kita terpaksa melakukan hal itu, sekalipun kita melakukan ( menurut pandangan kita) untuk kebaikan, dosa tetaplah dosa.

Jangan kubur rasa bersalah dan taruh nisan kata-kata bijak atau patung penghargaan di atasnya.

Jangan sembunyikan pelanggaran ( Amsal 28:13)

Dan berhati-hatilah jangan sampai kita ditipu pikiran kita sendiri, ujilah diri kita setiap waktu.

Siberia itu dingin, penjara itu ga enak, tapi hidup dengan menipu diri bukanlah hidup.

 

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Lilin Di Ruangan Ber-AC

Category : Simply Articles

Pernah nyoba nyalain lilin di dalam ruangan ber-AC? Repotnya luar biasa loh.. dijamin pasti nggak sampai hitungan menit, lilin itu udah mati lagi.

Ngomong-ngomong, ngapain yah kurang kerjaan nyalain lilin di ruang ber-ac? Yang udah pasti bakalan susah. Mendingan pilih salah satu, nyalain lilin tapi AC-nya dimatiin dulu atau nyalain AC tapi lilinnya nggak usah dinyalain.

Bukannya kurang kerjaan, tapi hal ini aku alami waktu menghadiri perayaan natal di bulan Januari (wah.. masih ada aja perayaan natal.. Hehehhe). Yap, pada waktu penyalaan lilin, susahnya bukan main, mengingat ruangan itu adalah ruangan ber-AC dan posisi duduk saya tepat di bawah AC. Repot tenan rek, beberapa kali lilin itu mati, sehingga harus minta api lagi ke sebelah saya. Udah gitu perlu perlindungan ektra untuk menjaga lilin itu supaya nggak kena angin dari ac itu dengan tangan, dan nggak jarang juga tangan saya kepanasan karena terlalu dekat dengan apinya, repotnya…..

You know guys, aku jadi sadar bahwa komitmen kita seringkali sama dengan lilin yang dinyalakan itu. Bersinar terang dan begitu indah saat dinyalakan. Tetapi satu hal juga yang jangan kita lupakan bahwa kondisi lingkungan kita sama dengan ruangan ber-AC itu. Yang walaupun nyaman, seringkali membuat lilin itu mati. Bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali membuat lilin itu mati sehingga harus dinyalakan kembali dengan mencari sumber api yang masih menyala.

Berapa banyak komitmen yang kita dengungkan dengan iringan semangat di awal tahun yang harus berakhir dengan ketidaktaatan di akhir tahun? Akupun juga sadar, bahwa lebih mudah mengawalinya daripada menjaganya hingga tetap menyala hingga akhir. Seringkali janji tinggallah janji, komitmen hanyalah bertahan beberapa bulan. Menyesal ? Biasanya terjadi di akhir tahun (hayooo ngaku..hehehhe)

Kita sama-sama belajar kok, dan akupun juga sedang belajar mengenai hal itu. Memang tidak semudah membuat komitmen di awal, tetapi walaupun begitu kita nggak boleh menyerah dengan keadaan “AC” itu. Walaupun angin begitu kencang, ruangan begitu dingin, dan banyak orang yang menyerah untuk tetap menjaga lilinnya, lilin kita harus tetap menyala. Lindungi lilin itu dengan tangan, walaupun sedikit sakit dan panas, supaya lilin itu akan terus menyala. Walaupun seringkali dihadapkan dengan keterbatasan waktu, tempat dan memori otak manusia (alias sering lupaan…) kita harus tetap berusaha melakukan komitmen yang kita ucapkan dari bibir dan hati kita. Walaupun keadaan begitu nyaman untuk kita mengingkari komitmen kita sendiri, berusahalah membuat diri kita keluar dari kenyamanan kita untuk melaksanakan komitmen itu.

Satu hal simpel yang sedang saya perjuangkan di tahun 2011 adalah untuk bangun sepagi mungkin supaya dapat menyapa dan mendengar Tuhan di pagi hari dan tidak terlambat untuk beraktifitas. Dengan semangat yang berapi-api saya berusaha begitu mungkin, dengan menetapkan keinginan hati untuk bangun pagi plus weker di hape yang dibuat sekencang mungkin suaranya ditambah doa minta bantuin untuk dibangunin di pagi hari. Dan tibalah pagi hari yang dingin, karena memang semalam hujan lebat, kasur begitu lembut untuk membuat diri saya betah, wah tantangan berat. Tapi ingat, saya harus menjaga lilin itu tetap menyala, dan pada akhirnya walaupun lebih enak untuk tidur, saya bangunkan diri saya, berdoa dan bersiap memulai hari. Satu hari berhasil, lilin tetap menyala.. Amien..

Nah pertanyaan selanjutnya, gimana kalau lilinnya mati? Ada pilihan juga, pasrah dengan keadaan dan membiarkan lilin itu tetap mati atau mencari sumber api di sekeliling kita untuk menyalakan kembali api itu. Artinya adalah saat kita “gagal” untuk melakukan komitmen itu pada satu hari, jangan menyerah untuk hari berikutnya, carilah sumber api untuk memberikan kita api yang baru. Minta motivasi dari sahabat-sahabat rohani kita, dari gembala kita, dari pacar kita, dari orang tua kita atau langsung dari Tuhan. Jangan sampai api yang padam itu kita biarkan tetap padam.

Begitu sulitnya menyalakan lilin di ruangan AC jangan sampai membuat kita menyerah untuk menyalakan lilin itu, justru itulah saat yang tepat untuk kita belajar proses dari kesetiaaan, ketekunan dan perjuangan. Karena yang namanya orang hidup adalah orang yang berjuang, dan tetap milikilah sebuah komitmen, karena dengan komitmen kita dilatih untuk menjadi pribadi yang luar biasa.

Nyalakanlah lilinmu, jaga agar tetap menyala, lindungi dari apapun, jika padam carilah sumber api di sekelilingmu dan nyalakan kembali…. Walaupun sekencang apapun angin dari AC itu, walaupun senyaman apapun ruangan AC itu, walaupun seberat apapun kondisi dirimu…

“Jangan padamkan roh “ 1 tesalonika 5:19
Tetap bersinar dan jadilah sumber api bagi orang lain… Be Blessed !!

Oleh KSW_FOS Community

Ketika Saya Jatuh Cinta

Category : Simply Articles

Saat saya menyukai seseorang: perhatian saya terserap padanya, terus-terusan membicarakannya (pada kasus saya, hanya pihak tertentu yang saya ceritakan soalnya takut ketahuan :P), pokoknya dia, dia, dan dia.

Nah, sekarang saya sedang jatuh cinta. Yang seharusnya terjadi, hanya yang saya cinta ini yang menjadi segala-galanya. Namun nyatanya…

Untuk saat teduh saja susahnya minta ampyuuuuun, lalu saya katakan saya cinta? Padahal karena cinta-Nya, Dia berikan nyawa-Nya buat saya.  Jika pasangan saya seorang yang suka bohong, ingkar janji melulu, suka ngomel-ngomel padahal saya gak salah, gak punya waktu buat saya, well saya mana tahaaaaaaaan!!! >,< Tapi Yesus gak pernah menyerah terhadap saya. Ia tetap setia walau saya super duper menyebalkan. Ia menerima seorang manja yang terus-terusan merengek pada-Nya. Ia memahami saya yang gak tahu malu (lagi dan lagi melakukan kesalahan, terus minta maaf lagi dan lagi pada-Nya).

Dia mencintai saya dengan kasih yang sempurna. Saya marah, kecewa, takut bukan main, lalu dengan emosi yang memuncak menuduh Dia, menyalahkan-Nya, cemberut dan cuekin Dia, lalu karena *alasan* sibuk dan capek, saya cuma sapa Dia pas mau makan, Dia tetap cinta saya! Dia menegur saat saya salah, menunjukkan apa yang seharusnya saya lakukan. Dia benar-benar mencintai saya dengan kasih yang sempurna.

Lagipula, Dia gak pernah bohong! Semua janji, Dia tepati. Semua kata, bukan dusta.

Dia punya banyaaaaaaak sekali pernyataan romantis buat saya: (Yesaya 43:4a) ”Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau… Masa depan yang berbahagia bersama-Nya (Yeremia 29:11). Ketenangan saat begitu khawatir (Matius 6:34), dan banyaaaak hal lainnya :).

Yang juga sangat menyenangkan, dia paling tahu cara menyentuh hati saya: dengan surprise yang sangat manis! Memberikan lebih dari apa yang saya pikir dan duga (1 Korintus 2:9) ^^.

Airmata dari pipi yang menganak sungai di bahu-Nya, ketakutan yang menyesakkan, sakit, kecewa, lelah, Dia yang menanggungnya, demi saya! Dia menanam bunga-bunga sukacita, mewarnai hari-hari saya dengan kegembiraan yang belum pernah saya dapatkan dari siapapun, dari apapun!

Ah, Kekasih… Aku memikirkan-Mu dengan sangat rumit. Bagaimana mungkin ada cinta yang sempurna, dari Pribadi yang sempurna, yang utuh untukku? Banyak sekali hal-hal yang menggoda, yang memungkinkan aku untuk jauh dari-Mu. Namun Kau menggenggamku erat, membuka mataku tentang hal-hal yang tidak kekal. Menyakitkan sekali mendengar cibiran orang-orang tentang-Mu, tapi Kau mengajarku untuk tetap mengasihi mereka. Sangat mengherankan! Tapi, itulah Engkau, yang selalu bekerja dengan cinta :).

Saya seorang perempuan yang luber dengan perasaan,yang bahkan seringkali tidak dapat memahami perasaan saya sendiri! Perempuan dengan logika yang sulit… Dan Dia mencintai saya dengan segala yang ada pada-Nya, mencintai segala yang ada pada saya. Maka yang harus saya lakukan: berdamai dengan diri sendiri! Berhenti mengganggap diri tak layak untuk dicintai oleh Dia yang luar biasa, berhenti untuk menyesali kesalahan yang lalu, dan berkomitmen untuk menjadi kekasih yang lebih baik untuk-Nya :).

Yesus, ada satu lagu dari Leeland yang aku dan Engkau banget! Ini dia:  When the cares of this world darken my day, You are the light that shines and shows me the way… when my sin is all that I can see, Your grace remains the shelter that I seek… And when my weakness is all I can give, Your gentle Spirit give me strength again… Oh, the beauty of Your majesty on the cross You showed Your love for me! Beautiful Lord, awesome and mighty, I’m captured by this love I see :)

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Mr Hyde dan Dr. Jeckyll??

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde adalah nama novel klasik abad 19 karangan R.L Stevenson. Novel ini menceritakan seorang dokter bernama Henry Jekyll yang menciptakan sejenis obat khusus. Ketika Dr. Jekyll meminum obat ramuannya ini sendiri, muncul kepribadian baru dalam dirinya. Tapi, kepribadian baru yang bernama Edward Hyde ini adalah kepribadiannya yang jahat. Ramuan obatnya memunculkan kepribadian jahat yang membunuh orang – orang dengan kejam. Di akhir hidup Dr Jekyll, dia sepenuhnya berubah menjadi kepribadiannya yang jahat, Mr Hyde.

Panas….kotor….bau pesing dan kotoran manusia….muka-muka yang putus asa dan setengah gila…beberapa yang masih mempunyai keberanian,atau mungkin keputusasaan, memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan meminta teman sebelahnya mencekiknya atau menceburkan diri ke laut saat ada kesempatan. Dengan rantai yang mengikat kaki dan tangan mereka, tidak banyak gerakan yang bisa mereka lakukan. Tapi, seandainya pun tidak ada rantai yang mengikat mereka, ruangan yang mereka diami begitu sesak. Setiap orang duduk bersandar pada lutut orang di belakangnya. Tidak ada cukup tempat untuk berbaring. Tidak ada WC kecuali beberapa ember yang ditaruh di sudut-sudut ruangan. Tidak ada udara segar selain bau badan dan kotoran yang menumpuk berminggu-minggu.

Abad 18 dan 19 ditandai dengan berkembangnya perdagangan budak dari Afrika sebagai pekerja di koloni – koloni Eropa di Amerika. Perdagangan budak merupakan usaha yang sangat menguntungkan dan setiap kapten kapal berusaha mengangkut budak sebanyak mungkin. Budak–budak itu ditempatkan saling berdempetan tanpa tempat berbaring untuk menghemat tempat. Setiap budak mendapat tempat yang sangat sempit, sekitar ¼ meter persegi, kira-kira seluas 3 ubin keramik di rumah kita. Untuk mencegah mereka memberontak, atau bunuh diri dengan melompat ke laut, budak-budak ini seringkali dirantai ke lantai kapal. Karena itu, para budak mengeluarkan kotoran di tempat mereka duduk. Tapi sekalipun mereka tidak dirantai, yang tersedia hanya ember yang ada di sudut ruangan dan tiap budak harus berjalan melewati ruangan yang penuh sesak untuk mencapai ember itu, lebih mudah untuk tetap di tempat. Makanan diberikan seminimal mungkin untuk menghemat biaya.

Perjalanan dengan kapal memakan waktu 1-2 bulan. Dalam kondisi seperti ini, kebanyakan budak memilih untuk bunuh diri dengan melompat ke laut jika mereka tidak dirantai, atau meminta teman sebelahnya untuk mencekik mereka. Atau, para budak ini dibunuh teman sebelah mereka sendiri dengan sengaja untuk mendapat ruang yang lebih besar dan mengurangi kesesakan! Pria, wanita dan anak-anak dikurung dalam kondisi seperti ini berbulan-bulan. Dan jika muncul penyakit di kapal, bisa dipastikan semua terjangkiti. Tingginya tingkat kematian di antara para budak membuat kapten kapal membawa sebanyak mungkin budak dalam sekali perjalanan dengan harapan sekalipun ada yang mati, yang tersisa untuk dijual masih cukup banyak.

Salah satu dari pedagang budak ini adalah John Newton. John memulai karirnya sebagai pelaut pada umur 11. Terkenal karena sifatnya yang pemberontak dan perkataannya yang kasar, bahkan di antara pelaut sekalipun, membuatnya sering bermasalah dengan pelaut-pelaut yang lain. Sebagai pelaut di kapal budak, John melihat dengan mata kepalanya sendiri perlakuan pada budak – budak itu. Walaupun begitu, hal itu tidak mengusik rasa kemanusiaannya.

Perkenalan John dengan Yesus dimulai di tengah badai. Dalam salah satu perjalanannya, badai menghantam kapalnya dengan keras dan dalam keputusasaan John memanggil Tuhan. Dia selamat dari badai dan perjalanan rohaninya dimulai. Bertahun-tahun setelah badai itu, dalam kerohaniannya yang masih muda dan naik turun, John tidak berhenti dari perdagangan budak walaupun dia memperlakukan para budak dengan lebih manusiawi selama perjalanan.
Di kemudian hari, John Newton menjadi pendeta dan berteman dengan William Wilberforce, seorang politikus muda. Bersama dengan William, Newton berjuang untuk menghapuskan perdangan budak. Dan usaha mereka tidak sia-sia, Parlemen Inggris akhirnya melarang perdagangan budak dengan Slave Trade Act tahun 1807.

Tapi, yang membuat John Newton terkenal bukan hanya cerita hidupnya atau perjuangannya menghapuskan perbudakan. John Newton adalah pencipta lagu “ Amazing Grace”, lagu rohani yang mungkin paling terkenal. Lagu ini menceritakan pengampunan Tuhan yang begitu luar biasa bahkan untuk orang yang paling berdosa sekalipun. Apakah lagu ini ditulis berdasarkan penyesalan Newton ketika terlibat dalam perdagangan budak, tidak ada yang tahu karena lagu ini ditulis Newton bertahun – tahun sebelum dia aktif melawan perbudakan. Tapi, Newton mungkin orang yang paling mengerti arti kasih karunia Tuhan, arti dari Amazing Grace itu sendiri karena di masa tuanya Newton sangat menyesali keterlibatannya dalam perdagangan budak.

Dan sampai hari ini, lagu “Amazing Grace” masih menceritakan kasih karunia Tuhan yang begitu besar. Bahwa setiap orang, sebesar apapun dosanya, bisa diselamatkan. Bagi kita, dan bagi Newton sendiri, perdagangan budak adalah satu hal yang sangat kejam dan mengerikan. Dan para pelakunya, seperti Mr Hyde, adalah pribadi yang sangat jahat. Pribadi yang sangat hitam dan tak ada setitik pun warna putih. Tapi, bagi Tuhan, tidak masalah sehitam atau sejahat apapun orang itu, dia bisa diselamatkan !

Ketika kita melihat orang yang jahat dan tidak mengenal Tuhan, mungkin kita putus asa berpikir hati mereka sudah sangat tertutup. Tapi, tidak pernah ada orang yang jatuh terlalu dalam sampai tangan Tuhan tidak sangggup menjangkau. Setiap orang yang tampak di mata kita sebagai pribadi yang jahat, sebenarnya membutuhkan Obat Khusus yaitu darahNYA untuk memunculkan kepribadiannya yang baik.

PS :
Walaupun perdagangan budak sudah dilarang di berbagai negara sejak abad 19, tapi dalam prakteknya itu belum berakhir bahkan semakin bertambah banyak. Perdagangan manusia/ Human Trafficking justru semakin meningkat jumlahnya di abad 21 ini. Banyak pria dan wanita dari negara-negara miskin dijual sebagai tenaga kerja murah atau pekerja sex. Sebagian dari mereka diculik paksa, sebagian lagi terpaksa menjual dirinya sebagai pembayaran hutang, dan ironisnya sebagian lagi dijual oleh keluarga mereka sendiri karena kemiskinan. Mungkin memang tidak ada lagi kapal-kapal budak dengan rantai tangan dan kaki, tapi perdagangan budak masih berlanjut. Pria dan anak-anak dijadikan tenaga kerja dan para wanita umumnya dipaksa menjadi pekerja sex baik di negeri mereka sendiri atau dijual ke negara-negara yang mampu membayar.

 

Ditulis Oleh Tukang Bakmi